SAPA JIWA CM Edisi 9 Apr 2026

Kamis Oktaf Paskah, 9 April 2026
Kisah Para Rasul 3:11-26 | Lukas 24:35-48

Dua murid yang dalam perjalanan ke Emaus, ditemui oleh Yesus yang bangkit, segera kembali ke Yerusalem. Mereka menceriterakan kepada saudara-saudara apa yang terjadi di tengah jalan, dan bagaimana mereka mengenal Yesus pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut, karena menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu terkejut, dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hatimu? Lihatlah tangan dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini! Rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu kan tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Sambil berkata demikian Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan ketika mereka belum juga percaya karena girang dan masih heran, berkatalah Yesus kepada mereka, “Adakah padamu makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Yesus berkata kepada mereka, “Inilah perkataan yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa, kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.” Lalu Yesus membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka, “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini.”

Menjadi Saksi Kebangkitan yang Nyata

Setelah perjalanan ke Emaus, Kleopas dan seorang murid yang lain bergegas kembali ke Yerusalem dengan hati berkobar-kobar. Mereka menemui saudara-saudaranya yang bersembunyi dalam sebuah ruangan tertutup dan menceritakan pengalaman perjumpaan dengan Yesus. Namun, saat mereka bercakap-cakap, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Terkejut dan takut adalah reaksi pertama para murid. Mereka menyangka sedang melihat hantu awalnya tapi ternyata setelah Yesus menyuruh mereka merabaNya dan meminta makan, giranglah hati mereka walaupun juga masih takut. Ketakutan para murid menunjukkan bahwa kebangkitan adalah sesuatu yang sulit dicerna oleh logika manusia yang terbatas. Yesus, dengan penuh kesabaran, tidak menghakimi keraguan mereka. Ia justru menawarkan bukti yang sangat manusiawi dan fisik: “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku… raba dan lihatlah.” Ia bahkan meminta makanan dan memakan sepotong ikan goreng di depan mereka. Yesus ingin menegaskan bahwa kebangkitan-Nya bukanlah sekadar ilusi, bayangan, atau halusinasi kolektif. Ia bangkit secara utuh; Ia adalah Tuhan yang memiliki tubuh, yang bisa menyentuh dan merasakan penderitaan kita. Luka-luka di tangan dan kaki-Nya tetap ada, meski Ia telah dimuliakan. Mengapa? Karena luka-luka itu adalah “identitas” kasih-Nya. Luka itu adalah bukti bahwa Ia telah melewati maut dan menang. Bagi kita, ini adalah penghiburan besar: Tuhan kita bukanlah sosok yang jauh dan asing terhadap rasa sakit. Ia membawa luka-luka itu sebagai tanda bahwa penderitaan kita pun memiliki tempat di dalam kemuliaan-Nya.
Dalam dunia sekarang ini, kita mungkin tidak berada dalam ruang tertutup seperti para murid, tetapi sering kali kita hidup dalam “ruang-ruang batin” yang penuh ketakutan: takut gagal, takut ditolak, takut masa depan tidak pasti, atau takut menghadapi kenyataan hidup. Ketakutan itu bisa membuat kita menutup diri, enggan melangkah, ragu mengambil keputusan, atau sulit percaya bahwa Tuhan sungguh hadir. Bahkan ketika kita mendengar Sabda Tuhan, kita masih bertanya dalam hati: “Benarkah ini untukku? Benarkah Tuhan bekerja dalam hidupku?” Dalam situasi seperti ini, Yesus yang bangkit datang dengan cara yang sama: Ia hadir di tengah kita dan berkata, “Damai sejahtera bagimu.” Ia tidak datang untuk menghakimi keraguan kita, tetapi untuk meneguhkan. Ia memahami proses kita. Ia memberi ruang bagi kita untuk perlahan percaya.
Di akhir perikop ini, Yesus memberikan mandat: “Kamu adalah saksi dari semuanya ini.” Dalam hidup sehari-hari, kesaksian itu bisa hadir dalam hal-hal sederhana: tetap setia di tengah kesulitan, memberi harapan kepada yang putus asa, membawa damai di tengah konflik, dan percaya bahwa Tuhan tetap bekerja dalam segala situasi. Semoga dalam perjalanan iman kita, kita berani membuka “pintu-pintu yang tertutup” dalam hati kita. Membiarkan Yesus masuk dengan damai-Nya. Dan perlahan, dari hati yang disentuh oleh-Nya, kita pun diutus menjadi saksi kebangkitan dalam hidup yang nyata, sederhana, peka pada sesama. Selamat beraktivitas 🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]

Scroll to Top