🕊 Sapa Jiwa CM 🕊
Selasa Pekan Biasa X, 9 Juni 2026
1 Raja-Raja 17:7-16 | Matius 5:13-16
Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda, “Kalian ini garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah dapat diasinkan? Tiada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak orang. Kalian ini cahaya dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu di surga.”
Kita Dipanggil untuk Menghayati Injil
Sesudah menyampaikan Sabda Bahagia, Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan sebuah panggilan yang sangat konkret: “Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia.” Sabda Bahagia bukan sekadar cita-cita rohani yang indah untuk direnungkan. Sabda Bahagia harus terlihat dalam kehidupan nyata. Itulah sebabnya Yesus tidak berkata, “Berusahalah menjadi garam,” tetapi “Kamu adalah garam.” Menjadi murid Kristus berarti membawa pengaruh yang memberi rasa, menjaga kehidupan dari kerusakan, dan menghadirkan terang di tengah kegelapan.
Roh Kudus, anugerah dari Tuhan yang bangkit, memampukan kita untuk menghidupi Sabda Bahagia dan mengubah hidup kita menjadi perwujudan iman yang dapat dipercaya. Kita tidak menjadi saksi Kristus hanya karena kekuatan atau melalui usaha kita sendiri, Roh Kuduslah yang membentuk hati kita sehingga hidup kita menjadi kesaksian yang dapat dipercaya. Iman yang sejati tidak berhenti pada doa, ibadah, atau identitas sebagai orang Katolik. Iman harus tampak dalam pilihan, tindakan, dan cara kita memperlakukan sesama.
Di Indonesia saat ini, banyak orang merasakan kecemasan akan masa depan. Harga kebutuhan hidup yang terus menjadi perhatian karena nilai rupiah yang turun, tantangan mencari pekerjaan yang layak, ketimpangan sosial, polarisasi dalam ruang publik, dan lainnya sering kali menimbulkan kepenatan dan pesimisme. Di berbagai daerah, masyarakat juga masih menghadapi dampak bencana alam dan kerusakan lingkungan yang mengganggu kehidupan banyak keluarga. Dalam situasi seperti ini, mudah bagi kita untuk mengeluh atau hanya menjadi penonton.
Namun, Injil hari ini mengajak kita melakukan sesuatu yang berbeda. Garam bekerja secara diam-diam tetapi memberi rasa pada seluruh makanan. Terang tidak menghilangkan malam seketika, tetapi cukup untuk menunjukkan jalan. Yesus tidak meminta kita menyelesaikan semua persoalan bangsa seorang diri. Ia meminta kita setia menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tempat kita berada: dalam keluarga, lingkungan kerja, komunitas, paroki, dan masyarakat. Di tingkat dunia luas, kita juga menyaksikan berbagai konflik bersenjata, krisis kemanusiaan, kelaparan, dan pengungsian yang terus menimpa jutaan orang. Berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa perang, krisis pangan, dan ketidakstabilan global masih menjadi tantangan besar bagi umat manusia di bumi. Di tengah kenyataan itu, sabda Yesus tentang garam dan terang pun masih relevan. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak kemarahan, kebencian, dan saling menyalahkan. Dunia membutuhkan orang-orang yang berani membawa harapan, belas kasih, kejujuran, semangat pelayanan, dan daya hidup.
Karena itu, menghayati Injil berarti kembali kepada hakikat iman Kristiani: pengalaman yang hidup akan Allah dalam Yesus Kristus. Ketika hati kita dinyalakan oleh kehadiran Tuhan, kita tidak hanya berubah secara pribadi, tetapi juga menjadi sumber terang bagi orang lain. Kita menjadi garam yang memberi cita rasa kasih di tengah masyarakat yang mulai kehilangan kepedulian. Kita menjadi terang yang menunjukkan bahwa kebaikan, kejujuran, dan pengharapan masih mungkin diwujudkan.
Bahan refleksi: Dalam situasi bangsa dan dunia saat ini, di manakah Tuhan memanggil saya untuk menjadi garam yang memberi rasa dan terang yang membawa harapan?
Tuhan Yesus, Engkau memanggil kami menjadi garam dunia dan terang dunia. Mampukanlah kami agar bekerja sama dengan Roh Kudus-Mu mengakui diri sebagai pengikut-Mu dan sungguh menghidupi Injil dalam tindakan nyata. Di tengah berbagai tantangan bangsa dan dunia, jadikanlah kami pembawa harapan, perdamaian, dan kasih bagi sesama. Amin.
Selamat beraktivitas 🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]



