SAPA JIWA UAJY Edisi 20 Feb 2026

🕊 Renungan Sapa Jiwa CM 🕊
Jumat, 20 Februari 2026
Hari Jumat Sesudah Rabu Abu
Bacaan I; Yes 58:1-9a
Bacaan Injil; Mat 9:14-15

Sekali peristiwa datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka,dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa”.

Puasa yang Membebaskan: Dari Aturan menuju Kasih
Dalam Injil hari ini, murid-murid Yohanes datang kepada Yesus dan bertanya mengapa para murid-Nya tidak berpuasa. Pada zaman itu, puasa menjadi praktik religius yang sangat dihargai. Banyak orang melakukannya dengan tekun sebagai tanda kesalehan. Puasa sering dipahami sebagai kewajiban rohani yang harus dijalankan dengan disiplin. Namun Yesus memberikan jawaban yang mengejutkan. Ia berkata bahwa selama Sang Mempelai bersama para sahabat-Nya, mereka tidak berpuasa. Akan tiba saatnya Ia diambil, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Yesus tidak menolak puasa. Ia justru mengembalikan maknanya. Puasa bukan sekadar aturan atau rutinitas, melainkan relasi. Puasa adalah ungkapan kerinduan akan Allah. Ketika hati merindukan Tuhan, puasa menjadi jalan untuk membuka ruang bagi-Nya. Puasa bukan tentang menahan diri demi kesempurnaan pribadi, tetapi tentang memberi tempat bagi kasih yang lebih besar. Kontras ini terasa nyata dalam kehidupan kita sekarang. Di masa kini, puasa juga sering jatuh pada formalitas. Kita mungkin berpuasa karena kebiasaan, karena tradisi, atau karena tuntutan lingkungan. Bahkan dalam pelayanan dan karya, kita bisa merasa sudah “baik” karena menjalankan aturan. Namun di tengah ritme kerja yang cepat, target, jadwal padat, dan tuntutan pelayanan yang tidak pernah berhenti, kita bisa kehilangan makna terdalamnya. Kita berpuasa, tetapi tetap mudah marah. Kita menahan makan, tetapi tidak menahan ego. Kita mengurangi kenyamanan, tetapi tidak membuka hati bagi sesama. Sabda Tuhan mengingatkan kita melalui seruan profetis: “Berpuasa yang Kukehendaki ialah engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman.” Puasa yang sejati adalah puasa yang membebaskan. Puasa yang mengubah relasi. Puasa yang membuat kita lebih peka terhadap mereka yang terpinggirkan, lebih sabar terhadap rekan kerja, lebih peduli terhadap mereka yang diam-diam memikul beban.
Di masa Prapaskah ini, kita diajak untuk berani bertanya: belenggu apa yang masih mengikat hatiku? Mungkin belenggu kesibukan yang membuat kita lupa menyapa. Mungkin belenggu perfeksionisme yang membuat kita keras pada diri sendiri dan orang lain. Mungkin belenggu sistem dan aturan yang membuat pelayanan kehilangan wajah kemanusiaan. Puasa sejati mengajak kita keluar dari diri sendiri. Ia mengundang kita untuk menghadirkan kasih dalam tindakan sederhana: mendengarkan tanpa menghakimi, memberi waktu bagi yang membutuhkan, memaafkan, dan menghidupi solidaritas. Di sinilah puasa menjadi ruang perjumpaan dengan Kristus, Sang Mempelai yang hadir dalam wajah sesama. Semoga dalam perjalanan Prapaskah ini, kita tidak hanya menjalankan puasa, tetapi mengalami pembebasan. Puasa yang menuntun kita semakin dekat dengan Tuhan, semakin manusiawi, dan semakin berani membawa harapan. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]

Scroll to Top