Sapa Jiwa CM Edisi 10 Agustus 2026

🕊️ Sapa Jiwa CM 🕊️
Senin Pekan Biasa XIX, 10 Agustus 2026
Pesta St. Laurensius, Diakon & Martir 2 Korintus 9:6-10 | Yohanes 12:24-26

Menjelang akhir hidup-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dSelasaRabuan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi barang siapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikuti Aku, dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”

Belajar Menjadi Biji Gandum
“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yoh 12:24)
Dalam Injil hari ini, Yesus memberikan sebuah paradoks bahwa jikalau ada satu biji harus jatuh ke tanah, tertutup oleh tanah, dan seolah-olah kehilangan dirinya maka sebetulnya biji itu akan dapat menghasilkan kehidupan baru. Kacamata manusiawi kita akan memandang proses itu sebagai proses kematian. Namun dalam kacamata Rohani, kita diajak memandang bahwa justru di dalam “kematian” itulah kehidupan mulai bertumbuh.
Lalu apa yang dapat kita pelajari dari gambaran biji gandum ini? Yesus sebenarnya sedang menjelaskan kepada kita jalan hidup-Nya sendiri. Ia sedang berbicara tentang penderitaan dan wafat-Nya di kayu salib. Bagi dunia, salib tampak sebagai kekalahan dan kehilangan. Namun bagi Allah, salib menjadi jalan menuju kebangkitan dan kehidupan. Karena itu, biji gandum bukan hanya gambaran tentang kematian, melainkan tentang penyerahan diri yang melahirkan kehidupan. Yesus kemudian berkata, ”Barang siapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” Yesus tidak memerintah kita harus membenci diri sendiri atau mengabaikan kehidupan yang Tuhan anugerahkan. Sebaliknya, Yesus mengajak kita untuk melepaskan sikap hidup yang terlalu berpusat pada diri sendiri seperti keinginan untuk selalu menang, dihargai, dipuji, mendapatkan kenyamanan, atau mengendalikan segala sesuatu sesuai kehendak dan pikiran kita.
Ada banyak hal dalam diri kita yang perlu “mati” agar sesuatu yang lebih baik dapat hidup. Kesombongan mungkin perlu mati agar kerendahan hati bertumbuh. Keegoisan perlu mati agar ada ruang untuk diisi kasih. Keinginan untuk selalu menerima perlu mati agar kita belajar memberi. Luka dan kekecewaan pun, perlahan-lahan, dapat kita serahkan kepada Tuhan agar menjadi berkat, bukan hanya sebuah kepahitan. Mengikuti Kristus memang menuntut kita untuk berani berjalan melawan logika dunia yang sering mengatakan bahwa kebahagiaan diperoleh dengan mengumpulkan sebanyak mungkin untuk diri sendiri. Yesus justru menunjukkan bahwa hidup menjadi penuh ketika kita berani memberikan diri bagi orang lain. Seperti biji gandum yang harus jatuh ke tanah, kita pun dipanggil untuk mempercayakan hidup kepada Allah. Apa yang kita lepaskan mungkin terasa seperti kehilangan, tetapi di tangan Tuhan, kehilangan itu dapat menjadi awal dari kehidupan yang baru.
Pada akhirnya, apa yang kita berikan kepada Tuhan tidak pernah sebanding dengan kehidupan berlimpah yang Ia tawarkan. Ketika kita berani mati terhadap ego dan keinginan yang berpusat pada diri sendiri, Kristus menumbuhkan kehidupan baru dalam diri kita. Sebuah kehidupan yang semakin mampu mengasihi, melayani, mengampuni, dan menjadi berkat bagi sesama.
Sebab benih yang rela jatuh dan mati tidak berakhir dalam tanah. Ia bertumbuh, berbuah, dan memberikan kehidupan. Demikian pula hidup yang diserahkan kepada Kristus: tidak menjadi sia-sia, tetapi berbuah bagi Allah dan bagi sesama.🌿 Selamat beraktivitas ✨ Tuhan mengasihi 😇 [CA]

Scroll to Top