Author name: Br. Damasus Agung M, FIC

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 27 Mar 2026

Jumat Pekan Prapaskah V, 27 Maret 2026Yohanes 10:31—42 Bersaksi tentang Panggilan Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, … Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, … Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata, “Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.” Dan banyak orang di situ percaya kepadaNya. (Yoh.10:37.40—42). Dalam Injil ini, Yesus kembali menghadapi penolakan keras. Ia hampir dirajam karena dianggap menghujat Allah. Namun Yesus tidak membela diri dengan kata-kata yang rumit. Ia mengarahkan perhatian orang banyak pada karya-karya-Nya, “Jika Akutidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku.” Dengan kata lain, identitas Yesus tidak terutama dibuktikan oleh klaim-Nya, tetapi oleh kehidupan dan perbuatan yang selaras dengan kehendak Bapa. Dalam hidup kita sebagai umat beriman, kita bisa banyak berbicara tentang banyak hal sebagai pengikut Kristus, sebagai orang katolik. Namun Injil hari ini menantang kita untuk bertanya, apakah hidup dan karya kita sungguh-sungguh memantulkan karya Bapa ? Apakah kehidupan keluarga kita, kehidupan kelompok kerja kita, kehidupan komunitas kita, apakah sudah menjadi ruang di mana orang dapat “melihat” Allah bekerja – melalui kesederhanaan hidup, melalui kesetiaan dalam pelayanan, dan melalui kasih yang nyata kepada sesama?Sebagai umat beriman dan sebagai anggota persekutuan terbuka, secara khusus kita dipanggil untuk menerima orang lain dengan murah hati. Para tamu (orang lain yang kita layani dalam tugas) hendaknya merasa kerasan tinggal bersama kita sebagai umat beriman. Semoga setelah membaca dan merenungkan perikop ini, setelah mendengarkan sabda Allah hari ini, banyak orang semakin percaya kepada Yesus bukan di pusat kekuasaan sebagai umat beriman, melainkan di tempat sunyi di seberang Sungai Yordan. Di sana, tanpa sensasi dan konflik, kebenaran dikenali melalui kesaksian hidup. Semoga Bunda Maria, membantu kita sebagai anak-anaknya, dan diteguhkan oleh Yesus untuk terus mengupayakan karya hidup kita menjadi sakramen kehadiran Allah, sehingga siapa pun yang melihatnya dapat berkata, “Di sini sungguh Allah berkarya”. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 26 Mar 2026

Kamis Pekan Prapaskah V, 26 Maret 2026Yohanes 8:51—59 Hidup oleh Sabda Yesus berkata, “Barang siapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” – “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh. 8: 51.58). Sabda ini diucapkan di tengah penolakan, salah paham, bahkan ancaman. Bagi banyak orang pada waktu itu, kata-kata Yesus terdengar berlebihan dan tidak masuk akal. Mereka mengenal Abraham, tokoh besar kaum beriman, tetapi tidak mampu mengenal Yesus sebenarnya. Di sinilah konflik terjadi: antara iman yang hidup dan agama yang hanya bersandar pada identitas dan tradisi. “Kabar gembira Yesus merupakan asas pokok pedoman hidup kita sebagai umat beriman”. Kita sebagai umat beriman, yang sudah dibabtis, dapat dengan mudah jatuh pada kebanggaan rohani: merasa “lebih dekat” dengan Allah karena status sebagai pengikut Kristus, merasa sudah lama menjadi orang katolik, atau sudah merasa banyak terlibat dalam kegiatan di gereja, di lingkungan dst. Namun Yesus tidak berkata, “Barang siapa memiliki identitas umat beriman,” melainkan “Barang siapa menuruti firman-Ku.” Hidup sebagai umat beriman, menjadi katolik, bukan pertama-tama soal siapa kita, melainkan bagaimana kita hidup setia pada Sabda setiap hari. Yesus juga menegaskan, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Ia menyatakan diri sebagai Allah yang hidup, yang hadir kini dan di sini. Bagi seorang umat beriman, hal ini berarti bahwa panggilan kita bukan nostalgia akan panggilan awal, saat dibabtis, dan diterima sebagai anggota gereja, sebagai orang katolik. Kristus hadir sekarang, dan di dalam rutinitas sehari-hari, di dalam ketegangan relasi, di dalam ketaatan dalam menjalankan tugas, dan di dalam kesetiaan menjalankan kehendak Allah, yang sering terasa sunyi. Semoga kita, sebagai umat beriman, dikuatkan disaat mengalami penolakan terhadap Yesus yang berujung pada usaha untuk melempari Dia dengan batu. Semoga kita semakin dikuatkan dalam menekuni kesetiaan pada sabda-Nya. Semoga Tuhan Yesus Kristus, menguatkan iman kita, untuk mengakarkan hidup kita kepada sabda Allah, sehingga kita bermakna, berbuah, dan tetap setia sampai akhir. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 25 Mar 2026

Rabu Prapaskah V, 25 Maret 2026Lukas 1:26—38❖ Hari Raya Kabar Sukacita Kasih Karunia Kesetiaan Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.” (Luk. 1:28—30). Malaikat Gabriel datang ke Nazareth menemui Maria, seorang perawan yang bertunangan dengan Yusuf. Malaikat Gabriel berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”. Kata “dikaruniai” menunjukkan Maria dipenuhirahmat Allah secara istimewa. Sapaan ini menegaskan Maria dipilih Allah untuk mengandung Yesus, sebagai kasih karunia unik. Maria teladan beriman sejati, setia melakukan kehendak-Nya, sehingga ia memperoleh karunia istimewa. Karunia istimewa melahirkan Yesus Kristus Sang Penebus. Maria orang pertama yang menerima penebusan Kristus. Penebusan Kristus tidak hanya menghapus dosa melainkan sungguh mengembalikan manusia kepada hakikat asli, yaitu gambar dan rupa Allah yang kudus. Inilah Kabar Sukacita yang mau disampaikan Gereja melalui Hari Raya Kabar Sukacita. Rahmat yang diterima Bunda Maria sekaligus merupakan sebuah tanda bahwa semua orang beriman yang setia akan memperoleh anugerah penebusan Kristus, dibebaskan dari dosa dan dipulihkan kembali menjadi citra Allah.Kita sebagai umat beriman, juga melihat kesetiaan dalam kehidupan Maria, yang dalam sukacita penuh kesetiaan melagukan Magnificatnya, dan yang dalam kegelapan penderitaan, berani berdiri di dekat salib. Semoga kita, sebagai umat beriman, semakin diteguhkan dalam meneladan Bunda Maria dalam kesetiaan melakukan kehendak Allah. Semoga berkat kesaksian Santa Perawan Maria, memberikan inspirasi kepada kita untuk menjadi pengikut Yesus yang setia melaksanakan kehendak Allah dengan tulus membaktikan diri dengan penuh syukur kepada Allah. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 24 Mar 2026

Selasa Pekan Prapaskah V, 24 Maret 2026Yohanes 8:21—30Mengabdi Total“Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia.” (Yoh. 8:26). Hari ini Tuhan Yesus menegaskan otoritas pengajaran dan penghakiman yang bersumber langsung dari Allah Bapa, yang mengutus-Nya. Yesus menyampaikan kebenaran ilahi yang Ia dengar dari Bapa kepada dunia. Ia menekankan kesatuan misi dan ketaatan-Nya kepada Bapa di tengah penolakan orang-orang yang tidak percaya.Ayat ini merupakan bagian dari pengajaran Yesus di Bait Allah yang menegaskan identitas-Nya sebagai utusan Allah, dan Ia menegur mereka yang berasal dari “bawah” (dunia) dan tidak memahami perkataan-Nya yang dari “atas”. Yesus hanya menyampaikan apa yang didengar-Nya dari Bapa, menunjukkan kesetiaan total dalam penyampaian Firman. Pengajaran Yesus adalah kebenaran, berbeda dengan pandangan dunia yang terbatas. Semoga kita mengimani semua itu. Semoga kita meneladan Yesus untuk mengabdi dengan total.Dalam pengabdian dan dalam menjalankan tugas sehari-hari, kita diharapkan sanggup bekerja dengan cara bagaimanapun serta di mana pun diberikan tugas, melalui para pemimpin kita, melalui para pemberi tugas perutusan, kita siap menjalankan perutusan tugas sesuai kehendak-Nya, terutama jika hal tersebut, kadang berlawanan dengan keinginan, kesenangan, atau penilaian kita sendiri. Hal ini mungkin amat sulit, namun sebagai umat beriman, kita menyediakan diri kita secara total menjalankan kehendakNya.Semoga kita diteguhkan dalam menjalankan tugas perutusan kita, lewat menjalankan tugas rutinitas sehari-hari. Semoga Tuhan Yesus, lepaskanlah sikap egois kita dan menambahkan semangat total dalam mengabdikan diri kepada kehendak-Nya. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 6 Mar 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Jumat Pekan Prapaskah II, 6 Maret 2026Matius 21:33—46 Batu Penjuru Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita”. (Mat. 21:42). Perumpamaan tentang kebun anggur adalah kisah mengenai tindakan kekerasan yang kejam dan berdarah, sampai menghilangkan nyawa orang! Orang-orang yang tidak bersalah dipukuli dan dianiaya oleh mereka yang berambisi buruk. Darah Yesus yang dicurahkan dari atas kayu salib menjadi bagian dari sejarah sekian banyak darah orang-orang tak bersalah dari abad ke abad. Dalam dunia yang semakin canggih ini, semakin banyak pula korban-korban tak bersalah. Mereka yang tidak mendapat bagian yang adil dalam distribusi sumber daya alam, menjadi korban eksploitasi lingkungan hidup yang merusak/pencemaran udara, air dan lapisan ozone. Korban ketidak-hati-hatian, keserakahan, ketidak-pekaan dari orang-orang lain. Dalam konteks ini kita dipanggil untuk melanjutkan sebagai batu penjuru, seperti yang sudah diteladankan oleh Yesus dahulu. “… Yesus Kristus telah berbuat demikian, dan dalam ekaristi, kita memperingati persembahan diri-Nya dengan penuh syukur. Dengan penuh syukur, kita memperingati hidup, wafat, dan kebangkitan-Nya. Dalam perayaan ekaristi, kita mengungkapkan keinginan kita untuk mengikuti teladan Yesus, dan karena-Nya ingin mempersembahkan diri kita dalam persembahan kasih terhadap sesama kita. Sebagai umat beriman, dan sebagai pengikut Kristus, kita sudah dibabtis dan mendapat tugas perutusan, mewartakan Kerajaan Allah” Semoga Allah menguatkan kita untuk melanjutkan misi Yesus, yakni menjadi batu penjuru, mengurbankan diri demi penyelamatan. Semoga Yesus yang telah menjadi korban ketamakan manusia menguatkan kita dalam menjalankan tugas perutusan kita dan menerangi cara pandang kita, untuk tabah apabila menjadi korban dari kelalaian orang lain, dan berupaya untuk tidak menjadikan orang lain menjadi korban demi kepentingan-kepentingan manusiawi kita. Semoga Roh Kudus selalu membimbing kita dalam membiasakan diri untuk mendahulukan orang lain. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 5 Mar 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Kamis Pekan Prapaskah II, 5 Maret 2026Lukas 16:19—31 Lazarus Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. (Luk.16:24—26). Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa menjadi begitu sibuk dengan kenyamanan dan rutinitas, hingga kita tak lagi peka/peduli terhadap penderitaan orang lain di sekitar kita. Kita melihat, tetapi tidak sungguh memperhatikan; kita tahu, tetapi tidak tergerak. Hati dapat menjadi tumpul bukan karena kejahatan besar, melainkan karena kebiasaan mengabaikan hal yang kecil dan lemah. Dalam Injil Lukas 16:19-31, Yesus mengisahkan tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin. Jurang yang memisahkan diantara mereka di dunia ternyata berlanjut setelah kematian. Bukan kekayaan yang dikutuk, melainkan ketidakpedulian. Orang kaya itu tidak menyiksa Lazarus; ia (orang kaya tersebut) hanya tidak melakukan apa-apa. Injil hari ini menegaskan bahwa kesempatan untuk mengasihi orang lain, sudah ada di saat ini/sekarang, dan Sabda Tuhan sudah cukup untuk menuntun kita bertobat. Sebagai umat beriman dan sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk hidup sederhana dan solider. Tema Ardas (Arah Dasar) IX Keuskupan Agung Semarang (KAS) periode 2026–2030 adalah “Gereja yang Bahagia, Menginspirasi dan Menyejahterakan”. Tema ini menekankan peran umat untuk menghidupi iman secara mendalam, membawa sukacita, menjadi inspirasi, serta menciptakan kesejahteraan bagi sesama. Dengan teman ini, kita diajak untuk menjadikan masyarakat sejahtera dan bahagia, mengajak kita bukan hanya melepaskan harta, tetapi juga membuka hati. Dalam hidup bermasyarakat dan dalam berkarya, mungkin ada “Lazarus” yang hadir dalam bentuk saudara yang sedang kesepian, umat yang terabaikan, atau rekan kerja yang membutuhkan perhatian. Kesetiaan kita pada Injil sungguh nyata ketika kita memilih peduli dan bertindak, berbuat sesuatu untuk saudara kita “Lazarus”. Kita sebagai umat beriman, yang mengandalkan Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Kita mempercayakan diri kepada Tuhan Yesus Kristus dengan menjalankan tugas sehari-hari dengan rasa peduli terhadap keprihatinan yang terjadi di sekitar kita.Kita bersyukur karena Allah selalu hadir, dan semoga Tuhan Yesus, meneguhkan kita agar kita semakin peka terhadap “Lazarus” yang hadir di sekitar kita. Semoga Allah yang penuh belas kasih, semakin melembutkan hati kita, agar semakin peka terhadap mereka yang menderita, dan kita semakin setia mengasihi dengan tindakan nyata. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 4 Mar 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Rabu Pekan Prapaskah II, 4 Maret 2026Matius 20:17—28 Melayani dengan Hati Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. (Mat 20:26b—28). Dalam kehidupan bersama, keinginan untuk diakui dan dihargai sering muncul tanpa kita sadari. Kita ingin dipercaya dan memegang tanggung jawab, serta ingin ditempatkan di posisi penting, atau dianggap lebih mampu daripada yang lain. Bahkan dalam pelayanan rohani, ambisi ini bisa menyelinap secara halus. Di balik semangat melayani, tersimpan kerinduan untuk “menjadi yang terbesar”. Dalam Injil Matius 20:17-28, Yesus justru berbicara tentang penderitaan dan salib-Nya, sementara para murid memikirkan kedudukan atau status. Ia menegaskan bahwa dalam Kerajaan Allah, yang terbesar adalah yang menjadi pelayan, dan Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya. Kebesaran sejati bukan soal kuasa, melainkan kasih yang rela berkorban. Sebagai umat beriman, kita dipanggil mengikuti Kristus yang melayani sampai tuntas. Kita hidup sebagai pengikut Kristus, dan sebagai umat beriman bukan sebagai jalan mencari kehormatan, tetapi jalan pemberian diri setiap hari: hal ini dapat diwujudkan saat menjalankan tugas sederhana, dalam ketaatan yang mungkin tidak mudah, dan dalam kesetiaan pada keluarga, dalam menjalankan tugas rutinitas di kantor, di tempat kita bekerja atau di dalam komunitas dimana kita berada di dalamnya. Ketika kita melayani dengan hati yang rela berkorban, kita sudah mengambil bagian dalam cara Kristus menghadirkan Kerajaan Allah. Semoga kita semakin diteguhkan dalam menjalankan tugas pelayanan kita, dalam melayani dengan hati dan rela berkorban. Semoga Tuhan Yesus Kristus, selalu mendidik kita untuk melayani dengan rendah hati dan rela berkorban seperti yang sudah diteladankan oleh Yesus, sehingga kita menjadi hidup dan menjadi tanda kasih-Mu. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 3 Mar 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Selasa Pekan Prapaskah II, 3 Maret 2026Matius 23:1—12 Rendah Hati Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi, karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di Surga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barang siapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:8-12) Dalam kehidupan sehari-hari, ada godaan halus untuk mencari pengakuan. Kita senang apabila dihargai, disebut berjasa, atau dipuji karena pelayanan kita. Tanpa sadar, kita bisa lebih sibuk membangun citra daripada membangun ketulusan hati. Kata-kata dan tindakan bisa tampak benar di luar, tetapi motivasi di dalam belum tentu murni. Dalam Injil Matius 23:1-12, Yesus menegurahli Taurat dan orang Farisi yang pandai mengajar tetapi tidak melakukan. Mereka melakukan semuanya supaya dilihat orang dan mencari tempat terhormat.Yesus menegaskan bahwa yang terbesar adalah dia yang menjadi pelayan, dan barang siapa merendahkan diri, dia akan ditinggikan. Bacaan Injil hari ini mengajak kita pada kesatuan antara kata dan perbuatan, serta pada kerendahan hati sejati di hadapan Allah. Sebagai umat orang beriman, panggilan hidup kita bukan mencari gelar atau penghormatan, melainkan setia melayani dalam kesederhanaan. Hidup kita sebagai umat beriman, menjadi jalan yang kongkret untuk merendahkan diri dan mengutamakan Kristus. Kesaksian hidup kita sebagai umat beriman, menjadi kuat bukan karena jabatan, karena pangkat, atau karena jasa kita; tetapi karena ketulusan dan kerendahan hati.Kabar Gembira Yesus merupakan asas pokok pedoman hidup kita sebagai umat beriman; dan melalui sakramen inisiasi, kita sebagai umat beriman berjanji ingin mengabdikan diri demi Kerajaan Allah (mewartakan Kerajaan Allah). Semoga kita selalu diteguhkan, dikuatkan dalam menjalankan tugas pelayanan, sehingga kita sungguh-sungguh lahir dari kerendahan hati bukan dari keinginan untuk dihargai. Semoga Tuhan Yesus Kristus yang rendah hati, selalu membimbing kita, agar kita selalu setia melakukan Sabda-Allah dan melayani dengan tulus tanpa mencari pujian. Semoga hari ini, kita melakukan satu pelayanan tersembunyi dengan sukacita tanpa menceritakannya kepada siapa pun. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 2 Mar 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Senin Prapaskah II, 2 Maret 2026Lukas 6:36—38 Belas Kasih Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. (Luk 6:36—37). Dalam hidup bersama, sering kali kita mudah menilai dan mengukur orang lain. Kesalahan kecil saudara terasa besar, sementara kelemahan diri sendiri tampak ringan. Kita ingin dimengerti, tetapi sulit memberi pengertian; ingin diampuni, tetapi berat mengampuni. Dalam dinamika hidup bersama, dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, tempat kerja atau dalam komunitas, sikap menghakimi dapat muncul secara halus melalui kata, sikap diam, atau bisik-bisik yang melukai. Dalam Injil Lukas 6:36-38, Yesus bersabda, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati… Jangan kamu menghakimi… ampunilah dan kamu akan diampuni… Berilah dan kamu akan diberi.” Yesus menyingkapkan wajah Allah yang penuh belas kasih. Ukuran yang kita pakai untuk sesama akan menjadi ukuran bagi kita. Bacaan Injil hari ini mengundang kita keluar dari lingkaran penghakiman menuju kelimpahan kasih yang memberi tanpa perhitungan. Sebagai umat beriman, kita dipanggil menjadi tanda kerahiman Allah dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di komunitas keluarga, masyarakat dan di tempat karya pelayanan, yang selalu kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Belas kasih diwujudkan dalam kesediaan mendengar tanpa cepat menghakimi, menegur dengan kasih, serta mengampuni dengan tulus. Kehidupan beriman dan persaudaraan akan menjadi subur apabila kita memilih memberi pengertian, memberi waktu dan perhatian, bukan menyimpan penilaian. Di situlah Allah mencurahkan “takaran yang baik, yang dipadatkan dan digoncang.” Kita hendaknya berkali-kali dengan murah hati memberikan pengampunan yang seseorang kepada yang lain dan kepada mereka yang telah melukai kita. Semoga kita semakin diteguhkan dan dikuatkan dalam menghadirkan belas kasih Allah. Semoga Allah yang Maharahim, mengajari kita semakin menjadi murah hati, tidak menghakimi, dan rela mengampuni sesama, agar hidup kita semakin memancarkan kasih Allah. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA UAJY Edisi 13 Feb 2026

Jumat, 13 Februari, Markus 7:31—37Pekan Biasa V Membuka Diri Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. (Mrk. 7:34—35). Dalam Injil hari ini kita menyaksikan sentuhan personal Yesus yang penuh belas kasihan saat Ia menyembuhkan seorang tuli dan gagap. Kata “Efata” yang berarti “Terbukalah” bukan sekadar perintah medis untuk memulihkan fungsi fisik, melainkan sebuah seruan ilahi agar seluruh keberadaan kita terbuka bagi kehadiran Allah. Yesus memulihkan hambatan komunikasi pria tersebut agar ia tidak lagi terisolasi, melainkan mampu menjalin relasi yang utuh dengan sesamadan pencipta-Nya. Penyembuhan yang dilakukan Yesus mengundang kita untuk melakukan transformasi batiniah dalam keseharian. Membuka “telinga batin” berarti memiliki kepekaan untuk mendengar suara Tuhan di tengah kebisingan dunia, sementara memulihkan “lidah” berarti keberanian untuk mewartakan kebenaran dengan penuh kasih. Kita dipanggil untuk menjadi pembawa kabar baik yang memulihkan harapan bagi sesama, mengubah kegagapan iman kita menjadi kesaksian hidup dan berdampak bagi kemuliaan nama-Nya. Untuk itu diperlukan waktu doa dan hening, membuka diri akan kehendak dan bimbingan-Nya. Hendaknya kita berusaha menyediakan waktu yang lebih lama untuk doa dan refleksi dalam hidup kita. Saat-saat doa amat sangat penting bagi pemahaman diri serta hidup kita sebagai umat beriman, bagi peningkatan hubungan pribadi kita dengan Allah, bagi keterbukaan kita terhadap Roh Allah dan bagi pendalaman kepedulian dalam menjalankan tugas sehari hari. Refleksi: Sudahkah aku menyediakan waktu lebih lama untuk doa dan refleksi pribadi?Marilah berdoa: Bapa, bukalah hati kami supaya kami semakin mampu mewartakan kasih dan kebenaran-Mu. Amin.Pengutusan: Dalam keheningan mendengarkan suara Roh Allah. Kita mohon rahmat untuk para pengurus Yayasan, para pemangku jabatan di UAJY, para pihak yang mendukung UAJY, para pemerhati, dan para donatur UAJY.Selamat beraktifitas, Tuhan memberkati #DAM#

Scroll to Top