🕊 Sapa Jiwa CM 🕊
Rabu Pekan Biasa X, 10 Juni 2026
1 Raja-Raja 18:20-39 | Matius 5:17-19
Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata, “Janganlah kalian menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu, ‘Sungguh, selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.’ Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga. Tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga.”
Kembali kepada Inti Kehendak Allah
Dalam Injil hari ini, Yesus berkata, “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan Hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Pernyataan ini penting disampaikan Yesus karena pada masa itu banyak orang mengira bahwa ajaran Yesus bertentangan dengan tradisi dan hukum yang telah diwariskan kepada bangsa Israel. Namun, Yesus menegaskan bahwa Ia bukan seorang pemberontak yang ingin menghancurkan warisan iman umat Allah. Sebaliknya, Ia datang untuk mengembalikan dan menggenapi hukum itu sesuai makna dan tujuan yang dikehendaki Allah sejak awal. Sering kali hukum dan tradisi yang baik dapat kehilangan roh dan maknanya ketika manusia lebih sibuk dengan aturan lahiriah daripada kehendak Allah yang mendasarinya. Karena itu, Yesus membedakan dengan jelas antara apa yang berasal dari wahyu Allah dan apa yang merupakan tambahan atau penafsiran manusia. Ia tidak menolak hukum Allah, tetapi menolak cara berpikir yang menjadikan tradisi manusia lebih penting daripada kasih, keadilan, dan belas kasih yang menjadi inti hukum tersebut.
Pesan ini kiranya tetap relevan bagi kita saat ini. Dalam kehidupan menggereja, kita memiliki banyak tradisi, kebiasaan, devosi, dan praktik rohani yang sangat berharga. Semua itu dapat membantu kita bertumbuh dalam iman. Namun, kita perlu mengingat bahwa semuanya adalah sarana, bukan tujuan. Injil tetap menjadi ukuran utama. Kita tidak boleh menempatkan kebiasaan, selera pribadi, atau pandangan kelompok tertentu setara dengan Sabda Allah. Kadang-kadang kita lebih mudah memperdebatkan hal-hal yang bersifat lahiriah daripada menghidupi semangat Injil itu sendiri. Kita bisa rajin menjalankan praktik keagamaan, tetapi kurang peduli terhadap sesama. Kita bisa membela tradisi dengan penuh semangat, tetapi lupa menunjukkan kasih dan kerendahan hati. Padahal Yesus menghendaki agar hukum Allah tidak hanya ditaati dengan kata-kata atau ritual, melainkan diwujudkan dalam kehidupan yang mencerminkan kasih Allah.
Ketika Yesus mengatakan bahwa satu iota atau satu titik pun dari hukum tidak akan ditiadakan, Ia sedang menegaskan bahwa kehendak Allah tetap berlaku dan berharga. Namun kehendak itu menemukan kepenuhannya dalam diri-Nya. Dalam Yesus, hukum bukan lagi sekadar kumpulan aturan, melainkan jalan menuju relasi yang lebih mendalam dengan Allah dan sesama. Maka, Injil hari ini mengajak kita untuk terus kembali kepada inti iman. Di tengah banyaknya pendapat, tradisi, dan kebiasaan yang berkembang, kita dipanggil untuk bertanya: Apakah yang saya lakukan sungguh membawa saya semakin dekat kepada Allah dan semakin mengasihi sesama? Jika ya, maka kita sedang berjalan dalam semangat yang dikehendaki Yesus ketika Ia datang untuk menggenapi hukum Allah.
Tuhan Yesus, Engkau datang bukan untuk meniadakan hukum, melainkan untuk menggenapinya. Ajarlah kami untuk mencintai Sabda-Mu dan memahami kehendak Bapa yang terkandung di dalamnya. Bantulah kami agar tidak terjebak pada hal-hal lahiriah semata, tetapi sungguh menghidupi kasih, keadilan, dan belas kasih dalam kehidupan sehari-hari. Amin.
Selamat beraktivitas 🌿✨ Tuhan mengasihi. 😇 [CA]



