🩷 Sapa Jiwa CM 🩷
Rabu Biasa XVIII, 5 Agustus 2026
Yer.31:1-7; Mat.15: 21-28
Matius 15:21-28
Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.” Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” […]
Iman Tahan Banting
Terhadap suatu masalah, reaksi orang begitu beragam. Ada yang pasrah, menyerah kalah. Ada yang panik dan emosi. Ada yang cuek, masa bodoh. Ada yang justru lari dari masalah. Ada pula yang sibuk mencari “kambing hitam” untuk lepas tanggung jawab. Tetapi, ada juga yang merespon positif, gigih dan berjuang menghadapi masalah itu.
Injil hari ini menampilkan seorang wanita Kanaan. Wanita ini sedang menghadapi masalah besar. Pertama, anak perempuannya kerasukan setan. Kedua, dia dipandang rendah karena bukan warga bangsa Yahudi. Ia terkesan mendapatkan diskriminasi. Ketiga, penolakan Yesus. Ketika dia datang dan memohon kepada Yesus, jawaban Yesus terasa keras dan menyakitkan, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”
Apa jawaban ibu itu? Dia katakan, “Benar Tuhan! Tetapi, anjing-anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Ibu itu tidak marah, tidak kesal, tidak kecewa, tidak menghiraukan kata-kata keras dan bernada merendahkannya. Ia tetap gigih, keukeuh, tidak gentar, tidak putus asa, dan tidak merasa terhina.
Iman ibu itu tahan banting. Demi kesembuhan anak perempuannya, ibu itu tidak berdiam diri. Dia yakin bahwa Yesus dapat menyembuhkan anaknya. Namun, dia sadar bahwa dirinya orang non-Yahudi. Dengan kata lain, dia adalah orang kafir, tidak termasuk hitungan umat pilihan Allah. Maka, tidak mudah baginya untuk menjumpai Yesus. Tetapi, dia pantang menyerah, datang mendekat dan menyembah Yesus, sambil memohon. Iman tahan banting ibu dari Kanaan itu bersambut dengan tindakan Yesus menyembuhkan anaknya.
Bayangkan jika ibu itu gusar dan panas hati, marah, tidak terima disindir bagaikan anjing oleh perkataan Yesus. Kemudian, dia pergi begitu saja dari Yesus. Tidak memiliki iman tahan banting. Apa yang akan terjadi? Tentu anaknya tidak sembuh dan masih dirasuki setan. Dia sendiri pun tambah stress dan menderita memikirkan anaknya yang terus kerasukan roh jahat.
Dalam perjalanan hidup, kita juga kadang dihadapkan pada peristiwa-peristiwa yang menyangkut harga diri, seperti dibully, dilecehkan, direndahkan, diremehkan orang lain. Kita juga menemui masalah-masalah entah dalam pekerjaan, dalam hidup berkeluarga, maupun di tengah masyarakat dan lingkungan gereja. Bagaimana sikap tanggapan kita? Marah, gusar, emosi, cuek, lari dari masalah atau sebaliknya seperti ibu dari Kanaan itu? Ibu itu memiliki iman tahan banting. Dia tidak marah, tidak kecewa, tidak sakit hati, dan tidak berbalik mengata-ngatai Yesus. Pada akhirnya, Tuhan Yesus mengabulkan permohonannya, menyembuhkan dan melepaskan anak perempuannya dari gangguan roh jahat. Kata Yesus, “Terjadilah bagimu seperti yang kaukehendaki.”
Semangat pagi. Tuhan memberkati!**NW

