Author name: Sr. Clarisa Ayuk K, CB

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 16 Mar 2026

Senin Prapaskah IV, 16 Maret 2026Yes 65:17-21 | Yoh 4:43-54 Sekali peristiwa, Yesus berangkat dari Samaria dan pergi ke Galilea. Sebab Ia sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Setelah Yesus tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan Yesus di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu. Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, yang anaknya sedang sakit. Ketika pegawai itu mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya, lalu meminta supaya Yesus datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Maka kata Yesus kepadanya, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” Pegawai istana itu berkata kepada-Nya, “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. […] Datang kepada Yesus: Dari Kebutuhan Menuju Iman Injil hari ini menceritakan seorang pegawai istana yang datang kepada Yesus dengan kegelisahan yang sangat manusiawi: anaknya sedang sakit keras. Ia memohon agar Yesus datang menyembuhkan anaknya. Permohonan ini lahir dari kepedulian seorang ayah yang takut kehilangan. Namun Yesus menanggapi dengan sebuah pernyataan yang mengundang refleksi: manusia sering datang kepada-Nya karena ingin melihat tanda dan mukjizat. Pada zaman Yesus, banyak orang mencari-Nya karena berbagai alasan. Ada yang ingin disembuhkan, ada yang ingin melihat mukjizat, ada yang tertarik pada ajaran-Nya, dan ada pula yang sungguh ingin mengikuti-Nya. Motivasi orang datang kepada Yesus sangat beragam. Kisah pegawai istana ini memperlihatkan perjalanan iman yang menarik. Ia datang karena kebutuhan mendesak, tetapi akhirnya pulang dengan iman yang lebih dalam. Ia percaya pada sabda Yesus bahkan sebelum melihat hasilnya.Kontras ini terasa dekat dengan kehidupan kita sekarang, khususnya dalam dunia akademik. Civitas akademika, (mahasiswa, dosen, peneliti, dan tenaga kependidikan) hidup dalam berbagai motivasi. Mahasiswa belajar dengan tujuan yang berbeda-beda: ada yang mengejar cita-cita, ada yang mencari masa depan yang lebih baik, ada yang ingin membanggakan keluarga, dan ada juga yang sekadar mengikuti arus. Demikian pula dalam dunia kerja dan pelayanan di kampus: ada yang terdorong oleh panggilan, ada yang digerakkan oleh tanggung jawab, ada yang mengejar prestasi, dan ada yang bertahan karena kebutuhan.Hal yang sama bisa terjadi dalam relasi kita dengan Tuhan. Kita datang kepada-Nya dengan motivasi yang berbeda-beda. Ada yang berdoa ketika menghadapi kesulitan, ada yang mencari penghiburan ketika lelah, ada yang memohon pertolongan ketika rencana hidup terasa tidak pasti. Semua itu sangat manusiawi. Kisah Injil hari ini menunjukkan bahwa Yesus tidak menolak motivasi-motivasi awal tersebut. Ia menerima orang yang datang dengan kebutuhan. Namun Ia juga mengajak mereka melangkah lebih jauh: dari sekadar mencari bantuan menuju iman yang lebih dalam.Masa Prapaskah adalah kesempatan untuk melihat kembali motivasi kita. Mengapa kita datang kepada Tuhan? Apakah kita hanya mencari solusi bagi masalah hidup, ataukah kita sungguh ingin berjalan bersama-Nya? Dalam perjalanan iman, sering kali kebutuhan menjadi pintu masuk menuju perjumpaan yang lebih dalam dengan Allah. Pegawai istana dalam kisah ini belajar percaya pada sabda Yesus. Ia pulang dengan harapan, meskipun belum melihat bukti apa pun. Kepercayaannya menjadi nyata ketika ia mengetahui bahwa anaknya sembuh tepat pada saat Yesus berkata, “Anakmu hidup.” Dari pengalaman itu, bukan hanya dirinya, tetapi seluruh keluarganya menjadi percaya. Di tengah dinamika dunia akademik yang penuh tantangan, kisah ini mengingatkan kita bahwa iman juga adalah perjalanan. Kita mungkin datang kepada Tuhan dengan banyak alasan, tetapi Tuhan mengundang kita untuk terus bertumbuh dalam kepercayaan. Ketika kita belajar percaya pada sabda-Nya, kita menemukan kekuatan untuk melangkah dengan harapan, bahkan ketika hasilnya belum terlihat.Semoga selama Masa Prapaskah ini, kita berani menata kembali motivasi hati kita. Datang kepada Tuhan bukan hanya ketika kita membutuhkan sesuatu, tetapi juga karena kita ingin hidup bersama-Nya. Dari relasi yang semakin dalam itu, karya, studi, dan pelayanan kita di dunia akademik dapat menjadi sarana menghadirkan harapan bagi banyak orang. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 27 Feb 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Jumat Prapaskah I, 27 Februari 2026Yehezkiel 18:21-28 | Matius 5:20-26 Dalam khotbah di bukit berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kalian telah mendengar apa yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; barangsiapa berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahan di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahan di depan mezbah itu, dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahan itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim, dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya, dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas”. Lebih dari Sekadar Benar: Pertobatan HatiDalam Injil hari ini, Yesus berkata: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”. Pada zaman Yesus kala itu, ahli Taurat dan orang Farisi dikenal sebagai orang yang taat hukum. Mereka menjaga aturan dengan sangat ketat dan cermat. Yesus memperingatkan kita akan sesuatu yang lebih dalam bahwa ketaatan lahiriah saja tidak cukup jika di kedalaman hati tidak dibaharui. Bukan hanya soal aturan dilarang membunuh atau soal pelanggaran-pelanggaran lainnya yang besar tetapi Yesus mengingatkan kita soal kemarahan, soal sikap hati yang merendahkan dan melukai sesama, soal pikiran jahat lainnya terhadap orang lain. Yesus memindahkan pusat perhatian kita dari yang terfokus hanya tindakan-tindakan luar yang dilakukan untuk lebih memasuki disposisi batin karena pertobatan sejati dimulai dari hati. Kontras ini terasa nyata dalam kehidupan dunia akademik saat ini. Kampus adalah ruang intelektual yang menjunjung standar, aturan, etika, dan prosedur. Kita belajar membedakan benar dan salah, menyusun argumen yang logis, menilai dengan objektif. Semua itu penting. Namun tanpa disadari, kita bisa merasa “benar” secara sistem, tetapi menyimpan kemarahan, kekecewaan, atau luka dalam relasi. Konflik antar rekan kerja, perbedaan pendapat dalam forum ilmiah atau dalam rapat, kesalahpahaman dalam pelayanan mahasiswa, atau komunikasi yang kurang terbuka satu dengan yang lain dapat menimbulkan jarak batin. Kita mungkin tetap profesional di luar, tetapi dalam hati belum tentu damai. Yesus mengingatkan kita: “Jika engkau mempersembahkan persembahan di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahan di depan mezbah itu, dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahan itu. Yesus menekankan bahwa relasi dengan sesama itu penting, salah satu sebuah keutamaan daripada sekadar formalitas religius. Sejauh mana pengenalan dan kedekatan kita dengan Tuhan dapat terlihat bagaimana kita membangun relasi dengan sesama. Masa Prapaskah adalah undangan untuk berhenti dan melihat ke dalam. Pertobatan bukan hanya memperbaiki doa-doa atau menambah praktik-praktik rohani, tetapi berani mengakui kemarahan yang belum diselesaikan, ego yang masih ingin menang sendiri, atau sikap defensif yang menghambat dialog. Pada zaman Yesus, hukum menjadi identitas religius. Pada zaman kita, kompetensi dan pencapaian sering menjadi identitas utama. Namun Yesus mengajak kita melampaui keduanya. Ia memanggil kita untuk memiliki hati yang lembut, yang berani meminta maaf, yang bersedia berdamai, dan yang tidak membiarkan kemarahan berakar. Dalam kehidupan civitas akademika, pertobatan hati dapat berarti keberanian untuk membuka komunikasi, memulihkan relasi kerja, memberi ruang dialog yang jujur, dan menghargai martabat setiap pribadi. Ketika hati dibarui, keputusan menjadi lebih bijaksana, pelayanan menjadi lebih manusiawi, dan komunitas akademik menjadi ruang yang lebih sehat. Semoga selama perjalanan Prapaskah ini, kita tidak hanya menjadi pribadi yang “benar” secara aturan , tetapi juga benar dalam hati . Dari hati yang diperbarui, lahirlah damai. Dan dari damai itu, karya kita menjadi kesaksian nyata akan kasih Allah. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 26 Feb 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Kamis Prapaskah I, 26 Februari 2026Kitab Ester 4:10a.10c-12.17-19 | Matius 7:7-12 Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Mintalah, maka kamu akan diberikan; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta akan menerima, setiap orang yang mencari akan mendapat, dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu akan dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya”. Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Kerendahan Hati & KebaikanDalam bacaan Injil di atas dan juga bacaan pertama hari ini menarik untuk direnungkan. Kisah Ratu Ester dalam bacaan pertama memperlihatkan momen hidup yang sangat manusiawi. Ia berada dalam posisi berkuasa, tetapi juga dalam situasi genting. Umatnya terancam. Ester tahu bahwa menghadap raja tanpa dipanggil bisa berakibat kematian. Di titik itulah ia tidak langsung bertindak gegabah. Ia berpuasa. Ia merendahkan diri di hadapan Allah. Ia memohon penyertaan Tuhan dengan air mata dalam keheningan. Pada zaman itu, kekuasaan raja begitu mutlak. Mendekat kepada raja tanpa izin adalah sebuah risiko besar. Dari kisah Ratu Ester kita belajar bahwa sebelum melangkah ke ruang publik, seseorang perlu terlebih dahulu masuk ke ruang batin bersama Tuhan. Kerendahan hati menjadi kekuatannya. Strategi dan segala rencana yang tersusun baik sekalipun tidak cukup; kita perlu menyadari bahwa kita butuh penyertaan Allah.Yesus dalam Injil menggemakan sikap yang sama: “Mintalah, carilah, ketoklah” Doa adalah tindakan orang yang rendah hati. Orang yang mau meminta adalah orang yang mengakui bahwa dirinya tidak sepenuhnya mampu. Dalam doa, kita tidak tampil sebagai sosok yang serba tahu, tetapi sebagai anak yang percaya pada Bapa. Kontras ini terasa nyata dalam kehidupan civitas akademika masa kini. Dunia universitas adalah dunia gagasan, analisis, penelitian, argumentasi, dan kompetensi. Kita terbiasa berpikir kritis, menyusun strategi, merancang program, dan mengambil keputusan berdasarkan data. Semua itu penting. Namun dalam ritme ini, kita bisa tergoda merasa cukup dengan kemampuan sendiri. Kita lupa bahwa kecerdasan tidak menggantikan kebijaksanaan, dan strategi tidak selalu menggantikan kerendahan hati. Di Masa Prapaskah, Sabda Tuhan hari ini mengundang kita untuk meneladani Ester: sebelum mengambil keputusan penting, sebelum menentukan arah penelitian, sebelum memimpin atau melayani. Beranilah berhenti dan merendahkan diri di hadapan Allah dan bertanya: apakah segala pikiran dan perbuatanku sungguh demi kemajuan hidupku dan demi kebaikan bersama? Apakah keputusan ini lahir dari kasih atau dari ambisi?Inspirasi yang sejalan dapat kita lihat dalam film Pay It Forward. Dalam film itu mengisahkan seorang anak kecil yang memulai gerakan sederhana: berbuat baik kepada tiga orang dan meminta mereka meneruskan kebaikan itu. Ia tidak memiliki kuasa besar, tetapi memiliki hati yang rendah dan tulus. Dari kerendahan hati itulah lahir perubahan yang meluas. Kerendahan hati bukan berarti pasif. Justru dari kerendahan hati lahir keberanian. Ester berani melangkah karena ia telah berdoa. Anak dalam film Pay It Forward berani memulai karena ia percaya pada kekuatan kebaikan. Yesus pun menutup ajaran-Nya dengan sebuah penegasan: ”Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”. Kerendahan hati di hadapan Allah selalu berbuah dalam relasi yang penuh hormat dan kasih kepada sesama. Semoga di Masa Prapaskah ini kita dimampukan untuk membangun budaya akademik yang tidak hanya cerdas, tetapi juga rendah hati. Rendah hati untuk belajar, rendah hati untuk mendengarkan, rendah hati untuk mengakui kesalahan, dan rendah hati untuk berbagi kebaikan tanpa pamrih. Dari hati yang demikian, keputusan-keputusan yang kita ambil akan menjadi berkat bagi banyak orang. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 24 Feb 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Selasa Prapaskah I, 24 Februari 2026Yesaya 55:10-11 | Matius 6:7-15 Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doa mereka dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.Karena itu berdoalah begini:”Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam percobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Amin. Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu”. Doa sebagai “Ruang Domestik”: Tempat Kita Menjadi Diri yang OtentikDalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan doa ‘Bapa Kami’; doa yang sudah sangat kita hafal namun jika dirasa-rasakan adalah sebuah doa yang sangat sederhana dan mendalam. Melalui doa ini, Yesus hendak mengingatkan agar kita tidak berdoa dengan banyak kata seperti orang yang tidak mengenal Allah. Pada zaman Yesus, doa sering menjadi tampilan religius: panjang, indah, dan terdengar mengesankan. Yesus justru mengajak murid-murid-Nya kembali pada inti, yaitu bahwa doa adalah relasi, bukan atraksi. Doa Bapa Kami sebagai doa yang sederhana, dekat, dan penuh kepercayaan. Di dalam doa ini, kita menyapa Allah sebagai Bapa. Sebuah sapaan yang intim, hangat, dan penuh kedekatan. Doa bukan sekadar sebuah kewajiban, tetapi sebuah “moment domestik” , ruang batin tempat kita pulang, beristirahat, dan menjadi diri yang otentik di hadapan Tuhan. Kontras ini terasa nyata dalam kehidupan civitas akademika masa kini. Dunia kampus dipenuhi ritme cepat: jadwal kuliah, penelitian, target publikasi, sistem administrasi, tuntutan layanan, serta berbagai tekanan untuk selalu produktif. Kita sering hidup di balik peran: dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, peneliti, pemimpin. Dalam ruang-ruang publik itu, kita perlu tampil profesional, terukur, dan kadang menjaga citra. Namun di balik itu semua, ada kelelahan, kecemasan, kegagalan, dan harapan yang tidak selalu dapat kita ungkapkan. Di sinilah titik dimana doa menjadi “rumah”. Dalam doa, kita tidak perlu bersembunyi. Kita boleh datang dengan jujur: dengan kegagalan, keraguan, rasa lelah, bahkan kemarahan. Tuhan tidak menuntut kesempurnaan kata, tetapi kejujuran hati. Doa menjadi tempat kita menata diri kembali, menyadari bahwa kita bukan mesin produktivitas, tetapi manusia yang dicintai. Selama Masa Prapaskah, kita diajak menemukan kembali ruang domestik ini. Ketika kita berdoa, kita belajar mempercayakan hidup: pekerjaan, studi, relasi, dan masa depan kepada Allah. Doa Bapa Kami juga mengingatkan bahwa kita tidak berjalan sendiri. Kita berkata “Bapa kami”, bukan “Bapaku”. Ada dimensi komunitas: kita dipanggil membangun relasi yang saling menguatkan di tengah dunia yang kompetitif. Selain itu, doa ini mengajarkan pengampunan: “ampunilah kami seperti kami pun mengampuni” . Ini menjadi tantangan nyata dalam kehidupan kampus: mengampuni konflik, kesalahpahaman, perbedaan pendapat, atau luka dalam relasi kerja dan studi. Tanpa pengampunan, hati menjadi keras dan doa kehilangan maknanya. Masa Prapaskah mengundang kita untuk kembali pada doa yang sederhana, jujur, dan membebaskan. Dalam ruang batin itu, kita dipulihkan. Kita belajar mengambil keputusan dengan lebih bijaksana, melayani dengan hati, dan menjalani karya akademik sebagai panggilan, bukan sekadar prestasi. Semoga selama perjalanan Prapaskah ini, kita menemukan kembali doa sebagai “rumah”. Tempat kita menjadi otentik, dipulihkan, dan dikuatkan, agar melalui kehidupan dan karya kita, kehadiran Allah semakin nyata bagi dunia. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]

Renungan

SAPA JIWA UAJY Edisi 20 Feb 2026

🕊 Renungan Sapa Jiwa CM 🕊Jumat, 20 Februari 2026Hari Jumat Sesudah Rabu AbuBacaan I; Yes 58:1-9aBacaan Injil; Mat 9:14-15 Sekali peristiwa datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka,dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa”. Puasa yang Membebaskan: Dari Aturan menuju KasihDalam Injil hari ini, murid-murid Yohanes datang kepada Yesus dan bertanya mengapa para murid-Nya tidak berpuasa. Pada zaman itu, puasa menjadi praktik religius yang sangat dihargai. Banyak orang melakukannya dengan tekun sebagai tanda kesalehan. Puasa sering dipahami sebagai kewajiban rohani yang harus dijalankan dengan disiplin. Namun Yesus memberikan jawaban yang mengejutkan. Ia berkata bahwa selama Sang Mempelai bersama para sahabat-Nya, mereka tidak berpuasa. Akan tiba saatnya Ia diambil, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Yesus tidak menolak puasa. Ia justru mengembalikan maknanya. Puasa bukan sekadar aturan atau rutinitas, melainkan relasi. Puasa adalah ungkapan kerinduan akan Allah. Ketika hati merindukan Tuhan, puasa menjadi jalan untuk membuka ruang bagi-Nya. Puasa bukan tentang menahan diri demi kesempurnaan pribadi, tetapi tentang memberi tempat bagi kasih yang lebih besar. Kontras ini terasa nyata dalam kehidupan kita sekarang. Di masa kini, puasa juga sering jatuh pada formalitas. Kita mungkin berpuasa karena kebiasaan, karena tradisi, atau karena tuntutan lingkungan. Bahkan dalam pelayanan dan karya, kita bisa merasa sudah “baik” karena menjalankan aturan. Namun di tengah ritme kerja yang cepat, target, jadwal padat, dan tuntutan pelayanan yang tidak pernah berhenti, kita bisa kehilangan makna terdalamnya. Kita berpuasa, tetapi tetap mudah marah. Kita menahan makan, tetapi tidak menahan ego. Kita mengurangi kenyamanan, tetapi tidak membuka hati bagi sesama. Sabda Tuhan mengingatkan kita melalui seruan profetis: “Berpuasa yang Kukehendaki ialah engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman.” Puasa yang sejati adalah puasa yang membebaskan. Puasa yang mengubah relasi. Puasa yang membuat kita lebih peka terhadap mereka yang terpinggirkan, lebih sabar terhadap rekan kerja, lebih peduli terhadap mereka yang diam-diam memikul beban.Di masa Prapaskah ini, kita diajak untuk berani bertanya: belenggu apa yang masih mengikat hatiku? Mungkin belenggu kesibukan yang membuat kita lupa menyapa. Mungkin belenggu perfeksionisme yang membuat kita keras pada diri sendiri dan orang lain. Mungkin belenggu sistem dan aturan yang membuat pelayanan kehilangan wajah kemanusiaan. Puasa sejati mengajak kita keluar dari diri sendiri. Ia mengundang kita untuk menghadirkan kasih dalam tindakan sederhana: mendengarkan tanpa menghakimi, memberi waktu bagi yang membutuhkan, memaafkan, dan menghidupi solidaritas. Di sinilah puasa menjadi ruang perjumpaan dengan Kristus, Sang Mempelai yang hadir dalam wajah sesama. Semoga dalam perjalanan Prapaskah ini, kita tidak hanya menjalankan puasa, tetapi mengalami pembebasan. Puasa yang menuntun kita semakin dekat dengan Tuhan, semakin manusiawi, dan semakin berani membawa harapan. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]

Scroll to Top