🕊 Sapa Jiwa CM 🕊
Selasa Pekan Biasa XXII, 01 Sep 2026
1Korintus 2:10b-16 | Lukas 4:31-37
Sekali peristiwa Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea. Di situ Ia mengajar pada hari-hari Sabat. Orang-orang takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan. Ia berteriak dengan suara keras, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Engkaulah Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus menghardik dia, kata-Nya, “Diam, keluarlah dari padanya!” Maka setan menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya, dan sama sekali tidak menyakitinya. Semua orang takjub, lalu berkata satu sama lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat, dan mereka pun keluar.” Maka tersiarlah berita tentang Yesus ke mana-mana di daerah itu.
Mendengarkan Yesus, Membuka Diri untuk Berubah
Dalam Injil hari ini, kita ditunjukkan sebuah kisah dimana ada seorang yang kerasukan setan atau roh jahat yang merasuki seseorang. Orang yang kerasukan itu juga datang di rumah ibadat dan anehnya dia pula yang menyatakan dengan keras siapa Yesus – “Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Setan yang merasuki orang itu tahu dan mengungkapkan identitas Yesus dengan tepat. Ia mengenal bahwa Yesus memiliki kuasa dan berasal dari Allah. Mari melihat diri lebih dalam “setan/ roh-roh jahat” yang mungkin ada dalam hati dan pikiran kita: rasa dengki, iri, pikiran jahat, dendam, licik, sombong, benci, mudah marah, haus validasi, ingin mendominasi. Pengenalan kita akan Tuhan Yesus sendiri mengajak kita mengusahakan pertobatan sehari-hari. Tidak cukup mengenal Yesus yang adalah kasih, Yesus sumber segala rahmat, Yesus yang adalah Allah sendiri pemberi kehidupan dan lainnya namun kita sebagai pengikutNya tidak sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada-Nya bahkan justru melakukan hal-hal yang berlawanan dengan apa yang diajarkanNya. Bisa jadi kita rajin mendengarkan Sabda-Nya, kita tekun mengikuti Misa, kita rutin dalam berdoa dan bahkan mungkin mampu menjelaskan iman Katolik kepada orang lain. Tetapi semuanya itu akan menjadi tak bermakna jika tidak sungguh mengubah hidup kita.
Mengenal Yesus dengan pikiran belum tentu berarti mengenal-Nya dengan hati. Kita dapat berbicara tentang kasih, tetapi masih menyimpan kebencian. Kita dapat berbicara tentang pengampunan, tetapi tetap memelihara luka dan dendam. Kita dapat mengetahui kebenaran Injil, tetapi enggan membiarkan kebenaran itu menegur dan mengubah diri kita. Yang membedakan seorang murid Kristus bukan sekadar kemampuannya mengenali dan mengakui siapa Yesus, melainkan kesediaannya untuk diubah oleh Yesus. Pertobatan dimulai ketika kita beranimenyadari diri, “Tuhan, bukan hanya Engkau yang harus aku kenali, tetapi hidupku juga harus berubah karena mengenal-Mu.” Semoga Sabda-Nya sungguh masuk ke dalam hati, membebaskan kita dari “roh-roh jahat”, mengusir segala prasangka buruk terhadap diri sendiri dan orang lain hingga akhirnya mengubah hidup kita menjadi semakin serupa dengan-Nya.🌿
Selamat beraktivitas ✨ Tuhan mengasihi 😇 [CA]

