Author name: Br. Damasus Agung M, FIC

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 8 Mei 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Jumat Hari Biasa Pekan V Paskah, Jumat 8 Mei 2026Yohanes 15:12—17 Membangun Komunitas Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. … Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain. (Yoh. 15:12.17). Kata-kata Yesus ini merupakan bagian pesan-pesan yang diucapkan-Nya pada perjamuan malam terakhir bersama murid-murid-Nya. Awal dan akhir petikan ini bicara tentang kasih antara Yesus dan Bapa-Nya yang menumbuhkan kasih antara Yesus dengan para murid. Pada kutipan akhir terasa harapan agar para murid saling mengasihi. Boleh diperkirakan, dalam kehidupan komunitas para pengikut Kristus yang dilayaninya, apa itu saling mengasihi menjadi soal. Inilah sebabnya penulisnya mengangkatnya sebagai pokok pembicaraan dalam suratnya. Pemecahannya menarik. Ia tidak begitu saja menyalahkan pendapat tertentu atau membenarkan pendapat lain. Yohanes menunjuk pada kehidupan Yesus sebagai wujud apa itu kasih dari pihak Allah bagi manusia. Di dalam kehidupan Yesus – termasuk penyaliban serta kebangkitannya – terwujudlah kenyataan bahwa Allah mau mendekat ke kemanusiaan. Tokoh yang amat dekat ini membawakan wajah Allah sendiri sehingga kehadiran-Nya bisa semakin dikenali. Inilah wujud nyata apa itu kasih Allah bagi manusia. Secara bersama-sama, kita sebagai umat beriman, kita berusaha melaksanakan perintah Kristus ini. Kabar Gembira tentang datangnya Kerajaan kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita, kita jadikan amanat kita sendiri. Marilah kita mohon rahmat dari Allah agar kita dimampukan mewujudkan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Bapa di Surga, selalu mengutus Roh-Nya ke dalam hati kita. Jadikanlah kami semakin penyayang yang digerakkan oleh kekuatan-Mu sendiri, dan bukan karena kekuatan diri, karena dorongan-dorongan murni manusiawi kami. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 7 Mei 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Kamis Hari Biasa Pekan V Paskah, 7 Mei 2026Yohanes 15:9—11 Kasih Yesus Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. (Yoh 15: 9—11). Di dalam Yesus, Bapa menunjukkan kasih-Nya tiada batas. Demikian juga kasih Yesus kepada pengikut-pengikut-Nya. Kasih Yesus, kasih tiada bersyarat. Kasih-Nya mengalir dari Kasih-Bapa-Nya sendiri. Allah sendirilah Kasih. Allah adalah Kasih. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16).Untuk dapat tinggal dalam kasih Yesus, Ia mengatakan, “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.” (Yoh 15:15) Panggilan untuk hidup dalam kasih ini, secara tegas dirumuskan sebagai tujuan persekutuan kita sebagai umat beriman. Bersama dengan sesama yang lain, kita sebagai umat beriman, dengan pertolongan rahmat Allah, kita membentuk suatu persekutuan persatuan dalam Yesus Kristus. Kita hidup sebagai saudara seorang terhadap yang lain, kita hendaknya berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan persekutuan umat beriman sebagai suatu persekutuan cinta kasih yang nyata. Seperti ajakan saat kita berdoa bersama, Tuhan beserta kita, sekarang dan selama-lamanya. Marilah kita semakin menyadari motivasi yang sedang berkembang dalam diri kita masing-masing. Semoga Yesus, Tuhan dan teladan kasih kita, semakin memampukan kita untuk hidup di dalam kasih-Nya. Semoga kita selalu senantiasa melaksanakan kehendak Bapa, supaya sukacita kita menjadi penuh! Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 6 Mei 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Rabu Hari Biasa Pekan V Paskah, 6 Mei 2026Yohanes 15:1—8 Purifikasi Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. (Yoh. 15: 2). Dalam Perjanjian Lama, tanaman anggur melambangkan bangsa Israel (Mzm. 80:916). Gambaran pohon anggur dalam mazmur ini negatif. Kalau Israel telah berubah menjadi pokok anggur yang rusak dan liar, sebaliknya, Yesus menegaskan sebagai Israel ideal. Yesus Kristus adalah pokok anggur yang benar (Gal. 6:16). Yesus adalah pembaru. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotongNya. Pemotongan ini mungkin mengisyaratkan murid-murid palsu atau Yudas yang berkhianat. Bisa juga diartikan pembersihan, seperti pada kisah perjamuan malam terakhir, di mana Yesus membersihkan kaki para murid-Nya. Dari pembasuhan inilah kita mendapat pesan perlunya purifikasi, pertobatan terus-menerus. Menderita demi keserupaan dengan Kristus. Salah satu upaya purifikasi adalah lewat doa. Seperti segala sesuatu yang hidup, kehidupan doa pun mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Semakin dewasa kehidupan doa, semakin sedikit kata-kata yang dibutuhkan. Lama-kelamaan doa akan semakin berupa: hanya tinggal dalam kehadiran Allah melalui iman, harapan, dan kasih. Marilah kita semakin menyediakan diri untuk dibasuh demi makin berkembangnya iman, harapan dan kasih. Semoga sabda Yesus, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu!” Semoga kita semakin dimampukan untuk selalu tinggal dalam kasih-Tuhan kita Yesus Kristus. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM edisi 5 Mei 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Selasa Hari Biasa Pekan V Paskah, 5 Mei 2026Yohanes 14:27—31a Damai Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. (Yoh. 14:27—28). Dalam hidup sehari-hari, hati mudah kehilangan damai. Kesibukan, kesalahpahaman dalam keluarga, komunitas, di masyarakat dan dalam pergumulan pribadi sering membuat batin menjadi gelisah. Kadang kita mencari ketenangan dari luar, tetapi damai itu cepat hilang. Sebagai umat beriman, kita pun dapat mengalami hati yang letih meskipun tetap setia menjalani tugas rutinitas setiap hari. Dalam Injil Yohanes 14:27–31a, Yesus berkata, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” Damai yang diberikan Yesus berbeda dari damai dunia. Damai Kristus lahir dari persatuan dengan Bapa dan dari ketaatan penuh kepada kehendak-Nya. Karena itu Yesus menegaskan agar hati para murid tidak gelisah dan tidak gentar. Bahkan menjelang penderitaan-Nya, Yesus tetap hidup dalam damai karena Ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada kasih Bapa. Bagi kita, Injil ini mengajak kita mencari damai bukan dalam situasi yang selalu tenang, tetapi dalam relasi yang mendalam dengan Kristus. Hati yang tinggal dekat dengan Tuhan akan tetap tenang meskipun menghadapi kesulitan. Damai itu kemudian menjadi kesaksian nyata dalam hidup kita sehari-hari: melalui kesabaran, kelembutan, dan kesetiaan dalam tugas harian. Ketika kita hidup dalam damai Kristus, kehadiran kita pun dapat menjadi penghiburan bagi sesama. Membentuk persekutuan bersama sebagai umat beriman berarti tumbuh dalam keselarasan dan kasih sayang, menjadi sungguh dekat seorang dengan yang lain sebagai saudara-saudara Kristus. Marilah kita mohon berkat Tuhan, agar kita sungguh menerima damai Kristus dalam hati. Semoga Tuhan Yesus Kristus, mencurahkan damai-Nya ke dalam hati kita, agar kita selalu tinggal dalam kasih-Nya dan menjadi pembawa damai bagi sesama. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 4 Mei 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Senin Hari Biasa Pekan V Paskah, 4 Mei 2026Yohanes 14:21—26 Kasih Barang siapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barang siapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya. (Yoh. 14:21). Dalam hidup sehari-hari, kita sering mengukur kasih dari kata-kata atau perasaan. Namun tidak jarang kasih diuji justru dalam kesetiaan pada hal-hal kecil: mendengarkan, mengampuni, dan tetap setia dalam tanggung jawab. Dalam hidup kita sebagai umat beriman, kasih tidak selalu tampak dalam hal besar, tetapi dalam ketekunan menjalani panggilan hidup kita sehari hari, dalam menjalankan tugas rutinitas hidup setiap hari. Di situlah kita belajar bahwa kasih sejati bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan. Dalam Injil Yohanes 14:21–26, Yesus berkata bahwa orang yang mengasihi Dia adalah orang yang memegang perintahNya. Kasih kepada Kristus tidak berhenti pada doa atau devosi, tetapi terlihat dalam hidup yang taat. Yesus juga menjanjikan bahwa Bapa akan mengasihi orang itu, dan mereka akan datang serta tinggal di dalam dirinya. Roh Kudus kemudian dihadirkan sebagai Penolong yang mengajar dan mengingatkan segala sesuatu yang telah dikatakan Yesus. Ini berarti hidup orang beriman menjadi tempat kediaman Allah sendiri. Bagi kita, Injil ini mengingatkan bahwa panggilan hidup kita sebagai umat beriman, sebagai pengikut Yesus Kristus, adalah panggilan hidup untuk menjadi tempat tinggal Tuhan. Kesetiaan dalam doa, hidup persaudaraan, hidup dalam keluarga, hidup dalam masyarakat, dan pelayanan yang tulus kita masing masing, menjadi tanda bahwa kasih Kristus sungguh hidup dalam diri kita. Roh Kudus terus bekerja dalam hati yang terbuka, membimbing kita untuk mencintai bukan dengan kata-kata, tetapi dengan hidup yang setia. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu. Bersama-sama kita sebagai umat beriman, kita dengan pertolongan rahmat Allah, kita berusaha melaksanakan perintah Kristus ini. Marilah kita belajar taat, dan mohon berkat, agar Tuhan Yesus Kristus, mengajari kita untuk mengasihi-Mu melalui kesetiaan dalam hidup kita sehari-hari. Semoga kita selalu terbuka akan bimbingan Roh Kudus, agar hati kita menjadi tempat tinggal Tuhan Yesus Kristus.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 17 Apr 2026

Jumat masa Paskah, 17 April 2026Yohanes 6:1—15 Belas Kasih Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” (Yoh. 6:10—12). Para saudara yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus, kita sudah biasa mendengar adanya gerakan lima roti dan dua ikan. Gerakan “Berbagi Lima Roti dan Dua Ikan” di Keuskupan Agung Semarang (KAS) secara formal diangkat sebagai tema utama Kongres Ekaristi Keuskupan (KEK) I pada tahun 2008. Gerakan ini mengajak kita untuk memiliki kepedulian kepada mereka yang KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, Difabel). Kita diajak untuk membuka mata akan kebutuhan sesama, terutama kepada mereka yang tergolong KLMTD. Kepekaan melihat penderitaan orang lain, perlu kita tumbuh-kembangkan bagi terciptanya Bonum Commune. Bonum commune (Latin) yang berarti “kebaikan bersama” atau “kepentingan umum”. Ini mengacu pada keseluruhan kondisi sosial—seperti keamanan, keadilan, dan kesejahteraan—yang memungkinkan setiap individu maupun kelompok dalam masyarakat mencapai penyempurnaan diri dan hidup dengan baik. Kebaikan bersama yang ingin kita capai ini merupakan bagian dari misi Gereja. Gereja Keuskupan Agung Semarang mengambil tema Prapaskah 2026, “Gereja Berjuang Menghadirkan Masyarakat yang Bahagia dan Sejahtera”. Melalui gerakan ini kita diajak untuk memiliki keutamaan seperti Yesus. Yesus tidak membiarkan mereka yang mengikutinya kelaparan. Sikap belas kasih Yesus inilah yang perlu kita teladani. Yesus tidak hanya berhenti pada rasa belas kasih. Ia mewujudkannya dengan memberi mereka makan. Yesus memberi makan bukan dari kelimpahan. Awalnya hanya 5 roti dan 2 ikan. Namun mujizat-Nya nyata, dari keterbatasan itu, kelimpahan didapat. Bagaimana dengan kita? Memang kita tidak seperti Yesus yang bisa menggandakan roti dan ikan, akan tetapi yang dapat kita lakukan adalah bergantung pada penyelenggaraan Ilahi. Dalam semangat Yesus Kristus, kita ingin memiliki keterbukaan hati dan budi bagi kebutuhan sesama kita, berbagi dengan mereka, dan tidak memperkaya diri dengan mengorbankan mereka (KLMTD). Semoga kita, semakin dikuatkan untuk selalu peka, peduli akan kebutuhan sesama. Semoga Allah menguatkan kita dalam melakukan aksi nyata kepada sesama, terutama kepada mereka yang KLMTD. Semoga kita semakin dikuatkan, untuk ambil bagian dalam karya Yesus Kristus.Yesus, telah mengajarkan kepada kita, untuk memiliki sikap belas kasih kepada sesama yang membutuhkan. Kita mohon penyertaan Tuhan, agar kita berani berbagi dari keterbatasan kita. Kita percaya bahwa Allah senantiasa menyertai dan menganugerahi rahmat Penyelenggaraan Ilahi kepada kita dalam menjalankan tugas perutusan kita masing-masing. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 14 Apr 2026

Selasa Masa Paskah, 14 April 2026Yohanes 3:7—15 Makna Salib Yesus Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. (Yoh. 3:14—15). Injil hari ini melanjutkan perikop tentang percakapan Yesus dengan Nikodemus. Yesus diserupakan dengan ular tembaga di padang gurun; Ia harus ditinggikan di salib untuk menyembuhkan dan menyelamatkan manusia. Penderitaan Yesus di kayu salib merupakan pilihan-Nya. Manusia pertama jatuh dalam dosa. Dosa asal inilah yang akan diturunkan kepada semua umat manusia, dan karena manusia tak dapat menebus dosanya sendiri, maka Allah memutuskan untuk mengutus Putera-Nya sendiri guna menebus dosa manusia dengan sengsara-Nya di kayu salib. Penderitaan yang tak terlukiskan di kayu salib tersebut adalah bukti kasih Allah yang tiada terbatas. Kerendahan hati Yesus yang mewujud dalam kesediaan-Nya menjadi manusia dan memanggul salib adalah undangan bagi kita untuk menemukan makna di balik setiap beban hidup. Saat kita belajar menerima “salib” pribadi dengan sukarela, penderitaan tersebut tidak lagi menjadi beban yang menghancurkan, melainkan sebuah proses pemurnian yang membentuk kita menjadi pribadi yang setia dan tahan uji.Penderitaan yang ditanggung dengan baik, semakin mendekatkan kita dengan Allah dan sesama. Yesus sendirilah teladan kita. Pada hari-hari yang buruk, Ia tetap setia kepada tugas-Nya, dan kepada panggilanNya: “Yesus taat sampai mati, bahkan mati di salib”. Kita mohon rahmat, agar kita diteguhkan dalam menanggung salib kita masing masing, serta semakin dimampukan untuk melihat Allah dalam penderitaan, sebagai jalan yang menyelamatkan. Bukan aku sendiri, tetapi karena kekuatan rahmat Allah sendiri yang ada dalam diri kita.Semoga rahmat Allah semakin menguatkan kita, agar senantiasa kita setia menanggung beban seperti Engkau setia dalam penderitaan di kayu salib. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 13 Apr 2026

Senin masa paskah, 13 April 2026Yohanes 3:1—8 Lahir Kembali Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Jawab Yesus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Yoh. 3: 4—5). Melalui Injil hari ini kita diajak untuk menyadari bahwa pertumbuhan sejati tidak selalu berarti mengulang waktu, melainkan mengizinkan Allah bekerja dalam cara-cara yang tidak terduga untuk membentuk ulang jati diri kita. Yesus menegaskan bahwa pintu masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah melalui “kelahiran dari air dan Roh,” sebuah proses penyucian dan regenerasi yang sepenuhnya merupakan anugerah Ilahi. Air melambangkan pembersihan dari dosa dan masa lalu, sementara Roh memberikan kehidupan baru yang menghubungkan kita dengan dimensi kekekalan. Kelahiran kembali dalam hidup sehari-hari dapat dimaknai kesediaan kita untuk membarui diri. Pembaruan diri sebagai umat beriman, diperlukan agar hidup kita semakin selaras dengan kehendak Allah. Pembaruan diri akan terjadi kalau kita berani meluangkan waktu untuk hening, membuka diri akan bimbingan Roh Kudus. Hendaknya kita berusaha menyediakan waktu yang lebih lama untuk berdoa dan refleksi dalam hidup kita. Saat-saat doa amat penting bagi pemahaman diri serta bagi hidup kita sebagai umat beriman, bagi peningkatan hubungan pribadi kita dengan Allah, bagi keterbukaan kita terhadap Roh Allah, dan bagi pendalaman kepedulian setiap kita menjalankan tugas perutusan/pekerjaan rutinitas sehari-hari. Semoga Allah, melalui perantara Roh Kudus, selalu membimbing kita untuk berani masuk dalam keheningan sejati agar kita selalu memperbarui ulang jati diri kita. Semoga Allah yang mahakasih, selalu menguatkan iman kita, agar kita semakin setia dalam doa dan refleksi pribadi. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 27 Mar 2026

Jumat Pekan Prapaskah V, 27 Maret 2026Yohanes 10:31—42 Bersaksi tentang Panggilan Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, … Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, … Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata, “Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.” Dan banyak orang di situ percaya kepadaNya. (Yoh.10:37.40—42). Dalam Injil ini, Yesus kembali menghadapi penolakan keras. Ia hampir dirajam karena dianggap menghujat Allah. Namun Yesus tidak membela diri dengan kata-kata yang rumit. Ia mengarahkan perhatian orang banyak pada karya-karya-Nya, “Jika Akutidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku.” Dengan kata lain, identitas Yesus tidak terutama dibuktikan oleh klaim-Nya, tetapi oleh kehidupan dan perbuatan yang selaras dengan kehendak Bapa. Dalam hidup kita sebagai umat beriman, kita bisa banyak berbicara tentang banyak hal sebagai pengikut Kristus, sebagai orang katolik. Namun Injil hari ini menantang kita untuk bertanya, apakah hidup dan karya kita sungguh-sungguh memantulkan karya Bapa ? Apakah kehidupan keluarga kita, kehidupan kelompok kerja kita, kehidupan komunitas kita, apakah sudah menjadi ruang di mana orang dapat “melihat” Allah bekerja – melalui kesederhanaan hidup, melalui kesetiaan dalam pelayanan, dan melalui kasih yang nyata kepada sesama?Sebagai umat beriman dan sebagai anggota persekutuan terbuka, secara khusus kita dipanggil untuk menerima orang lain dengan murah hati. Para tamu (orang lain yang kita layani dalam tugas) hendaknya merasa kerasan tinggal bersama kita sebagai umat beriman. Semoga setelah membaca dan merenungkan perikop ini, setelah mendengarkan sabda Allah hari ini, banyak orang semakin percaya kepada Yesus bukan di pusat kekuasaan sebagai umat beriman, melainkan di tempat sunyi di seberang Sungai Yordan. Di sana, tanpa sensasi dan konflik, kebenaran dikenali melalui kesaksian hidup. Semoga Bunda Maria, membantu kita sebagai anak-anaknya, dan diteguhkan oleh Yesus untuk terus mengupayakan karya hidup kita menjadi sakramen kehadiran Allah, sehingga siapa pun yang melihatnya dapat berkata, “Di sini sungguh Allah berkarya”. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 26 Mar 2026

Kamis Pekan Prapaskah V, 26 Maret 2026Yohanes 8:51—59 Hidup oleh Sabda Yesus berkata, “Barang siapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” – “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh. 8: 51.58). Sabda ini diucapkan di tengah penolakan, salah paham, bahkan ancaman. Bagi banyak orang pada waktu itu, kata-kata Yesus terdengar berlebihan dan tidak masuk akal. Mereka mengenal Abraham, tokoh besar kaum beriman, tetapi tidak mampu mengenal Yesus sebenarnya. Di sinilah konflik terjadi: antara iman yang hidup dan agama yang hanya bersandar pada identitas dan tradisi. “Kabar gembira Yesus merupakan asas pokok pedoman hidup kita sebagai umat beriman”. Kita sebagai umat beriman, yang sudah dibabtis, dapat dengan mudah jatuh pada kebanggaan rohani: merasa “lebih dekat” dengan Allah karena status sebagai pengikut Kristus, merasa sudah lama menjadi orang katolik, atau sudah merasa banyak terlibat dalam kegiatan di gereja, di lingkungan dst. Namun Yesus tidak berkata, “Barang siapa memiliki identitas umat beriman,” melainkan “Barang siapa menuruti firman-Ku.” Hidup sebagai umat beriman, menjadi katolik, bukan pertama-tama soal siapa kita, melainkan bagaimana kita hidup setia pada Sabda setiap hari. Yesus juga menegaskan, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Ia menyatakan diri sebagai Allah yang hidup, yang hadir kini dan di sini. Bagi seorang umat beriman, hal ini berarti bahwa panggilan kita bukan nostalgia akan panggilan awal, saat dibabtis, dan diterima sebagai anggota gereja, sebagai orang katolik. Kristus hadir sekarang, dan di dalam rutinitas sehari-hari, di dalam ketegangan relasi, di dalam ketaatan dalam menjalankan tugas, dan di dalam kesetiaan menjalankan kehendak Allah, yang sering terasa sunyi. Semoga kita, sebagai umat beriman, dikuatkan disaat mengalami penolakan terhadap Yesus yang berujung pada usaha untuk melempari Dia dengan batu. Semoga kita semakin dikuatkan dalam menekuni kesetiaan pada sabda-Nya. Semoga Tuhan Yesus Kristus, menguatkan iman kita, untuk mengakarkan hidup kita kepada sabda Allah, sehingga kita bermakna, berbuah, dan tetap setia sampai akhir. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Scroll to Top