SAPA JIWA CM Edisi 26 Feb 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊
Kamis Prapaskah I, 26 Februari 2026
Kitab Ester 4:10a.10c-12.17-19 | Matius 7:7-12

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Mintalah, maka kamu akan diberikan; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta akan menerima, setiap orang yang mencari akan mendapat, dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu akan dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya”. Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Kerendahan Hati & Kebaikan
Dalam bacaan Injil di atas dan juga bacaan pertama hari ini menarik untuk direnungkan. Kisah Ratu Ester dalam bacaan pertama memperlihatkan momen hidup yang sangat manusiawi. Ia berada dalam posisi berkuasa, tetapi juga dalam situasi genting. Umatnya terancam. Ester tahu bahwa menghadap raja tanpa dipanggil bisa berakibat kematian. Di titik itulah ia tidak langsung bertindak gegabah. Ia berpuasa. Ia merendahkan diri di hadapan Allah. Ia memohon penyertaan Tuhan dengan air mata dalam keheningan. Pada zaman itu, kekuasaan raja begitu mutlak. Mendekat kepada raja tanpa izin adalah sebuah risiko besar. Dari kisah Ratu Ester kita belajar bahwa sebelum melangkah ke ruang publik, seseorang perlu terlebih dahulu masuk ke ruang batin bersama Tuhan. Kerendahan hati menjadi kekuatannya. Strategi dan segala rencana yang tersusun baik sekalipun tidak cukup; kita perlu menyadari bahwa kita butuh penyertaan Allah.
Yesus dalam Injil menggemakan sikap yang sama: “Mintalah, carilah, ketoklah” Doa adalah tindakan orang yang rendah hati. Orang yang mau meminta adalah orang yang mengakui bahwa dirinya tidak sepenuhnya mampu. Dalam doa, kita tidak tampil sebagai sosok yang serba tahu, tetapi sebagai anak yang percaya pada Bapa.

Kontras ini terasa nyata dalam kehidupan civitas akademika masa kini. Dunia universitas adalah dunia gagasan, analisis, penelitian, argumentasi, dan kompetensi. Kita terbiasa berpikir kritis, menyusun strategi, merancang program, dan mengambil keputusan berdasarkan data. Semua itu penting. Namun dalam ritme ini, kita bisa tergoda merasa cukup dengan kemampuan sendiri. Kita lupa bahwa kecerdasan tidak menggantikan kebijaksanaan, dan strategi tidak selalu menggantikan kerendahan hati. Di Masa Prapaskah, Sabda Tuhan hari ini mengundang kita untuk meneladani Ester: sebelum mengambil keputusan penting, sebelum menentukan arah penelitian, sebelum memimpin atau melayani. Beranilah berhenti dan merendahkan diri di hadapan Allah dan bertanya: apakah segala pikiran dan perbuatanku sungguh demi kemajuan hidupku dan demi kebaikan bersama? Apakah keputusan ini lahir dari kasih atau dari ambisi?
Inspirasi yang sejalan dapat kita lihat dalam film Pay It Forward. Dalam film itu mengisahkan seorang anak kecil yang memulai gerakan sederhana: berbuat baik kepada tiga orang dan meminta mereka meneruskan kebaikan itu. Ia tidak memiliki kuasa besar, tetapi memiliki hati yang rendah dan tulus. Dari kerendahan hati itulah lahir perubahan yang meluas.

Kerendahan hati bukan berarti pasif. Justru dari kerendahan hati lahir keberanian. Ester berani melangkah karena ia telah berdoa. Anak dalam film Pay It Forward berani memulai karena ia percaya pada kekuatan kebaikan. Yesus pun menutup ajaran-Nya dengan sebuah penegasan: ”Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”. Kerendahan hati di hadapan Allah selalu berbuah dalam relasi yang penuh hormat dan kasih kepada sesama.

Semoga di Masa Prapaskah ini kita dimampukan untuk membangun budaya akademik yang tidak hanya cerdas, tetapi juga rendah hati. Rendah hati untuk belajar, rendah hati untuk mendengarkan, rendah hati untuk mengakui kesalahan, dan rendah hati untuk berbagi kebaikan tanpa pamrih. Dari hati yang demikian, keputusan-keputusan yang kita ambil akan menjadi berkat bagi banyak orang. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]

Scroll to Top