Sapa Jiwa CM Edisi 24 Juli 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊
Jumat Pekan Biasa XVI, 24 Juli 2026
Yeremia 3:14-17 | Matius 13:18-23

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Dengarkanlah arti perumpamaan penabur. Setiap orang yang mendengar sabda tentang Kerajaan Surga dan tidak mengerti, akan didatangi si jahat, yang akan merampas apa yang ditaburkan dalam hatinya. Itulah benih yang jatuh di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah berbatu-batu ialah orang yang mendengar sabda itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan hanya tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena sabda itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar sabda itu, lalu sabda itu terhimpit oleh kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan, sehingga tidak berbuah. Sedangkan yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar sabda itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus, ada yang enam puluh, dan ada yang tiga puluh ganda.”

Mendengarkan, bukan hanya sekadar mendengar
Dalam Injil hari ini, Yesus menjelaskan perumpamaan tentang penabur. Benih yang ditaburkan adalah firman Allah, sedangkan berbagai jenis tanah melambangkan cara manusia menerima Sabda itu. Ada benih yang jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu, di semak duri, dan ada pula yang jatuh di tanah yang baik hingga menghasilkan buah berlimpah. Melalui perumpamaan ini, Yesus mengajak kita memahami bahwa kualitas benih bukanlah menjadi persoalan utama. Benih yang ditaburkan Allah selalu baik karena berasal dari Allah sendiri. Yang menentukan berbuah tidaknya benih itu adalah keadaan tanah tempat benih itu jatuh. Dengan kata lain, yang menjadi pertanyaan bagi setiap orang beriman bukanlah apakah Tuhan berbicara kepada kita, melainkan apakah hati kita siap menerima Sabda-Nya.
Kita perlu membedakan antara mendengar dan mendengarkan. Mendengar adalah kemampuan menangkap suara. Kita mampu mendengar bacaan Kitab Suci setiap hari, mendengar homili, mengikuti doa, atau membaca renungan. Namun mendengarkan berarti memberi perhatian, memahami, dan membiarkan apa yang kita dengar memengaruhi cara kita hidup. Mendengarkan menuntut keterlibatan hati, bukan sekadar telinga. Yesus menggunakan perumpamaan justru untuk mengajak orang melampaui pendengaran yang dangkal. Ia ingin para pendengar-Nya merenungkan Sabda Allah dan membiarkannya berakar dalam kehidupan mereka. Sebab firman Allah bukan sekadar informasi rohani. Firman itu hidup dan memiliki daya untuk mengubah hati manusia. Dalam bacaan pertama, Nabi Yeremia memperlihatkan kerinduan Allah yang sama. Tuhan memanggil umat-Nya yang tercerai-berai untuk kembali kepada-Nya. Ia berjanji akan memberikan para gembala yang menggembalakan dengan pengetahuan dan kebijaksanaan. Lebih dari itu, Yeremia menubuatkan suatu masa ketika umat akan hidup begitu dekat dengan Allah sehingga kehadiran-Nya menjadi pusat kehidupan mereka. Allah menginginkan kedalaman relasi dengan umat-Nya. Ia menghendaki umat punya hati yang sungguh mendengarkan suara-Nya.
Tantangan yang kita hadapi saat ini tidak jauh berbeda dengan tanah-tanah dalam perumpamaan Yesus. Ada hati yang keras karena luka dan kekecewaan. Ada hati yang mudah bersemangat tetapi cepat menyerah ketika menghadapi kesulitan. Ada pula hati yang dipenuhi kekhawatiran, ambisi, dan berbagai kesibukan sehingga Sabda Tuhan kehilangan ruang untuk bertumbuh. Namun selalu ada kemungkinan untuk menjadi tanah yang baik, yaitu hati yang terbuka, tekun, dan setia memelihara firman yang diterimanya. Menjadi tanah yang baik artinya bukan melulu soal menjadi sempurna. Namun lebih pada bagaimana setiap hari kita berusaha menyediakan ruang bagi Tuhan untuk bekerja dalam diri kita. Kita membaca Sabda-Nya, merenungkannya, dan berusaha menerapkannya dalam keputusan-keputusan kecil maupun besar. Sedikit demi sedikit, firman itu akan berakar dan menghasilkan buah berupa kasih, kesabaran, pengampunan, kerendahan hati, dan kesetiaan. Hari ini, Tuhan kembali menaburkan benih Sabda-Nya ke dalam hati kita. Ia tidak meminta kita sekadar mendengar. Ia mengundang kita untuk mendengarkan dengan hati yang terbuka dan bersedia diubah. Sebab ketika firman Allah sungguh diterima, hidup kita tidak akan tetap sama.
Mari berefleksi: Tanah seperti apakah hati saya saat ini? Apakah Sabda Tuhan sungguh saya dengarkan dan hidupi, atau hanya saya dengar tanpa membiarkannya mengubah hidup saya?
Tuhan, jadikanlah hatiku tanah yang subur bagi Sabda-Mu. Singkirkanlah segala kekerasan hati, ketakutan, dan kesibukan yang menghalangi firman-Mu bertumbuh dalam diriku. Ajarlah aku untuk tidak hanya mendengar, tetapi sungguh mendengarkan dan melaksanakan kehendak-Mu, sehingga hidupku menghasilkan buah yang memuliakan nama-Mu. Amin.🌿 Selamat beraktivitas ✨ Tuhan mengasihi 😇 [CA]

Scroll to Top