Sapa Jiwa CM Edisi 20 Juli 2026

🕊️ Sapa Jiwa CM 🕊️
Senin Pekan Biasa XVI, 20 Juli 2026
Mikha 6:1-4.6-8 | Matius 12:38-42

Sekali peristiwa beberapa ahli Taurat dan orang Farisi berkata kepada Yesus, “Guru, kami ingin melihat suatu tanda daripada-Mu.” Jawab Yesus kepada mereka, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian pula Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus; dan sungguh, yang ada di sini lebih daripada Yunus! Pada waktu penghakiman ratu dari selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu itu datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sungguh, yang ada di sini lebih daripada Salomo!”

Tanda Kehadiran Allah
Dalam Injil hari ini, beberapa ahli Taurat dan orang Farisi meminta Yesus menunjukkan suatu tanda. Secara tersembunyi, mereka ingin meminta bukti apakah Yesus sungguh Putra Allah yang datang ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia. Namun, Yesus mengetahui bahwa di balik permintaan tersebut tersembunyi hati yang belum mau percaya. Mereka telah banyak menyaksikan mukjizat dan karya belas kasih-Nya. Mereka juga telah mendengarkan pengajaran-Nya, tetapi mereka tetap mencari tanda lain yang lebih spektakuler. Menanggapi permintaan mereka akan sebuag tanda, Yesus menjawab bahwa mereka tidak akan diberikan tanda selain “tanda Nabi Yunus”. Sebagaimana Yunus berada di dalam perut ikan selama tiga hari sebelum kembali kepada kehidupan dan perutusannya, demikian pula Yesus akan mengalami penderitaan, wafat, dan bangkit pada hari ketiga. Itulah tanda terbesar yang diberikan Allah kepada dunia. Bukan pertunjukan kuasa yang mengagumkan, melainkan pengorbanan diri sehabis-habisnya hingga wafat di kayu salib yang hina dan kemenangan atas dosa serta maut dengan kebangkitan-Nya.
Pesan Injil ini membantu kita memahami makna tanda-tanda dalam kehidupan iman. Gereja menghadirkan berbagai “tanda” yang menuntun relasi yang erat antara Allah dan manusia dengan: tata liturgi yang indah dan agung, sakramen-sakramen yang mendamaikan, simbol-simbol iman, devosi, doa, dan berbagai ungkapan kesalehan yang menumbuhkan iman. Semua itu memiliki arti penting dalam kehidupan kita sebagai umat Kristiani.
Kalau kita mau jujur, sebenarnya terkadang kita juga dapat jatuh ke dalam sikap yang mirip dengan orang Farisi. Kita mengharapkan Allah berbicara melalui kejadian-kejadian luar biasa, mukjizat yang mengagumkan, atau jawaban yang langsung sesuai dengan keinginan kita. Ketika hal itu tidak terjadi, kita mulai meragukan kehadiran-Nya. Padahal Allah sering kali sudah bekerja dalam cara-cara yang sederhana: melalui Sabda-Nya, melalui Ekaristi, melalui kasih keluarga, melalui pengampunan, melalui orang-orang yang menolong kita, bahkan melalui tantangan hidup yang mengundang pertobatan dan pertumbuhan iman.
Nabi Mikha dalam bacaan pertama menjawab pertanyaan umat tentang apa yang harus mereka persembahkan kepada Allah dengan sebuah jawaban yang mendasar: “Yang dituntut Tuhan daripadamu ialah berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu”. Allah tidak pertama-tama mencari persembahan yang megah atau ritual yang mengesankan. Ia menghendaki hati yang penuh kepada-Nya dan kehidupan yang selaras dengan kehendak-Nya. Sedangkan dalam bacaan Injil, orang Farisi mencari tanda-tanda besar tetapi gagal mengenali Allah yang hadir di hadapan mereka. Tanda Allah yang paling nyata bukanlah keajaiban yang memukau mata, melainkan perubahan hati yang menghasilkan kasih, keadilan, dan belas kasih.
Yesus sendiri adalah tanda itu. Seluruh hidup-Nya, pelayanan-Nya, salib-Nya, dan kebangkitan-Nya menunjukkan bagaimana manusia seharusnya hidup di bawah pemerintahan Allah. Ketika kita memandang kepada Kristus dan mengikuti jalan-Nya, kita tidak lagi sibuk mencari tanda-tanda yang luar biasa. Kita mulai melihat bahwa Allah telah hadir dan bekerja di tengah kehidupan kita setiap hari.
Refleksi hari ini: Apakah saya lebih sering mencari tanda-tanda luar biasa dari Allah, ataukah saya mau belajar terus menerus untuk mengenali kehadiran-Nya dalam Sabda, Sakramen, dan peristiwa-peristiwa sederhana kehidupan sehari-hari?
Tuhan Yesus, Engkaulah tanda terbesar kasih Bapa bagi dunia. Bukalah mataku agar mampu mengenali karya-Mu yang hadir dalam hidupku setiap hari. Jauhkan aku dari hati yang keras dan selalu menuntut bukti-bukti luar biasa. Ajarlah aku untuk hidup dengan adil, setia, dan rendah hati, sehingga hidupku sendiri menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah bagi sesama. Amin.
🌿 Selamat beraktivitas ✨ Tuhan mengasihi 😇 [CA]

Scroll to Top