🕊️ Sapa Jiwa CM 🕊️
Selasa Pekan Biasa XIX, 11 Agustus 2026
PW. St. Klara, Perawan
Yehezkiel 2:8-3:4 | Matius 18:1-5.10.12-14
Sekali peristiwa datanglah murid-murid dan bertanya kepada Yesus, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Maka Yesus memanggil seorang anak kecil, dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata, “Aku berkata kepadamu: Sungguh, jika kalian tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Malaikat-malaikat mereka di surga selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.” Lalu Yesus bersabda lagi, “Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan lalu pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu, sungguh, jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang.”
Tidak Ada yang Terlalu Kecil di Mata Tuhan
“Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” (Mat 18:3)
Dunia dimana kita hidup saat ini sering mengajarkan bahwa menjadi besar berarti memiliki kedudukan, kekuasaan, keberhasilan, dan pengakuan. Kita ingin dianggap penting, dihormati, dan diingat maka sadar tidak sadar kita mencari-cari kesempatan untuk mendapatkan ‘kekuasaan’ dalam level sekecil apapun. Tidak jarang kita pun mengukur nilai diri berdasarkan apa yang kita miliki atau pencapaian yang kita peroleh. Namun, Injil hari ini menawarkan ukuran yang berbeda. Ketika para murid bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?”, Yesus justru memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka.
Anak kecil ini menggambarkan kepada kita tentang kerendahan hati, ketulusan, kejernihan, kepercayaan, dan ketergantungan. Menjadi seperti anak kecil itu bukan berarti mengajak kita untuk menjadi lemah atau tidak dewasa. Yesus mengajak kita menyadari bahwa makna terdalam dari gambara anak kecil ini adalah bahwa kita semua membutuhkan Allah. Kita tidak dapat mengandalkan kekuatan, kemampuan, dan keberhasilan kita sendiri. Ada banyak situasi dalam hidup kita yang sebenarnya mengundang kita untuk mengandalkan Tuhan, situasi dimana kita mengalami ambang batas kemampuan kita, situasi dimana mengajak kita berani belajar dengan orang lain pun sekalipun mereka lebih tua atau lebih muda dari kita.
Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri atau menganggap diri tidak berharga. Justru sebaliknya, kerendahan hati mengajak kita agar melihat diri secara benar di hadapan Allah. Kita berharga di mata Allah bukan karena jabatan, prestasi, kekayaan, atau penghargaan dari manusia, melainkan semata-mata karena Allah yang terlebih dahulu mengasihi kita sebagai pribadi yang berharga di mata-Nya. Karena itu, Yesus memberikan perhatian khusus kepada mereka yang kecil, lemah, rentan, dan tersisih. Ia juga memperingatkan kita agar jangan sekalipun meremehkan seorang pun. Dalam pandangan Allah, tidak ada manusia yang boleh dianggap tidak penting. Satu pribadi pun memiliki nilai yang begitu besar di hadapan-Nya. Injil ini sekaligus menjadi undangan bagi kita untuk memiliki hati seperti hati Allah. Kerendahan hati tidak berhenti pada kesadaran bahwa kita membutuhkan Tuhan. Kerendahan hati mengajak kita untuk mengubah cara kita memandang sesama. Kita belajar menghargai mereka yang sering tidak diperhatikan, membuka hati mendengarkan siapapun yang ‘bersuara’, dan tidak cepat menghakimi pribadi yang satu dengan yang lain. Mungkin ada orang di sekitar kita yang merasa dirinya tidak berarti. Ada yang sedang jatuh, kehilangan arah, disisihkan karena perbedaan gagasan, atau menjauh dari Tuhan karena menjadi korban kekerasan. Barangkali kehadiran kita dapat menjadi jalan bagi mereka untuk merasakan bahwa mereka masih dicintai dan dihargai. Semoga hidup kita menjadi komunitas yang mencerminkan hati Sang Gembala: tidak melupakan yang kecil, tidak meninggalkan yang tersesat, dan tidak membuat seorang pun merasa tidak berharga. Sebab di mata Allah, setiap pribadi begitu berharga sehingga satu jiwa yang kembali pun menjadi alasan bagi surga untuk bersukacita🌿 Selamat beraktivitas ✨ Tuhan mengasihi 😇 [CA]

