🕊 Sapa Jiwa CM 🕊
Rabu Pekan Biasa XVI, 22 Juli 2026
Pesta St. Maria Magdalena
Kidung 3:1-4a | Yohanes 20:1.11-18
Pada hari Minggu Paskah, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur Yesus, dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang, dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian Maria menoleh ke belakang, dan melihat Yesus berdiri di situ; tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman. Maka ia berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa. Tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Tuhanlah yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.
Karena Allah Terlebih Dahulu Mengasihi Manusia
Sedikit cuplikan bacaan I dari Kidung Agung, sang mempelai menceritakan pencariannya yang tak kenal lelah: “Kucari dia yang dicintai hatiku.” Ia berkeliling, bertanya, dan terus mencari sampai akhirnya menemukan kekasih yang dirindukannya. Gambaran ini bukan sekadar pencarian akan cinta dari sesama manusia, melainkan melukiskan kerinduan terdalam jiwa manusia akan cinta Allah. Kerinduan yang sama tampak dalam diri Maria Magdalena pada Paskah pagi. Dalam Injil diceritakan bahwa Maria datang ke makam Yesus ketika hari masih gelap. Ketika mendapati makam kosong, ia tidak langsung memahami apa yang telah terjadi. Ia berdiri di luar makam sambil menangis. Ia mencari Tuhan yang dikasihinya, tetapi belum menyadari bahwa Dia yang dicarinya sudah berdiri di dekatnya. Puncak kisah itu terjadi ketika Yesus memanggil namanya: “Maria!” Pada saat itulah matanya terbuka dan hatinya mengenali Sang Guru yang telah bangkit. Pencarian berakhir dengan perjumpaan. Kesedihan berubah menjadi sukacita. Air mata berubah menjadi perutusan. Maria dijadikan Yesus sebagai pewarta pertama kebangkitan-Nya. Karena itulah Gereja memberikan tempat yang istimewa kepada Santa Maria Magdalena. Ketika Paus Fransiskus mengangkat peringatannya menjadi pesta dalam kalender liturgi Gereja, beliau menegaskan kembali peran penting Maria Magdalena dalam sejarah keselamatan. Ia dikenal sebagai “rasul bagi para rasul” karena dialah yang pertama kali menerima tugas untuk mewartakan kabar kebangkitan kepada para murid. Melalui dirinya, Gereja diingatkan akan pentingnya kesaksian perempuan dalam kehidupan dan perutusan Gereja.
Dalam perjalanan hidup, kita pun sering mengalami masa-masa gelap: penuh dengan kebingungan, kehilangan, dan pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban. Di saat itu seakan Tuhan menjauh: doa terasa hampa, harapan tampak tertutup oleh berbagai kesulitan hidup seolah dunia ini akan berakhir. Injil hari ini mengajarkan bahwa iman bukan pertama-tama soal menemukan Allah melalui usaha kita sendiri. Allah yang terlebih dahulu mencari dan memanggil kita. Ia yang terlebih dahulu mengenali kita. Dia bahkan yang terlebih dahulu memahami luka-luka kita dan memanggil kita untuk bangkit bersama-Nya. Sejarah hidup kita mungkin tampak rapuh dan penuh ketidaksempurnaan. Kita mungkin hanya melihat kegagalan, kehilangan, kekecewaan, atau jalan hidup yang berliku yang harus kita lalui. Namun dalam terang kebangkitan, kita hendaknya belajar bahwa hidup kita berada dalam tangan Allah yang penuh kasih. Allah sedang menenun kisah keselamatan-Nya bahkan melalui pengalaman-pengalaman yang tidak kita mengerti. Kasih Allah lebih besar daripada dosa, kegagalan, dan kematian. Kebangkitan Kristus adalah bukti bahwa akhir cerita manusia bukanlah kegelapan, melainkan kehidupan baru. Karena itu, ketika Tuhan memanggil nama kita, marilah kita menjawab dengan iman dan keberanian, lalu menjadi saksi harapan bagi dunia sebagaimana Maria Magdalena dahulu lakukan.
Refleksi: Dalam bagian hidup saya yang mana saat ini saya sedang “mencari Tuhan”? Apakah saya percaya bahwa bahkan di tengah kebingungan dan air mata, Tuhan tetap mengenal nama saya dan sedang memanggil saya?
Tuhan Yesus yang bangkit, seperti Maria Magdalena, aku sering mencari-Mu di tengah berbagai pergumulan hidup. Bukalah mataku agar mampu mengenali kehadiran-Mu yang sering tersembunyi dalam peristiwa sehari-hari. Ketika aku merasa kehilangan arah, panggillah namaku dan teguhkanlah imanku. Semoga aku semakin percaya bahwa seluruh hidupku berada dalam kebaikan-Mu dan dipanggil untuk menjadi saksi kebangkitan-Mu bagi sesama. Amin.
🌿 Selamat beraktivitas ✨ Tuhan mengasihi 😇 [CA]

