🕊 Sapa Jiwa CM 🕊
Kamis Pekan Biasa XXVIII, 15 Oktober 2026
PW. St. Teresia dari Yesus, Perawan & Pujangga Gereja
Efesus 1:1-10 | Lukas 11:47-54
”Dengan kasih, Allah telah menentukan kita menjadi anak-anak-Nya oleh perantaraan Yesus Kristus sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dianegerahkan-Nya kepada kita dalam Dia yang dikasihi-Nya.” (Efesus 1:5-6)
Dipanggil untuk Hidup dalam Kasih dan Kebenaran
Dalam kehidupan sehari-hari, ada begitu macam tuntutan yang seakan datang dari berbagai arah. Tuntutan pekerjaan, persoalan keluarga, penilaian orang lain, dan berbagai kekhawatiran dapat membuat hati kita kehilangan kedamaian dan ketenangan. Terkadang tanpa sadar, kita berusaha memenuhi harapan banyak orang, bahkan rela membohongi diri yang terbatas, hingga lupa arah dan dasar hidup kita, manusia yang hidup di dunia ini.
Dalam surat kepada jemaat di Efesus, Santo Paulus mengingatkan bahwa Allah telah memilih kita sejak sebelum dunia ada dan kita dijadikan di dalam Kristus. Dia juga yang mengaruniakan berkat rohani kepada kita. Kita dipanggil untuk hidup dalam kasih dan menjadi bagian dari rencana keselamatan-Nya. Kesadaran bahwa kita dikasihi dan keberadaan kita diperhitungkan Allah menjadi dasar yang kokoh agar kita tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi kesulitan. Nilai diri kita tidak semata-mata ditentukan oleh keberhasilan, pujian, atau penerimaan orang lain, melainkan oleh kasih Allah yang terlebih dahulu menjangkau kita.
Dalam Injil, Yesus menegur para ahli Taurat yang membangun makam bagi para nabi, tetapi tidak belajar dari kebenaran yang para nabi wartakan. Mereka menghormati para nabi secara lahiriah, tetapi justru menolak utusan Allah yang hadir di tengah mereka. Hal ini mengingatkan kita bahwa iman bukan sekadar pengetahuan atau penampilan religius. Iman menuntut hati yang terbuka, keberanian menerima kebenaran, dan kesediaan untuk berubah.
Teladan Santa Teresia dari Yesus atau yang juga dikenal sebagai Santa Teresa dari Ávila, menunjukkan bagaimana seseorang dapat tetap teguh dalam perjalanan rohani di tengah berbagai tantangan. Melalui doa batin dan persahabatan yang mendalam dengan Kristus, ia belajar menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. “Solo Dio, basta!” (hanya Tuhan saja sudah cukup). Keteguhannya tidak bertumpu pada pujian manusia, tetapi pada relasinya dengan Allah.
Kita pun dipanggil untuk memiliki akar iman yang kuat. Ketika hidup terasa berat dan berbagai suara membuat kita bimbang, kita dapat kembali kepada Tuhan dalam doa. Kita percaya bahwa Allah mengenal kita lebih dalam daripada kita mengenal diri sendiri dan tetap menyertai perjalanan kita.
Keteguhan iman bukan berarti kita tidak pernah merasa takut atau goyah, melainkan tetap berpegang pada kasih dan kebenaran Tuhan ketika segala sesuatu terasa tidak pasti. Seperti Santa Teresia, marilah kita membangun persahabatan dengan Kristus agar hati kita tetap kuat dan hidup kita menghasilkan buah kasih bagi sesama.
Bahan refleksi: Bagaimana saya dapat tetap setia kepada Tuhan ketika menghadapi kesulitan?
🌿Selamat beraktivitas✨Tuhan mengasihi😇 [CA]

