Renungan

Kategori ini merupakan ruang teduh digital yang menyediakan asupan rohani harian bagi mahasiswa di tengah padatnya aktivitas akademik.

Isi: Refleksi singkat berdasarkan Kitab Suci, ulasan ajaran Gereja Katolik yang kontekstual, doa-doa harian, serta tulisan inspiratif tentang menemukan Tuhan dalam rutinitas perkuliahan.

Fokus: Kedalaman batin, ketenangan spiritual, dan penguatan iman personal.

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 5 Mar 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Kamis Pekan Prapaskah II, 5 Maret 2026Lukas 16:19—31 Lazarus Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. (Luk.16:24—26). Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa menjadi begitu sibuk dengan kenyamanan dan rutinitas, hingga kita tak lagi peka/peduli terhadap penderitaan orang lain di sekitar kita. Kita melihat, tetapi tidak sungguh memperhatikan; kita tahu, tetapi tidak tergerak. Hati dapat menjadi tumpul bukan karena kejahatan besar, melainkan karena kebiasaan mengabaikan hal yang kecil dan lemah. Dalam Injil Lukas 16:19-31, Yesus mengisahkan tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin. Jurang yang memisahkan diantara mereka di dunia ternyata berlanjut setelah kematian. Bukan kekayaan yang dikutuk, melainkan ketidakpedulian. Orang kaya itu tidak menyiksa Lazarus; ia (orang kaya tersebut) hanya tidak melakukan apa-apa. Injil hari ini menegaskan bahwa kesempatan untuk mengasihi orang lain, sudah ada di saat ini/sekarang, dan Sabda Tuhan sudah cukup untuk menuntun kita bertobat. Sebagai umat beriman dan sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk hidup sederhana dan solider. Tema Ardas (Arah Dasar) IX Keuskupan Agung Semarang (KAS) periode 2026–2030 adalah “Gereja yang Bahagia, Menginspirasi dan Menyejahterakan”. Tema ini menekankan peran umat untuk menghidupi iman secara mendalam, membawa sukacita, menjadi inspirasi, serta menciptakan kesejahteraan bagi sesama. Dengan teman ini, kita diajak untuk menjadikan masyarakat sejahtera dan bahagia, mengajak kita bukan hanya melepaskan harta, tetapi juga membuka hati. Dalam hidup bermasyarakat dan dalam berkarya, mungkin ada “Lazarus” yang hadir dalam bentuk saudara yang sedang kesepian, umat yang terabaikan, atau rekan kerja yang membutuhkan perhatian. Kesetiaan kita pada Injil sungguh nyata ketika kita memilih peduli dan bertindak, berbuat sesuatu untuk saudara kita “Lazarus”. Kita sebagai umat beriman, yang mengandalkan Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Kita mempercayakan diri kepada Tuhan Yesus Kristus dengan menjalankan tugas sehari-hari dengan rasa peduli terhadap keprihatinan yang terjadi di sekitar kita.Kita bersyukur karena Allah selalu hadir, dan semoga Tuhan Yesus, meneguhkan kita agar kita semakin peka terhadap “Lazarus” yang hadir di sekitar kita. Semoga Allah yang penuh belas kasih, semakin melembutkan hati kita, agar semakin peka terhadap mereka yang menderita, dan kita semakin setia mengasihi dengan tindakan nyata. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 4 Mar 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Rabu Pekan Prapaskah II, 4 Maret 2026Matius 20:17—28 Melayani dengan Hati Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. (Mat 20:26b—28). Dalam kehidupan bersama, keinginan untuk diakui dan dihargai sering muncul tanpa kita sadari. Kita ingin dipercaya dan memegang tanggung jawab, serta ingin ditempatkan di posisi penting, atau dianggap lebih mampu daripada yang lain. Bahkan dalam pelayanan rohani, ambisi ini bisa menyelinap secara halus. Di balik semangat melayani, tersimpan kerinduan untuk “menjadi yang terbesar”. Dalam Injil Matius 20:17-28, Yesus justru berbicara tentang penderitaan dan salib-Nya, sementara para murid memikirkan kedudukan atau status. Ia menegaskan bahwa dalam Kerajaan Allah, yang terbesar adalah yang menjadi pelayan, dan Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya. Kebesaran sejati bukan soal kuasa, melainkan kasih yang rela berkorban. Sebagai umat beriman, kita dipanggil mengikuti Kristus yang melayani sampai tuntas. Kita hidup sebagai pengikut Kristus, dan sebagai umat beriman bukan sebagai jalan mencari kehormatan, tetapi jalan pemberian diri setiap hari: hal ini dapat diwujudkan saat menjalankan tugas sederhana, dalam ketaatan yang mungkin tidak mudah, dan dalam kesetiaan pada keluarga, dalam menjalankan tugas rutinitas di kantor, di tempat kita bekerja atau di dalam komunitas dimana kita berada di dalamnya. Ketika kita melayani dengan hati yang rela berkorban, kita sudah mengambil bagian dalam cara Kristus menghadirkan Kerajaan Allah. Semoga kita semakin diteguhkan dalam menjalankan tugas pelayanan kita, dalam melayani dengan hati dan rela berkorban. Semoga Tuhan Yesus Kristus, selalu mendidik kita untuk melayani dengan rendah hati dan rela berkorban seperti yang sudah diteladankan oleh Yesus, sehingga kita menjadi hidup dan menjadi tanda kasih-Mu. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 3 Mar 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Selasa Pekan Prapaskah II, 3 Maret 2026Matius 23:1—12 Rendah Hati Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi, karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di Surga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barang siapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:8-12) Dalam kehidupan sehari-hari, ada godaan halus untuk mencari pengakuan. Kita senang apabila dihargai, disebut berjasa, atau dipuji karena pelayanan kita. Tanpa sadar, kita bisa lebih sibuk membangun citra daripada membangun ketulusan hati. Kata-kata dan tindakan bisa tampak benar di luar, tetapi motivasi di dalam belum tentu murni. Dalam Injil Matius 23:1-12, Yesus menegurahli Taurat dan orang Farisi yang pandai mengajar tetapi tidak melakukan. Mereka melakukan semuanya supaya dilihat orang dan mencari tempat terhormat.Yesus menegaskan bahwa yang terbesar adalah dia yang menjadi pelayan, dan barang siapa merendahkan diri, dia akan ditinggikan. Bacaan Injil hari ini mengajak kita pada kesatuan antara kata dan perbuatan, serta pada kerendahan hati sejati di hadapan Allah. Sebagai umat orang beriman, panggilan hidup kita bukan mencari gelar atau penghormatan, melainkan setia melayani dalam kesederhanaan. Hidup kita sebagai umat beriman, menjadi jalan yang kongkret untuk merendahkan diri dan mengutamakan Kristus. Kesaksian hidup kita sebagai umat beriman, menjadi kuat bukan karena jabatan, karena pangkat, atau karena jasa kita; tetapi karena ketulusan dan kerendahan hati.Kabar Gembira Yesus merupakan asas pokok pedoman hidup kita sebagai umat beriman; dan melalui sakramen inisiasi, kita sebagai umat beriman berjanji ingin mengabdikan diri demi Kerajaan Allah (mewartakan Kerajaan Allah). Semoga kita selalu diteguhkan, dikuatkan dalam menjalankan tugas pelayanan, sehingga kita sungguh-sungguh lahir dari kerendahan hati bukan dari keinginan untuk dihargai. Semoga Tuhan Yesus Kristus yang rendah hati, selalu membimbing kita, agar kita selalu setia melakukan Sabda-Allah dan melayani dengan tulus tanpa mencari pujian. Semoga hari ini, kita melakukan satu pelayanan tersembunyi dengan sukacita tanpa menceritakannya kepada siapa pun. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 2 Mar 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Senin Prapaskah II, 2 Maret 2026Lukas 6:36—38 Belas Kasih Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. (Luk 6:36—37). Dalam hidup bersama, sering kali kita mudah menilai dan mengukur orang lain. Kesalahan kecil saudara terasa besar, sementara kelemahan diri sendiri tampak ringan. Kita ingin dimengerti, tetapi sulit memberi pengertian; ingin diampuni, tetapi berat mengampuni. Dalam dinamika hidup bersama, dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, tempat kerja atau dalam komunitas, sikap menghakimi dapat muncul secara halus melalui kata, sikap diam, atau bisik-bisik yang melukai. Dalam Injil Lukas 6:36-38, Yesus bersabda, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati… Jangan kamu menghakimi… ampunilah dan kamu akan diampuni… Berilah dan kamu akan diberi.” Yesus menyingkapkan wajah Allah yang penuh belas kasih. Ukuran yang kita pakai untuk sesama akan menjadi ukuran bagi kita. Bacaan Injil hari ini mengundang kita keluar dari lingkaran penghakiman menuju kelimpahan kasih yang memberi tanpa perhitungan. Sebagai umat beriman, kita dipanggil menjadi tanda kerahiman Allah dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di komunitas keluarga, masyarakat dan di tempat karya pelayanan, yang selalu kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Belas kasih diwujudkan dalam kesediaan mendengar tanpa cepat menghakimi, menegur dengan kasih, serta mengampuni dengan tulus. Kehidupan beriman dan persaudaraan akan menjadi subur apabila kita memilih memberi pengertian, memberi waktu dan perhatian, bukan menyimpan penilaian. Di situlah Allah mencurahkan “takaran yang baik, yang dipadatkan dan digoncang.” Kita hendaknya berkali-kali dengan murah hati memberikan pengampunan yang seseorang kepada yang lain dan kepada mereka yang telah melukai kita. Semoga kita semakin diteguhkan dan dikuatkan dalam menghadirkan belas kasih Allah. Semoga Allah yang Maharahim, mengajari kita semakin menjadi murah hati, tidak menghakimi, dan rela mengampuni sesama, agar hidup kita semakin memancarkan kasih Allah. Amin.Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [DAM]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 27 Feb 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Jumat Prapaskah I, 27 Februari 2026Yehezkiel 18:21-28 | Matius 5:20-26 Dalam khotbah di bukit berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kalian telah mendengar apa yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; barangsiapa berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahan di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahan di depan mezbah itu, dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahan itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim, dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya, dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas”. Lebih dari Sekadar Benar: Pertobatan HatiDalam Injil hari ini, Yesus berkata: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”. Pada zaman Yesus kala itu, ahli Taurat dan orang Farisi dikenal sebagai orang yang taat hukum. Mereka menjaga aturan dengan sangat ketat dan cermat. Yesus memperingatkan kita akan sesuatu yang lebih dalam bahwa ketaatan lahiriah saja tidak cukup jika di kedalaman hati tidak dibaharui. Bukan hanya soal aturan dilarang membunuh atau soal pelanggaran-pelanggaran lainnya yang besar tetapi Yesus mengingatkan kita soal kemarahan, soal sikap hati yang merendahkan dan melukai sesama, soal pikiran jahat lainnya terhadap orang lain. Yesus memindahkan pusat perhatian kita dari yang terfokus hanya tindakan-tindakan luar yang dilakukan untuk lebih memasuki disposisi batin karena pertobatan sejati dimulai dari hati. Kontras ini terasa nyata dalam kehidupan dunia akademik saat ini. Kampus adalah ruang intelektual yang menjunjung standar, aturan, etika, dan prosedur. Kita belajar membedakan benar dan salah, menyusun argumen yang logis, menilai dengan objektif. Semua itu penting. Namun tanpa disadari, kita bisa merasa “benar” secara sistem, tetapi menyimpan kemarahan, kekecewaan, atau luka dalam relasi. Konflik antar rekan kerja, perbedaan pendapat dalam forum ilmiah atau dalam rapat, kesalahpahaman dalam pelayanan mahasiswa, atau komunikasi yang kurang terbuka satu dengan yang lain dapat menimbulkan jarak batin. Kita mungkin tetap profesional di luar, tetapi dalam hati belum tentu damai. Yesus mengingatkan kita: “Jika engkau mempersembahkan persembahan di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahan di depan mezbah itu, dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahan itu. Yesus menekankan bahwa relasi dengan sesama itu penting, salah satu sebuah keutamaan daripada sekadar formalitas religius. Sejauh mana pengenalan dan kedekatan kita dengan Tuhan dapat terlihat bagaimana kita membangun relasi dengan sesama. Masa Prapaskah adalah undangan untuk berhenti dan melihat ke dalam. Pertobatan bukan hanya memperbaiki doa-doa atau menambah praktik-praktik rohani, tetapi berani mengakui kemarahan yang belum diselesaikan, ego yang masih ingin menang sendiri, atau sikap defensif yang menghambat dialog. Pada zaman Yesus, hukum menjadi identitas religius. Pada zaman kita, kompetensi dan pencapaian sering menjadi identitas utama. Namun Yesus mengajak kita melampaui keduanya. Ia memanggil kita untuk memiliki hati yang lembut, yang berani meminta maaf, yang bersedia berdamai, dan yang tidak membiarkan kemarahan berakar. Dalam kehidupan civitas akademika, pertobatan hati dapat berarti keberanian untuk membuka komunikasi, memulihkan relasi kerja, memberi ruang dialog yang jujur, dan menghargai martabat setiap pribadi. Ketika hati dibarui, keputusan menjadi lebih bijaksana, pelayanan menjadi lebih manusiawi, dan komunitas akademik menjadi ruang yang lebih sehat. Semoga selama perjalanan Prapaskah ini, kita tidak hanya menjadi pribadi yang “benar” secara aturan , tetapi juga benar dalam hati . Dari hati yang diperbarui, lahirlah damai. Dan dari damai itu, karya kita menjadi kesaksian nyata akan kasih Allah. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 26 Feb 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Kamis Prapaskah I, 26 Februari 2026Kitab Ester 4:10a.10c-12.17-19 | Matius 7:7-12 Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Mintalah, maka kamu akan diberikan; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta akan menerima, setiap orang yang mencari akan mendapat, dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu akan dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya”. Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Kerendahan Hati & KebaikanDalam bacaan Injil di atas dan juga bacaan pertama hari ini menarik untuk direnungkan. Kisah Ratu Ester dalam bacaan pertama memperlihatkan momen hidup yang sangat manusiawi. Ia berada dalam posisi berkuasa, tetapi juga dalam situasi genting. Umatnya terancam. Ester tahu bahwa menghadap raja tanpa dipanggil bisa berakibat kematian. Di titik itulah ia tidak langsung bertindak gegabah. Ia berpuasa. Ia merendahkan diri di hadapan Allah. Ia memohon penyertaan Tuhan dengan air mata dalam keheningan. Pada zaman itu, kekuasaan raja begitu mutlak. Mendekat kepada raja tanpa izin adalah sebuah risiko besar. Dari kisah Ratu Ester kita belajar bahwa sebelum melangkah ke ruang publik, seseorang perlu terlebih dahulu masuk ke ruang batin bersama Tuhan. Kerendahan hati menjadi kekuatannya. Strategi dan segala rencana yang tersusun baik sekalipun tidak cukup; kita perlu menyadari bahwa kita butuh penyertaan Allah.Yesus dalam Injil menggemakan sikap yang sama: “Mintalah, carilah, ketoklah” Doa adalah tindakan orang yang rendah hati. Orang yang mau meminta adalah orang yang mengakui bahwa dirinya tidak sepenuhnya mampu. Dalam doa, kita tidak tampil sebagai sosok yang serba tahu, tetapi sebagai anak yang percaya pada Bapa. Kontras ini terasa nyata dalam kehidupan civitas akademika masa kini. Dunia universitas adalah dunia gagasan, analisis, penelitian, argumentasi, dan kompetensi. Kita terbiasa berpikir kritis, menyusun strategi, merancang program, dan mengambil keputusan berdasarkan data. Semua itu penting. Namun dalam ritme ini, kita bisa tergoda merasa cukup dengan kemampuan sendiri. Kita lupa bahwa kecerdasan tidak menggantikan kebijaksanaan, dan strategi tidak selalu menggantikan kerendahan hati. Di Masa Prapaskah, Sabda Tuhan hari ini mengundang kita untuk meneladani Ester: sebelum mengambil keputusan penting, sebelum menentukan arah penelitian, sebelum memimpin atau melayani. Beranilah berhenti dan merendahkan diri di hadapan Allah dan bertanya: apakah segala pikiran dan perbuatanku sungguh demi kemajuan hidupku dan demi kebaikan bersama? Apakah keputusan ini lahir dari kasih atau dari ambisi?Inspirasi yang sejalan dapat kita lihat dalam film Pay It Forward. Dalam film itu mengisahkan seorang anak kecil yang memulai gerakan sederhana: berbuat baik kepada tiga orang dan meminta mereka meneruskan kebaikan itu. Ia tidak memiliki kuasa besar, tetapi memiliki hati yang rendah dan tulus. Dari kerendahan hati itulah lahir perubahan yang meluas. Kerendahan hati bukan berarti pasif. Justru dari kerendahan hati lahir keberanian. Ester berani melangkah karena ia telah berdoa. Anak dalam film Pay It Forward berani memulai karena ia percaya pada kekuatan kebaikan. Yesus pun menutup ajaran-Nya dengan sebuah penegasan: ”Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”. Kerendahan hati di hadapan Allah selalu berbuah dalam relasi yang penuh hormat dan kasih kepada sesama. Semoga di Masa Prapaskah ini kita dimampukan untuk membangun budaya akademik yang tidak hanya cerdas, tetapi juga rendah hati. Rendah hati untuk belajar, rendah hati untuk mendengarkan, rendah hati untuk mengakui kesalahan, dan rendah hati untuk berbagi kebaikan tanpa pamrih. Dari hati yang demikian, keputusan-keputusan yang kita ambil akan menjadi berkat bagi banyak orang. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]

Renungan

SAPA JIWA CM Edisi 24 Feb 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊Selasa Prapaskah I, 24 Februari 2026Yesaya 55:10-11 | Matius 6:7-15 Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doa mereka dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.Karena itu berdoalah begini:”Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam percobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Amin. Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu”. Doa sebagai “Ruang Domestik”: Tempat Kita Menjadi Diri yang OtentikDalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan doa ‘Bapa Kami’; doa yang sudah sangat kita hafal namun jika dirasa-rasakan adalah sebuah doa yang sangat sederhana dan mendalam. Melalui doa ini, Yesus hendak mengingatkan agar kita tidak berdoa dengan banyak kata seperti orang yang tidak mengenal Allah. Pada zaman Yesus, doa sering menjadi tampilan religius: panjang, indah, dan terdengar mengesankan. Yesus justru mengajak murid-murid-Nya kembali pada inti, yaitu bahwa doa adalah relasi, bukan atraksi. Doa Bapa Kami sebagai doa yang sederhana, dekat, dan penuh kepercayaan. Di dalam doa ini, kita menyapa Allah sebagai Bapa. Sebuah sapaan yang intim, hangat, dan penuh kedekatan. Doa bukan sekadar sebuah kewajiban, tetapi sebuah “moment domestik” , ruang batin tempat kita pulang, beristirahat, dan menjadi diri yang otentik di hadapan Tuhan. Kontras ini terasa nyata dalam kehidupan civitas akademika masa kini. Dunia kampus dipenuhi ritme cepat: jadwal kuliah, penelitian, target publikasi, sistem administrasi, tuntutan layanan, serta berbagai tekanan untuk selalu produktif. Kita sering hidup di balik peran: dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, peneliti, pemimpin. Dalam ruang-ruang publik itu, kita perlu tampil profesional, terukur, dan kadang menjaga citra. Namun di balik itu semua, ada kelelahan, kecemasan, kegagalan, dan harapan yang tidak selalu dapat kita ungkapkan. Di sinilah titik dimana doa menjadi “rumah”. Dalam doa, kita tidak perlu bersembunyi. Kita boleh datang dengan jujur: dengan kegagalan, keraguan, rasa lelah, bahkan kemarahan. Tuhan tidak menuntut kesempurnaan kata, tetapi kejujuran hati. Doa menjadi tempat kita menata diri kembali, menyadari bahwa kita bukan mesin produktivitas, tetapi manusia yang dicintai. Selama Masa Prapaskah, kita diajak menemukan kembali ruang domestik ini. Ketika kita berdoa, kita belajar mempercayakan hidup: pekerjaan, studi, relasi, dan masa depan kepada Allah. Doa Bapa Kami juga mengingatkan bahwa kita tidak berjalan sendiri. Kita berkata “Bapa kami”, bukan “Bapaku”. Ada dimensi komunitas: kita dipanggil membangun relasi yang saling menguatkan di tengah dunia yang kompetitif. Selain itu, doa ini mengajarkan pengampunan: “ampunilah kami seperti kami pun mengampuni” . Ini menjadi tantangan nyata dalam kehidupan kampus: mengampuni konflik, kesalahpahaman, perbedaan pendapat, atau luka dalam relasi kerja dan studi. Tanpa pengampunan, hati menjadi keras dan doa kehilangan maknanya. Masa Prapaskah mengundang kita untuk kembali pada doa yang sederhana, jujur, dan membebaskan. Dalam ruang batin itu, kita dipulihkan. Kita belajar mengambil keputusan dengan lebih bijaksana, melayani dengan hati, dan menjalani karya akademik sebagai panggilan, bukan sekadar prestasi. Semoga selama perjalanan Prapaskah ini, kita menemukan kembali doa sebagai “rumah”. Tempat kita menjadi otentik, dipulihkan, dan dikuatkan, agar melalui kehidupan dan karya kita, kehadiran Allah semakin nyata bagi dunia. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]

Renungan

SAPA JIWA UAJY Edisi 20 Feb 2026

🕊 Renungan Sapa Jiwa CM 🕊Jumat, 20 Februari 2026Hari Jumat Sesudah Rabu AbuBacaan I; Yes 58:1-9aBacaan Injil; Mat 9:14-15 Sekali peristiwa datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka,dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa”. Puasa yang Membebaskan: Dari Aturan menuju KasihDalam Injil hari ini, murid-murid Yohanes datang kepada Yesus dan bertanya mengapa para murid-Nya tidak berpuasa. Pada zaman itu, puasa menjadi praktik religius yang sangat dihargai. Banyak orang melakukannya dengan tekun sebagai tanda kesalehan. Puasa sering dipahami sebagai kewajiban rohani yang harus dijalankan dengan disiplin. Namun Yesus memberikan jawaban yang mengejutkan. Ia berkata bahwa selama Sang Mempelai bersama para sahabat-Nya, mereka tidak berpuasa. Akan tiba saatnya Ia diambil, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Yesus tidak menolak puasa. Ia justru mengembalikan maknanya. Puasa bukan sekadar aturan atau rutinitas, melainkan relasi. Puasa adalah ungkapan kerinduan akan Allah. Ketika hati merindukan Tuhan, puasa menjadi jalan untuk membuka ruang bagi-Nya. Puasa bukan tentang menahan diri demi kesempurnaan pribadi, tetapi tentang memberi tempat bagi kasih yang lebih besar. Kontras ini terasa nyata dalam kehidupan kita sekarang. Di masa kini, puasa juga sering jatuh pada formalitas. Kita mungkin berpuasa karena kebiasaan, karena tradisi, atau karena tuntutan lingkungan. Bahkan dalam pelayanan dan karya, kita bisa merasa sudah “baik” karena menjalankan aturan. Namun di tengah ritme kerja yang cepat, target, jadwal padat, dan tuntutan pelayanan yang tidak pernah berhenti, kita bisa kehilangan makna terdalamnya. Kita berpuasa, tetapi tetap mudah marah. Kita menahan makan, tetapi tidak menahan ego. Kita mengurangi kenyamanan, tetapi tidak membuka hati bagi sesama. Sabda Tuhan mengingatkan kita melalui seruan profetis: “Berpuasa yang Kukehendaki ialah engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman.” Puasa yang sejati adalah puasa yang membebaskan. Puasa yang mengubah relasi. Puasa yang membuat kita lebih peka terhadap mereka yang terpinggirkan, lebih sabar terhadap rekan kerja, lebih peduli terhadap mereka yang diam-diam memikul beban.Di masa Prapaskah ini, kita diajak untuk berani bertanya: belenggu apa yang masih mengikat hatiku? Mungkin belenggu kesibukan yang membuat kita lupa menyapa. Mungkin belenggu perfeksionisme yang membuat kita keras pada diri sendiri dan orang lain. Mungkin belenggu sistem dan aturan yang membuat pelayanan kehilangan wajah kemanusiaan. Puasa sejati mengajak kita keluar dari diri sendiri. Ia mengundang kita untuk menghadirkan kasih dalam tindakan sederhana: mendengarkan tanpa menghakimi, memberi waktu bagi yang membutuhkan, memaafkan, dan menghidupi solidaritas. Di sinilah puasa menjadi ruang perjumpaan dengan Kristus, Sang Mempelai yang hadir dalam wajah sesama. Semoga dalam perjalanan Prapaskah ini, kita tidak hanya menjalankan puasa, tetapi mengalami pembebasan. Puasa yang menuntun kita semakin dekat dengan Tuhan, semakin manusiawi, dan semakin berani membawa harapan. Selamat beraktivitas.🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]

Renungan

SAPA JIWA UAJY Edisi 13 Feb 2026

Jumat, 13 Februari, Markus 7:31—37Pekan Biasa V Membuka Diri Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. (Mrk. 7:34—35). Dalam Injil hari ini kita menyaksikan sentuhan personal Yesus yang penuh belas kasihan saat Ia menyembuhkan seorang tuli dan gagap. Kata “Efata” yang berarti “Terbukalah” bukan sekadar perintah medis untuk memulihkan fungsi fisik, melainkan sebuah seruan ilahi agar seluruh keberadaan kita terbuka bagi kehadiran Allah. Yesus memulihkan hambatan komunikasi pria tersebut agar ia tidak lagi terisolasi, melainkan mampu menjalin relasi yang utuh dengan sesamadan pencipta-Nya. Penyembuhan yang dilakukan Yesus mengundang kita untuk melakukan transformasi batiniah dalam keseharian. Membuka “telinga batin” berarti memiliki kepekaan untuk mendengar suara Tuhan di tengah kebisingan dunia, sementara memulihkan “lidah” berarti keberanian untuk mewartakan kebenaran dengan penuh kasih. Kita dipanggil untuk menjadi pembawa kabar baik yang memulihkan harapan bagi sesama, mengubah kegagapan iman kita menjadi kesaksian hidup dan berdampak bagi kemuliaan nama-Nya. Untuk itu diperlukan waktu doa dan hening, membuka diri akan kehendak dan bimbingan-Nya. Hendaknya kita berusaha menyediakan waktu yang lebih lama untuk doa dan refleksi dalam hidup kita. Saat-saat doa amat sangat penting bagi pemahaman diri serta hidup kita sebagai umat beriman, bagi peningkatan hubungan pribadi kita dengan Allah, bagi keterbukaan kita terhadap Roh Allah dan bagi pendalaman kepedulian dalam menjalankan tugas sehari hari. Refleksi: Sudahkah aku menyediakan waktu lebih lama untuk doa dan refleksi pribadi?Marilah berdoa: Bapa, bukalah hati kami supaya kami semakin mampu mewartakan kasih dan kebenaran-Mu. Amin.Pengutusan: Dalam keheningan mendengarkan suara Roh Allah. Kita mohon rahmat untuk para pengurus Yayasan, para pemangku jabatan di UAJY, para pihak yang mendukung UAJY, para pemerhati, dan para donatur UAJY.Selamat beraktifitas, Tuhan memberkati #DAM#

Renungan

SAPA JIWA UAJY Edisi 12 Feb 2026

Kamis, 12 Februari, Markus 7:24—30Pekan Biasa V Berserah Tanpa Syarat Yesus berkata kepadanya, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” (Mrk. 7: 27—28). Kisah perempuan Siro-Fenisia mengajarkan kita tentang kekuatan iman yang lahir dari kerendahhatian dan kegigihan yang luar biasa. Di hadapan tantangan dan penolakan awal, ia tidak mundur karena harga diri, melainkan justru semakin mendekat dengan keyakinan bahwa sedikit anugerah Tuhan sudah lebih dari cukup untuk mendatangkan mukjizat bagi anaknya. Ini adalah pengingat bagi kita agar tidak mudah menyerah dalam doa, melainkan berani mengetuk pintu kasih karunia-Nya dengan sikap hati yang tulus dan percaya penuh pada kuasa Tuhan. Kisah Injil hari ini menyingkapkan bahwa belas kasihan Tuhan tidak dibatasi oleh sekat-sekat tradisi atau identitas bangsa. Yesus menunjukkan bahwa kuasa penyembuhan-Nya tersedia bagi siapa saja yang datang dengan iman yang sungguh, melampaui batas-batas yang sering kita buat sendiri. Kita dipanggil untuk mensyukuri setiap bentuk berkat dan tetap tabah dalam pengharapan. Setiap doa yang dilandasi ketulusan dan ketekunan akan mengantar penemuan jalan menuju hati-Nya yang penuh belas kasih. Percaya akan Allah berarti – dalam arti yang sedalam-dalamnya – kita berani berserah tanpa syarat kepada-Nya. Penyerahan ini berdasarkan kepercayaan yang tak terbatas serta didorong oleh kasih, karena Ia telah lebih dahulu mengasihi kita. Allah mengasihi kita sebagai umat beriman. Refleksi Kapan aku mengalami iman semendalam perempuan Siro-Fenisia?Marilah berdoa: Tuhan, ajarilah kami memiliki iman seperti perempuan Siro-Fenisia. Iman yang tidak mudah menyerah oleh tantangan, dan hati yang cukup rendah untuk mensyukuri setiap anugerah-Mu. Amin.Pengutusan Tabah dalam menghadapi kesulitan. Kita mohon rahmat untuk seluruh civitas akademica di kampus 4 UAJYSelamat beraktifitas, Tuhan memberkati #DAM#

Scroll to Top