🕊Sapa Jiwa CM🕊
Senin Biasa XV, 13 Juli 2026
Yes.1:11-17; Mat.10:34 – 11:1
Matius 10:34-11:1
“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku […]
Yesus Tak Mau Dimadu
Sabda Tuhan Yesus dalam Injil hari ini lugas, sangat keras, menantang, tetapi juga membingungkan. Yesus katakan, “Aku datang bukan membawa damai di bumi, melainkan pedang […] Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya, putra atau putrinya lebih daripada-Ku, tak layak bagi-Ku […] Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”
Beriman pada Tuhan Yesus dan mengikuti-Nya adalah pilihan radikal. Yesus tidak mau dimadu. Yesus ingin totalitas dan komitmen yang tegas dari para murid-Nya.
Yesus datang tidak membawa damai di bumi. Bumi adalah medan adu kekuatan dan perebutan roh jahat dan roh baik, kuasa gelap-jahat dan kuasa terang-kebenaran. Yesus datang membawa “keonaran” bagi roh-roh jahat. Ia membawa pedang untuk menumpas kuasa jahat dan menyingkirkan kuasa gelap. Bagi Yesus, tidak ada kata damai dan kompromi terhadap kekuatan dan pengaruh setan. Kompromi dengan setan dan kuasa gelapnya, manusia akan kalah karena setan itu pintar, licik, dan menjatuhkan.
Menjadi Katolik berarti mengikuti Yesus secara radikal, memusatkan diri hanya pada Tuhan Yesus Kristus, menjadikan nilai-nilai Kristus mengakar-tumbuh-berkembang dalam hidup kita. Tidak kompromi dengan kuasa setan, dan tidak membiarkan diri dikendalikan kuasa jahat. Ini semua dilakukan dan dihayati dalam hidup sehari-hari.
Tuhan memberkati!**NW

