SAPA JIWA CM Edisi 24 Apr 2026

🩷 Sapa Jiwa CM 🩷

Jumat Paskah III, 24 April 2026
Kis.9:1-20; Yoh.6:52-59

Yohanes 6:52-59
[…] Kata Yesus kepada orang-orang Yahudi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia […]

Maukah Kau Jadi Roti Bagi-KU?

Seandainya Yesus hidup di zaman ini, apakah Yesus tetap akan mengatakan, “Akulah roti yang turun dari surga”? Atau, akan mengatakan, “Akulah HP yang turun dari surga atau Akulah duit yang turun dari surga. Barangsiapa pakai HP ini dan duit ini akan hidup selama-lamanya” ya?

HP selalu ada dalam genggaman orang zaman ini. Ke manapun, di manapun dan kapanpun HP selalu harus dibawa, dari anak-anak sampai yang udah senior. Seolah-olah orang zaman ini akan kelimpungan kalau sampai HP ketinggalan. Apalagi duit. Siapa yang tidak demen sama duit? Duit selalu diburu. Duit bikin orang merasa tenang dan nyaman. Orang punya duit mau ngapa-ngapain juga bisa. Ada duit semuanya beres.

Akankah Yesus memilih menjadi HP supaya tetap selalu berada bersama orang-orang? Akankah Yesus memilih menjadi duit supaya selalu diburu dan diperjuangkan? TIDAK! Yesus tetap memilih dan menyatakan diri, “Akulah roti hidup. Akulah roti yang turun dari surga. Barangsiapa makan roti ini akan hidup selama-lamanya.”

HP, duit dan materi yang lain memang membuat lengket dan dicari-cari orang, tetapi semua itu eksternal, di luar tubuh dan jiwa manusia. Mereka tidak bisa masuk, manunggal dengan raga dan jiwa. Saat orang jatuh sakit dan menderita justru mereka itu akan menjauh.

Itulah mengapa Yesus tetap memilih menjadi roti yang ringkih, mudah pecah. Yesus begitu mencintai manusia. Yesus ingin selalu bersama, satu raga dan satu jiwa dengan manusia. Maka, Ia memilih menjadi roti yang rapuh supaya mudah disantap dan diserap oleh tubuh, mengalir bersama darah, menjadi nutrisi bagi tubuh. Yesus ingin bersama-sama terus, meski kerapkali dilupakan dan kadang malah tidak diperjuangkan. Tidak jarang disia-siakan.

Yesus mau setia kepada kita. Ia mau tinggal bersama kita dan kita tinggal bersama-Nya selamanya. Ia rela dipecah-pecah hingga hancur supaya mudah kita santap. Yesus katakan, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, tinggal dalam Aku dan Aku dalam dia.”

Yesus juga menyatakan, “Sebagaimana Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian pula barangsiapa memakan Aku akan hidup oleh Aku.” Kita yang menyambut-Nya dalam komuni kudus, tidak hanya tinggal di dalam Dia, tetapi juga diutus oleh-Nya. Kita diutus menjadi “roti yang dipecah-pecah bagi sesama” dan “anggur yang dicurahkan bagi sesama”. Kita diutus menjadi berkat!

Semangat pagi. Tuhan memberkati!**NW

Scroll to Top