Sapa Jiwa CM Edisi 19 Agustus 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊
Rabu, pekan biasa XX
19 Agustus 2026
Matius 20:1—16a

Iri Hati

Tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.” (Mat. 20:13—16).

“Iri hatikah engkau?” Iri itu ada, tapi tidak menampakkan dirinya secara terang-terangan. Ia perlahan merasuki hati dan pelan-pelan menggerogoti kebahagiaan. Iri dengki yang tinggal dalam hati manusia menyebabkan orang tidak senang, saat melihat sesama/teman/sahabat lebih baik/mendapat prestasi, sukses. Orang yang telah diselimuti iri menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan, merendahkan, bahkan tega melukai, dan membunuh. Santo Agustinus menyebut iri hati sebagai dosa setani. Dosa setani atau dosa yang berasal dari sifat dasar setan adalah sombong, iri hati, dan menolak kebenaran. Iri hati terjadi dalam kehidupan manusia, meskipun mereka sebagai orang tua, pemuda, remaja, anak, pejabat, rohaniwan, biarawan-wati. Penyebabnya karena orang kurang bersyukur atas anugerah Tuhan. Ia justru membandingkan dirinya dengan orang lain. Rasa minder membuat iri hati ini semakin kuat tinggal di dalam hati seseorang. Iri hati menjadi bagian dari dosa pokok. Orang yang hatinya diselimuti iri hati menjadi tidak bahagia, penuh kecurigaan, dan maunya menyalahkan orang lain. Hari ini Yesus mengingatkan kita untuk menerima pemberian Tuhan dengan penuh syukur dan merasa cukup akan pemberian Tuhan itu. Kita sebagai manusia, ciptaan yang tak sempurna, kita hanya dapat melaksanakan hal tersebut di atas (membentuk persekutuan/komunitas/keluarga) secara tak sempurna dan banyak kekurangan. Meskipun demikian, kita tetap berusaha mengejar cita-cita ini. Walaupun kita saling melukai dan mengecewakan – karena kelemahan-kelemahan manusiawi – kita tetap berusaha melihat dan menghargai hal-hal yang baik dalam diri sesama kita.

Refleksi hari ini: Apakah aku sudah bersyukur atas pemberian Tuhan dalam hidup kita?
Tuhan Yesus yang baik, hari ini Engkau mengingatkan kami untuk mensyukuri apapun yang Engkau berikan dalam hidup kami. Bimbinglah kami senantiasa dalam perjuangan hidup kami sehari-hari. Jauhkanlah rasa iri dengki kepada sesama kami. Sehingga dengan demikian, kami dapat menjadi pribadi yang bebas dan bahagia. Sebab Engkaulah Tuhan, kini dan sepanjang masa. Amin.
Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi, memberkati selalu. 😇 [DAM]

Scroll to Top