Renungan

Kategori ini merupakan ruang teduh digital yang menyediakan asupan rohani harian bagi mahasiswa di tengah padatnya aktivitas akademik.

Isi: Refleksi singkat berdasarkan Kitab Suci, ulasan ajaran Gereja Katolik yang kontekstual, doa-doa harian, serta tulisan inspiratif tentang menemukan Tuhan dalam rutinitas perkuliahan.

Fokus: Kedalaman batin, ketenangan spiritual, dan penguatan iman personal.

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 9 Apr 2026

Kamis Oktaf Paskah, 9 April 2026Kisah Para Rasul 3:11-26 | Lukas 24:35-48 Dua murid yang dalam perjalanan ke Emaus, ditemui oleh Yesus yang bangkit, segera kembali ke Yerusalem. Mereka menceriterakan kepada saudara-saudara apa yang terjadi di tengah jalan, dan bagaimana mereka mengenal Yesus pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut, karena menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu terkejut, dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hatimu? Lihatlah tangan dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini! Rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu kan tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Sambil berkata demikian Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan ketika mereka belum juga percaya karena girang dan masih heran, berkatalah Yesus kepada mereka, “Adakah padamu makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Yesus berkata kepada mereka, “Inilah perkataan yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa, kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.” Lalu Yesus membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka, “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini.” Menjadi Saksi Kebangkitan yang Nyata Setelah perjalanan ke Emaus, Kleopas dan seorang murid yang lain bergegas kembali ke Yerusalem dengan hati berkobar-kobar. Mereka menemui saudara-saudaranya yang bersembunyi dalam sebuah ruangan tertutup dan menceritakan pengalaman perjumpaan dengan Yesus. Namun, saat mereka bercakap-cakap, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Terkejut dan takut adalah reaksi pertama para murid. Mereka menyangka sedang melihat hantu awalnya tapi ternyata setelah Yesus menyuruh mereka merabaNya dan meminta makan, giranglah hati mereka walaupun juga masih takut. Ketakutan para murid menunjukkan bahwa kebangkitan adalah sesuatu yang sulit dicerna oleh logika manusia yang terbatas. Yesus, dengan penuh kesabaran, tidak menghakimi keraguan mereka. Ia justru menawarkan bukti yang sangat manusiawi dan fisik: “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku… raba dan lihatlah.” Ia bahkan meminta makanan dan memakan sepotong ikan goreng di depan mereka. Yesus ingin menegaskan bahwa kebangkitan-Nya bukanlah sekadar ilusi, bayangan, atau halusinasi kolektif. Ia bangkit secara utuh; Ia adalah Tuhan yang memiliki tubuh, yang bisa menyentuh dan merasakan penderitaan kita. Luka-luka di tangan dan kaki-Nya tetap ada, meski Ia telah dimuliakan. Mengapa? Karena luka-luka itu adalah “identitas” kasih-Nya. Luka itu adalah bukti bahwa Ia telah melewati maut dan menang. Bagi kita, ini adalah penghiburan besar: Tuhan kita bukanlah sosok yang jauh dan asing terhadap rasa sakit. Ia membawa luka-luka itu sebagai tanda bahwa penderitaan kita pun memiliki tempat di dalam kemuliaan-Nya.Dalam dunia sekarang ini, kita mungkin tidak berada dalam ruang tertutup seperti para murid, tetapi sering kali kita hidup dalam “ruang-ruang batin” yang penuh ketakutan: takut gagal, takut ditolak, takut masa depan tidak pasti, atau takut menghadapi kenyataan hidup. Ketakutan itu bisa membuat kita menutup diri, enggan melangkah, ragu mengambil keputusan, atau sulit percaya bahwa Tuhan sungguh hadir. Bahkan ketika kita mendengar Sabda Tuhan, kita masih bertanya dalam hati: “Benarkah ini untukku? Benarkah Tuhan bekerja dalam hidupku?” Dalam situasi seperti ini, Yesus yang bangkit datang dengan cara yang sama: Ia hadir di tengah kita dan berkata, “Damai sejahtera bagimu.” Ia tidak datang untuk menghakimi keraguan kita, tetapi untuk meneguhkan. Ia memahami proses kita. Ia memberi ruang bagi kita untuk perlahan percaya.Di akhir perikop ini, Yesus memberikan mandat: “Kamu adalah saksi dari semuanya ini.” Dalam hidup sehari-hari, kesaksian itu bisa hadir dalam hal-hal sederhana: tetap setia di tengah kesulitan, memberi harapan kepada yang putus asa, membawa damai di tengah konflik, dan percaya bahwa Tuhan tetap bekerja dalam segala situasi. Semoga dalam perjalanan iman kita, kita berani membuka “pintu-pintu yang tertutup” dalam hati kita. Membiarkan Yesus masuk dengan damai-Nya. Dan perlahan, dari hati yang disentuh oleh-Nya, kita pun diutus menjadi saksi kebangkitan dalam hidup yang nyata, sederhana, peka pada sesama. Selamat beraktivitas 🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 7 Apr 2026

Selasa Oktaf Paskah, 7 April 2026Kisah Para Rasul 2:36-41| Yohanes 20:11-18 Setelah makam Yesus kedapatan kosong, maka Maria Magdalena berdiri dekat kubur dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang, dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang, dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman. Maka ia berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa. Tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Tuhanlah yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. Ketika Air Mata Berubah Menjadi Pewartaan Setelah makam Yesus kedapatan kosong, maka Maria Magdalena berdiri dekat kubur dan menangis. Ia kehilangan, ia bingung, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan ketika Yesus sudah berdiri di dekatnya, ia tidak mengenali-Nya. Ia mengira Yesus adalah penjaga taman. Sampai akhirnya, sebuah sapaan sederhana membuka mata hati dan mengubah segalanya: “Maria!” Pada zaman itu, duka karena kehilangan begitu nyata. Kematian Yesus seolah menutup harapan. Maria datang ke kubur bukan dengan iman akan kebangkitan, tetapi dengan hati yang hancur. Ia mencari tubuh Yesus, bukan Pribadi yang hidup. Namun justru di tengah air mata itulah, Yesus menjumpainya. Ia dipanggil secara pribadi, dikenal, dan dicintai. Dan dari perjumpaan itu, Maria mengalami perubahan: dari seorang yang maratapi kematian Yesus menjadi pewarta kebangkitanNya.Peristiwa ini kiranya sangat dekat dengan kehidupan kita sekarang. Kita pun sering berada dalam “situasi kubur” kita sendiri: kehilangan, kegagalan, kekecewaan, relasi yang retak, atau harapan yang tidak terpenuhi. Dalam momen-momen itu, kita mudah terjebak seperti Maria; fokus pada apa yang hilang, pada masa lalu, pada luka yang belum sembuh. Kita mencari Tuhan, tetapi sering kali dengan cara kita sendiri, bahkan tanpa sadar membatasi-Nya. Kita ingin Tuhan hadir sesuai harapan kita, menjawab dengan cara yang kita pahami, hadir dalam bentuk yang kita kenal. Namun ketika Ia datang dengan cara yang berbeda, kita tidak mengenali-Nya. Ia sudah dekat, tetapi hati kita masih tertutup oleh air mata dan kekecewaan.Dalam terang Oktaf Paskah, Injil ini menjadi kabar sukacita yang kuat: Yesus yang bangkit selalu datang menyapa kita secara pribadi. Ia memanggil nama kita di tengah kebingungan, di tengah kelelahan, di tengah air mata yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Kebangkitan bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi pengalaman perjumpaan yang terus terjadi dalam hidup kita hari ini. Inspirasi ini mengajak kita untuk berani berhenti sejenak dan mendengarkan: di mana Tuhan sedang menyapa aku saat ini? Mungkin melalui orang yang menguatkan kita melalui pengalaman sederhana, melalui Sabda yang menyentuh, atau melalui keheningan yang perlahan memulihkan hati. Maria tidak hanya berhenti pada pengalaman pribadi. Ia diutus: “Pergilah kepada saudara-saudara-Ku…” Ia menjadi saksi bahwa Tuhan hidup. Ini menjadi undangan bagi kita juga. Kebangkitan yang kita alami tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi mengalir menjadi kesaksian.Maka, saat ini kita diajak untuk bergerak: dari hati yang galau menuju harapan, dari kebingungan menuju iman, dari pengalaman pribadi menuju pewartaan. Kita mungkin tidak selalu memahami jalan Tuhan, tetapi kita dapat percaya bahwa Ia mengenal kita, memanggil kita, dan berjalan bersama kita. Semoga dalam perjalanan iman ini, kita semakin peka mengenali suara-Nya. Dan ketika Ia memanggil, kita pun berani menjawab seperti Maria: dengan hati yang terbuka, dengan langkah yang baru, dan dengan sukacita untuk mewartakan bahwa Tuhan sungguh hidup. Selamat beraktivitas 🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 27 Mar 2026

Jumat Pekan Prapaskah V, 27 Maret 2026Yohanes 10:31—42 Bersaksi tentang Panggilan Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, … Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, … Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata, “Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.” Dan banyak orang di situ percaya kepadaNya. (Yoh.10:37.40—42). Dalam Injil ini, Yesus kembali menghadapi penolakan keras. Ia hampir dirajam karena dianggap menghujat Allah. Namun Yesus tidak membela diri dengan kata-kata yang rumit. Ia mengarahkan perhatian orang banyak pada karya-karya-Nya, “Jika Akutidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku.” Dengan kata lain, identitas Yesus tidak terutama dibuktikan oleh klaim-Nya, tetapi oleh kehidupan dan perbuatan yang selaras dengan kehendak Bapa. Dalam hidup kita sebagai umat beriman, kita bisa banyak berbicara tentang banyak hal sebagai pengikut Kristus, sebagai orang katolik. Namun Injil hari ini menantang kita untuk bertanya, apakah hidup dan karya kita sungguh-sungguh memantulkan karya Bapa ? Apakah kehidupan keluarga kita, kehidupan kelompok kerja kita, kehidupan komunitas kita, apakah sudah menjadi ruang di mana orang dapat “melihat” Allah bekerja – melalui kesederhanaan hidup, melalui kesetiaan dalam pelayanan, dan melalui kasih yang nyata kepada sesama?Sebagai umat beriman dan sebagai anggota persekutuan terbuka, secara khusus kita dipanggil untuk menerima orang lain dengan murah hati. Para tamu (orang lain yang kita layani dalam tugas) hendaknya merasa kerasan tinggal bersama kita sebagai umat beriman. Semoga setelah membaca dan merenungkan perikop ini, setelah mendengarkan sabda Allah hari ini, banyak orang semakin percaya kepada Yesus bukan di pusat kekuasaan sebagai umat beriman, melainkan di tempat sunyi di seberang Sungai Yordan. Di sana, tanpa sensasi dan konflik, kebenaran dikenali melalui kesaksian hidup. Semoga Bunda Maria, membantu kita sebagai anak-anaknya, dan diteguhkan oleh Yesus untuk terus mengupayakan karya hidup kita menjadi sakramen kehadiran Allah, sehingga siapa pun yang melihatnya dapat berkata, “Di sini sungguh Allah berkarya”. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 26 Mar 2026

Kamis Pekan Prapaskah V, 26 Maret 2026Yohanes 8:51—59 Hidup oleh Sabda Yesus berkata, “Barang siapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” – “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh. 8: 51.58). Sabda ini diucapkan di tengah penolakan, salah paham, bahkan ancaman. Bagi banyak orang pada waktu itu, kata-kata Yesus terdengar berlebihan dan tidak masuk akal. Mereka mengenal Abraham, tokoh besar kaum beriman, tetapi tidak mampu mengenal Yesus sebenarnya. Di sinilah konflik terjadi: antara iman yang hidup dan agama yang hanya bersandar pada identitas dan tradisi. “Kabar gembira Yesus merupakan asas pokok pedoman hidup kita sebagai umat beriman”. Kita sebagai umat beriman, yang sudah dibabtis, dapat dengan mudah jatuh pada kebanggaan rohani: merasa “lebih dekat” dengan Allah karena status sebagai pengikut Kristus, merasa sudah lama menjadi orang katolik, atau sudah merasa banyak terlibat dalam kegiatan di gereja, di lingkungan dst. Namun Yesus tidak berkata, “Barang siapa memiliki identitas umat beriman,” melainkan “Barang siapa menuruti firman-Ku.” Hidup sebagai umat beriman, menjadi katolik, bukan pertama-tama soal siapa kita, melainkan bagaimana kita hidup setia pada Sabda setiap hari. Yesus juga menegaskan, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Ia menyatakan diri sebagai Allah yang hidup, yang hadir kini dan di sini. Bagi seorang umat beriman, hal ini berarti bahwa panggilan kita bukan nostalgia akan panggilan awal, saat dibabtis, dan diterima sebagai anggota gereja, sebagai orang katolik. Kristus hadir sekarang, dan di dalam rutinitas sehari-hari, di dalam ketegangan relasi, di dalam ketaatan dalam menjalankan tugas, dan di dalam kesetiaan menjalankan kehendak Allah, yang sering terasa sunyi. Semoga kita, sebagai umat beriman, dikuatkan disaat mengalami penolakan terhadap Yesus yang berujung pada usaha untuk melempari Dia dengan batu. Semoga kita semakin dikuatkan dalam menekuni kesetiaan pada sabda-Nya. Semoga Tuhan Yesus Kristus, menguatkan iman kita, untuk mengakarkan hidup kita kepada sabda Allah, sehingga kita bermakna, berbuah, dan tetap setia sampai akhir. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 25 Mar 2026

Rabu Prapaskah V, 25 Maret 2026Lukas 1:26—38❖ Hari Raya Kabar Sukacita Kasih Karunia Kesetiaan Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.” (Luk. 1:28—30). Malaikat Gabriel datang ke Nazareth menemui Maria, seorang perawan yang bertunangan dengan Yusuf. Malaikat Gabriel berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”. Kata “dikaruniai” menunjukkan Maria dipenuhirahmat Allah secara istimewa. Sapaan ini menegaskan Maria dipilih Allah untuk mengandung Yesus, sebagai kasih karunia unik. Maria teladan beriman sejati, setia melakukan kehendak-Nya, sehingga ia memperoleh karunia istimewa. Karunia istimewa melahirkan Yesus Kristus Sang Penebus. Maria orang pertama yang menerima penebusan Kristus. Penebusan Kristus tidak hanya menghapus dosa melainkan sungguh mengembalikan manusia kepada hakikat asli, yaitu gambar dan rupa Allah yang kudus. Inilah Kabar Sukacita yang mau disampaikan Gereja melalui Hari Raya Kabar Sukacita. Rahmat yang diterima Bunda Maria sekaligus merupakan sebuah tanda bahwa semua orang beriman yang setia akan memperoleh anugerah penebusan Kristus, dibebaskan dari dosa dan dipulihkan kembali menjadi citra Allah.Kita sebagai umat beriman, juga melihat kesetiaan dalam kehidupan Maria, yang dalam sukacita penuh kesetiaan melagukan Magnificatnya, dan yang dalam kegelapan penderitaan, berani berdiri di dekat salib. Semoga kita, sebagai umat beriman, semakin diteguhkan dalam meneladan Bunda Maria dalam kesetiaan melakukan kehendak Allah. Semoga berkat kesaksian Santa Perawan Maria, memberikan inspirasi kepada kita untuk menjadi pengikut Yesus yang setia melaksanakan kehendak Allah dengan tulus membaktikan diri dengan penuh syukur kepada Allah. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 24 Mar 2026

Selasa Pekan Prapaskah V, 24 Maret 2026Yohanes 8:21—30Mengabdi Total“Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia.” (Yoh. 8:26). Hari ini Tuhan Yesus menegaskan otoritas pengajaran dan penghakiman yang bersumber langsung dari Allah Bapa, yang mengutus-Nya. Yesus menyampaikan kebenaran ilahi yang Ia dengar dari Bapa kepada dunia. Ia menekankan kesatuan misi dan ketaatan-Nya kepada Bapa di tengah penolakan orang-orang yang tidak percaya.Ayat ini merupakan bagian dari pengajaran Yesus di Bait Allah yang menegaskan identitas-Nya sebagai utusan Allah, dan Ia menegur mereka yang berasal dari “bawah” (dunia) dan tidak memahami perkataan-Nya yang dari “atas”. Yesus hanya menyampaikan apa yang didengar-Nya dari Bapa, menunjukkan kesetiaan total dalam penyampaian Firman. Pengajaran Yesus adalah kebenaran, berbeda dengan pandangan dunia yang terbatas. Semoga kita mengimani semua itu. Semoga kita meneladan Yesus untuk mengabdi dengan total.Dalam pengabdian dan dalam menjalankan tugas sehari-hari, kita diharapkan sanggup bekerja dengan cara bagaimanapun serta di mana pun diberikan tugas, melalui para pemimpin kita, melalui para pemberi tugas perutusan, kita siap menjalankan perutusan tugas sesuai kehendak-Nya, terutama jika hal tersebut, kadang berlawanan dengan keinginan, kesenangan, atau penilaian kita sendiri. Hal ini mungkin amat sulit, namun sebagai umat beriman, kita menyediakan diri kita secara total menjalankan kehendakNya.Semoga kita diteguhkan dalam menjalankan tugas perutusan kita, lewat menjalankan tugas rutinitas sehari-hari. Semoga Tuhan Yesus, lepaskanlah sikap egois kita dan menambahkan semangat total dalam mengabdikan diri kepada kehendak-Nya. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 16 Mar 2026

Senin Prapaskah IV, 16 Maret 2026Yes 65:17-21 | Yoh 4:43-54 Sekali peristiwa, Yesus berangkat dari Samaria dan pergi ke Galilea. Sebab Ia sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Setelah Yesus tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan Yesus di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu. Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, yang anaknya sedang sakit. Ketika pegawai itu mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya, lalu meminta supaya Yesus datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Maka kata Yesus kepadanya, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” Pegawai istana itu berkata kepada-Nya, “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. […] Datang kepada Yesus: Dari Kebutuhan Menuju Iman Injil hari ini menceritakan seorang pegawai istana yang datang kepada Yesus dengan kegelisahan yang sangat manusiawi: anaknya sedang sakit keras. Ia memohon agar Yesus datang menyembuhkan anaknya. Permohonan ini lahir dari kepedulian seorang ayah yang takut kehilangan. Namun Yesus menanggapi dengan sebuah pernyataan yang mengundang refleksi: manusia sering datang kepada-Nya karena ingin melihat tanda dan mukjizat. Pada zaman Yesus, banyak orang mencari-Nya karena berbagai alasan. Ada yang ingin disembuhkan, ada yang ingin melihat mukjizat, ada yang tertarik pada ajaran-Nya, dan ada pula yang sungguh ingin mengikuti-Nya. Motivasi orang datang kepada Yesus sangat beragam. Kisah pegawai istana ini memperlihatkan perjalanan iman yang menarik. Ia datang karena kebutuhan mendesak, tetapi akhirnya pulang dengan iman yang lebih dalam. Ia percaya pada sabda Yesus bahkan sebelum melihat hasilnya.Kontras ini terasa dekat dengan kehidupan kita sekarang, khususnya dalam dunia akademik. Civitas akademika, (mahasiswa, dosen, peneliti, dan tenaga kependidikan) hidup dalam berbagai motivasi. Mahasiswa belajar dengan tujuan yang berbeda-beda: ada yang mengejar cita-cita, ada yang mencari masa depan yang lebih baik, ada yang ingin membanggakan keluarga, dan ada juga yang sekadar mengikuti arus. Demikian pula dalam dunia kerja dan pelayanan di kampus: ada yang terdorong oleh panggilan, ada yang digerakkan oleh tanggung jawab, ada yang mengejar prestasi, dan ada yang bertahan karena kebutuhan.Hal yang sama bisa terjadi dalam relasi kita dengan Tuhan. Kita datang kepada-Nya dengan motivasi yang berbeda-beda. Ada yang berdoa ketika menghadapi kesulitan, ada yang mencari penghiburan ketika lelah, ada yang memohon pertolongan ketika rencana hidup terasa tidak pasti. Semua itu sangat manusiawi. Kisah Injil hari ini menunjukkan bahwa Yesus tidak menolak motivasi-motivasi awal tersebut. Ia menerima orang yang datang dengan kebutuhan. Namun Ia juga mengajak mereka melangkah lebih jauh: dari sekadar mencari bantuan menuju iman yang lebih dalam.Masa Prapaskah adalah kesempatan untuk melihat kembali motivasi kita. Mengapa kita datang kepada Tuhan? Apakah kita hanya mencari solusi bagi masalah hidup, ataukah kita sungguh ingin berjalan bersama-Nya? Dalam perjalanan iman, sering kali kebutuhan menjadi pintu masuk menuju perjumpaan yang lebih dalam dengan Allah. Pegawai istana dalam kisah ini belajar percaya pada sabda Yesus. Ia pulang dengan harapan, meskipun belum melihat bukti apa pun. Kepercayaannya menjadi nyata ketika ia mengetahui bahwa anaknya sembuh tepat pada saat Yesus berkata, “Anakmu hidup.” Dari pengalaman itu, bukan hanya dirinya, tetapi seluruh keluarganya menjadi percaya. Di tengah dinamika dunia akademik yang penuh tantangan, kisah ini mengingatkan kita bahwa iman juga adalah perjalanan. Kita mungkin datang kepada Tuhan dengan banyak alasan, tetapi Tuhan mengundang kita untuk terus bertumbuh dalam kepercayaan. Ketika kita belajar percaya pada sabda-Nya, kita menemukan kekuatan untuk melangkah dengan harapan, bahkan ketika hasilnya belum terlihat.Semoga selama Masa Prapaskah ini, kita berani menata kembali motivasi hati kita. Datang kepada Tuhan bukan hanya ketika kita membutuhkan sesuatu, tetapi juga karena kita ingin hidup bersama-Nya. Dari relasi yang semakin dalam itu, karya, studi, dan pelayanan kita di dunia akademik dapat menjadi sarana menghadirkan harapan bagi banyak orang. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 12 Mar 2026

Kamis Prapaskah III, 12 Maret 2026Yer.7:23-28; Luk.11:14-21 Lukas 11:14-21Pada suatu kali Yesus mengusir dari seorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Maka heranlah orang banyak. Tetapi ada di antara mereka yang berkata: “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? […] Setan Pembisu Hari ini Yesus mengusir setan. Injil Lukas menceritakan Yesus mengusir setan pembisu yang berdiam dalam diri seseorang. Yesus pun ingin mengusir setan dalam diri kita, yaitu setan-setan kecil yang membuat kita bungkam saat menyaksikan ketidakadilan dan tidak mau menyuarakan-memperjuangkan keadilan, yang membuat kita bisu sehingga enggan untuk berdamai, tidak mau mengucap doa atau pujian penyembahan, dan masih banyak lagi. Setan adalah kekuatan roh jahat dan merupakan kekuatan abadi. Ada dalam diri setiap orang dan mempengaruhi cara berpikir, cara merasa, ambil keputusan, dan cara bertindak seseorang. Setan mengajak orang pelan-pelan menjauh dari Tuhan. Kekuatan roh jahat ini mendorong orang menjadi sombong, menanam kebencian, menimbulkan perpecahan, serta membuat orang keras hati dan tidak mau mengampuni. Tetapi, dalam diri setiap orang juga ada kekuatan abadi yang lain, yaitu kekuatan Roh Baik. Roh Baik itu adalah Roh Tuhan. Kekuatan Roh Baik juga mempengaruhi pikiran, perasaan, hati, kehendak, pilihan ambil keputusan, dan cara bertindak seseorang. Ciri Roh Baik adalah mempengaruhi orang untuk selalu berbuat baik dan melakukan kehendak Tuhan; mendorong orang untuk tetap bersemangat hidup, berani berjuang dalam kesulitan, penderitaan, rasa sakit, dan tetap berharap pada Tuhan; serta mendorong orang untuk mau berdamai, mau selalu membarui diri, memperbaiki diri dan bertobat terus-menerus. Kekuatan mana dari antara roh jahat dan Roh Baik itu yang lebih dominan dan sedang berdiam dalam diriku? Jangan biarkan kita dikuasai setan-setan kecil dan setan pembisu. Mari kita selalu datang kepada Yesus, Sang Kekuatan pengusir dan penghancur daya setan. Semangat pagi. Tuhan memberkati!**NW

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 9 Mar 2026

Senin Prapaskah III, 9 Maret 20262Raj.5:1-15a; Luk.4:24-30 Lukas 4:24-30Dan kata-Nya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.” […] Jangan Menyepelekan! Jangan menyepelekan orang lain atau sesuatu dan gampang panas hati, karena Allah kerap bekerja dalam diri orang sederhana dan hal-hal yang biasa. Inilah pesan sabda Tuhan hari ini dari Kitab 2 Raja-raja dan Injil Lukas. Naaman orang Siria menyepelekan nabi Elisa. Sementara, Yesus disepelekan oleh orang-orang Yahudi tetangga-tetangga-Nya. Dua kitab itu mengangkat kisah Naaman orang Siria yang disembuhkan Allah lewat nabi Elisa. Naaman sakit kusta kemudian menemui nabi Elisa. Nabi Elisa memintanya mandi tujuh kali di sungai Yordan. Tetapi, apa reaksi Naaman? Ia panas hati dan menyepelekan nabi Elisa. Ia gusar dan sombong yang membuat dia meremehkan, menyepelekan, hal sederhana yang disuruhkan nabi Elisa padanya. Untung, Naaman berhasil dibujuk hambanya sehingga berubah dan mau menuruti petunjuk nabi Elisa. Kalau dia tetap menyepelekan dan keukeuh panas hati hingga tidak mau menuruti nabi Elisa, pastilah dia tidak sembuh dari kustanya. Dalam peristiwa Naaman itu, nyatalah Allah bekerja dalam hal yang sederhana dan biasa, tidak spektakuler: “mandi tujuh kali di sungai Yordan.” Yesus disepelekan orang-orang Yahudi tetangga-tetangga-Nya sendiri. Yesus sampaikan, “Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asal-Nya.” Mereka meremehkan, menyepelekan Yesus karena Yesus orang biasa, sama dengan mereka. Mereka tahu masa kecil dan remaja Yesus. Dia anak Yusup tukang kayu. Mereka juga panas hati dan bingung terhadap Yesus sehingga menggiring Yesus ke tebing untuk melemparkan-Nya. Kita tahu orang-orang Yahudi itu mengalami kehancuran (tahun 70 Bait Allah dihancurkan oleh tentara Romawi). Allah bekerja dalam pribadi yang remeh. Yesus adalah Anak Allah yang merendahkan diri-Nya menjadi manusia sama seperti kita. Ia dipandang hina, dianggap remeh, disepelelekan, padahal Dialah pribadi Allah yang menyelamatkan. Kita kadang menyepelekan orang lain yang lebih rendah status sosial-ekonominya, pekerjaannya, keadaan keluarganya, jalan hidupnya. Siapa tahu kelak justru kita butuh pertolongan darinya. Kelak, justru dia jadi pimpinan atau atasan kita. Atau, kita menyepelekan hal-hal atau peristiwa hidup entah tugas tertentu, pekerjaan, pemberian orang, dsb. Padahal Allah sedang bekerja dalam dan lewat orang-orang itu, hal-hal biasa itu, dan peristiwa-peristiwa hidup biasa. Jangan pernah menyepelekan dan gampang panas hati, karena Allah bekerja dalam pribadi, sesuatu dan peristiwa yang biasa. Semangat pagi. Tuhan memberkati!**NW

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 6 Mar 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Jumat Pekan Prapaskah II, 6 Maret 2026Matius 21:33—46 Batu Penjuru Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita”. (Mat. 21:42). Perumpamaan tentang kebun anggur adalah kisah mengenai tindakan kekerasan yang kejam dan berdarah, sampai menghilangkan nyawa orang! Orang-orang yang tidak bersalah dipukuli dan dianiaya oleh mereka yang berambisi buruk. Darah Yesus yang dicurahkan dari atas kayu salib menjadi bagian dari sejarah sekian banyak darah orang-orang tak bersalah dari abad ke abad. Dalam dunia yang semakin canggih ini, semakin banyak pula korban-korban tak bersalah. Mereka yang tidak mendapat bagian yang adil dalam distribusi sumber daya alam, menjadi korban eksploitasi lingkungan hidup yang merusak/pencemaran udara, air dan lapisan ozone. Korban ketidak-hati-hatian, keserakahan, ketidak-pekaan dari orang-orang lain. Dalam konteks ini kita dipanggil untuk melanjutkan sebagai batu penjuru, seperti yang sudah diteladankan oleh Yesus dahulu. “… Yesus Kristus telah berbuat demikian, dan dalam ekaristi, kita memperingati persembahan diri-Nya dengan penuh syukur. Dengan penuh syukur, kita memperingati hidup, wafat, dan kebangkitan-Nya. Dalam perayaan ekaristi, kita mengungkapkan keinginan kita untuk mengikuti teladan Yesus, dan karena-Nya ingin mempersembahkan diri kita dalam persembahan kasih terhadap sesama kita. Sebagai umat beriman, dan sebagai pengikut Kristus, kita sudah dibabtis dan mendapat tugas perutusan, mewartakan Kerajaan Allah” Semoga Allah menguatkan kita untuk melanjutkan misi Yesus, yakni menjadi batu penjuru, mengurbankan diri demi penyelamatan. Semoga Yesus yang telah menjadi korban ketamakan manusia menguatkan kita dalam menjalankan tugas perutusan kita dan menerangi cara pandang kita, untuk tabah apabila menjadi korban dari kelalaian orang lain, dan berupaya untuk tidak menjadikan orang lain menjadi korban demi kepentingan-kepentingan manusiawi kita. Semoga Roh Kudus selalu membimbing kita dalam membiasakan diri untuk mendahulukan orang lain. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Scroll to Top