Sapa Jiwa CM Edisi 16 Oktober 2026

🕊 Sapa Jiwa CM 🕊
Jumat Pekan Biasa XXVIII, 16 Oktober 2026
Efesus 1:11-14 | Lukas 12:1-7

…”Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kalian takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepadamu siapakah yang harus kalian takuti. Takutilah Dia yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sungguh, Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dilupakan Allah. Bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.”

Berani Hidup dalam Kebenaran
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berhadapan dengan pilihan-pilihan. Dalam hal terkecil dalam hidup sehari-hari selalu memuat unsur pilihan. Misalnya, hari ini mau mengenakan pakaian warna hitam atau batik, mau pakai parfum atau tidak, mau pakai sepatu tertutup atau sepatu sandal, mau atau tidak membantu rekan sekerja yang kesulitan, dan hal-hal lainnya tergantung pada diri kita sendiri. Apa yang kita tampilkan atau yang orang lihat bisa jadi mencerminkan apa yang tersimpan dalam hati. Selalu ada konsekuensi atas pilihan yang kita ambil dalam hal kecil maupun hal besar karena Tuhan menganugerahkan kebebasan untuk manusia dapat memilih.


Dalam Injil Lukas 12:1–7, Yesus mengingatkan para murid-Nya agar waspada terhadap ragi orang Farisi, yaitu kemunafikan. Ia berkata bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Pada masa itu, orang-orang Farisi dikenal sebagai kelompok yang sangat memperhatikan Hukum Taurat dan praktik keagamaan. Banyak dari mereka sungguh berusaha hidup setia kepada Allah. Namun, Yesus mengkritik kemunafikan ketika ketaatan lahiriah tidak disertai ketulusan hati. Sementara itu, para murid Yesus hidup di tengah masyarakat yang memiliki hierarki sosial dan kekuasaan politik Romawi. Mengikuti Yesus dapat membawa risiko penolakan, tekanan, bahkan penganiayaan. Karena itu, peringatan Yesus bukan sekadar teguran moral, tetapi juga penguatan agar para murid tidak mengorbankan kebenaran demi keamanan atau penerimaan manusia.


Kita tidak perlu terlalu dikuasai oleh ketakutan terhadap penilaian manusia. Yesus bahkan berkata agar kita tidak takut kepada mereka yang hanya dapat membunuh tubuh. Yang terutama adalah menghidupi hukum kasih. Jika burung pipit yang kecil saja diperhitungkan Tuhan, terlebih lagi kita, manusia ciptaan-Nya tentu keberadaan kitapun diperhitungkan oleh-Nya. Marilah belajar hidup apa adanya di hadapan Tuhan dan sesame. Marilah belajar jujur tanpa kemunafikan. Iman yang sejati tidak membutuhkan topeng. Hati yang terbuka kepada Roh Kudus akan memberanikan kita untuk hidup jujur, melakukan yang benar, dan tetap setia meskipun tidak selalu mendapat pengakuan dari manusia.


Bahan refleksi hari ini: Apa yang dapat saya lakukan hari ini untuk hidup lebih jujur dan tulus di hadapan Allah?


🌿Selamat beraktivitas✨Tuhan mengasihi😇 [CA]

Scroll to Top