Senin Prapaskah III, 9 Maret 2026
2Raj.5:1-15a; Luk.4:24-30
Lukas 4:24-30
Dan kata-Nya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.” […]
Jangan Menyepelekan!
Jangan menyepelekan orang lain atau sesuatu dan gampang panas hati, karena Allah kerap bekerja dalam diri orang sederhana dan hal-hal yang biasa.
Inilah pesan sabda Tuhan hari ini dari Kitab 2 Raja-raja dan Injil Lukas. Naaman orang Siria menyepelekan nabi Elisa. Sementara, Yesus disepelekan oleh orang-orang Yahudi tetangga-tetangga-Nya.
Dua kitab itu mengangkat kisah Naaman orang Siria yang disembuhkan Allah lewat nabi Elisa. Naaman sakit kusta kemudian menemui nabi Elisa. Nabi Elisa memintanya mandi tujuh kali di sungai Yordan. Tetapi, apa reaksi Naaman? Ia panas hati dan menyepelekan nabi Elisa. Ia gusar dan sombong yang membuat dia meremehkan, menyepelekan, hal sederhana yang disuruhkan nabi Elisa padanya. Untung, Naaman berhasil dibujuk hambanya sehingga berubah dan mau menuruti petunjuk nabi Elisa. Kalau dia tetap menyepelekan dan keukeuh panas hati hingga tidak mau menuruti nabi Elisa, pastilah dia tidak sembuh dari kustanya.
Dalam peristiwa Naaman itu, nyatalah Allah bekerja dalam hal yang sederhana dan biasa, tidak spektakuler: “mandi tujuh kali di sungai Yordan.”
Yesus disepelekan orang-orang Yahudi tetangga-tetangga-Nya sendiri. Yesus sampaikan, “Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asal-Nya.” Mereka meremehkan, menyepelekan Yesus karena Yesus orang biasa, sama dengan mereka. Mereka tahu masa kecil dan remaja Yesus. Dia anak Yusup tukang kayu. Mereka juga panas hati dan bingung terhadap Yesus sehingga menggiring Yesus ke tebing untuk melemparkan-Nya. Kita tahu orang-orang Yahudi itu mengalami kehancuran (tahun 70 Bait Allah dihancurkan oleh tentara Romawi).
Allah bekerja dalam pribadi yang remeh. Yesus adalah Anak Allah yang merendahkan diri-Nya menjadi manusia sama seperti kita. Ia dipandang hina, dianggap remeh, disepelelekan, padahal Dialah pribadi Allah yang menyelamatkan.
Kita kadang menyepelekan orang lain yang lebih rendah status sosial-ekonominya, pekerjaannya, keadaan keluarganya, jalan hidupnya. Siapa tahu kelak justru kita butuh pertolongan darinya. Kelak, justru dia jadi pimpinan atau atasan kita. Atau, kita menyepelekan hal-hal atau peristiwa hidup entah tugas tertentu, pekerjaan, pemberian orang, dsb. Padahal Allah sedang bekerja dalam dan lewat orang-orang itu, hal-hal biasa itu, dan peristiwa-peristiwa hidup biasa.
Jangan pernah menyepelekan dan gampang panas hati, karena Allah bekerja dalam pribadi, sesuatu dan peristiwa yang biasa.
Semangat pagi. Tuhan memberkati!**NW



