Sapa Jiwa CM Edisi 13 Oktober 2026

🕊️ Sapa Jiwa CM 🕊️
Selasa Pekan Biasa XXVIII, 13 Oktober 2026
Galatia 4:31b-5:6 | Lukas 11:37-41

”Sabda Allah itu hidup dan penuh daya, menguji segala pikiran dan maksud hati.” (Ibr 4:12)

Berakar dalam Kasih Kristus
Dunia saat ini adalah dunia yang cenderung memperhatikan penampilan dan penilaian orang lain. Coba kita tengok di sosial media saat ini. Hanya segelintir orang menggunakan sosial media dengan bijak dan benar. Sedangkan sejumlah besar orang cenderung flexing atau mengejar pencitraan semata untuk terlihat baik, terlihat sudah bekerja keras, bahwa hidupnya tanpa kesulitan berarti dan semua baik adanya. Ketika datang kritik atau disalahpahami, segera cepat-cepat membela diri, membuat klarifikasi, menjelaskan segala sesuatu yang justru memperkeruh suasana, bahkan mempersiapkan berbagai jawaban agar orang lain tidak memandang kita secara negatif. Tanpa disadari, kebutuhan untuk mendapat pengakuan dapat membuat hati gelisah dan merampas kebebasan batin. Itulah dunia saat ini.
Dalam Injil hari ini, Yesus pun menegur seorang Farisi yang lebih memperhatikan kebersihan lahiriah daripada keadaan hatinya. Yesus mengingatkan bahwa penampilan yang baik tidak selalu mencerminkan hati yang bersih. Allah tidak hanya melihat apa yang kita tunjukkan kepada dunia, tetapi Dia lebih suka melihat motivasi, pikiran, dan isi hati yang hidup di dalam diri kita. Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah bagaimana kita terlihat di mata manusia, melainkan bagaimana kita hidup di hadapan Tuhan.
Santo Paulus dalam surat kepada jemaat di Galatia menegaskan bahwa Kristus telah memerdekakan kita. Kita tidak perlu kembali menjadi hamba bagi ego, keserakahan, atau kebutuhan untuk selalu mendapat pengakuan. Kebebasan sejati bukan berarti kita tidak peduli terhadap nasihat orang lain, melainkan kita tidak membiarkan penilaian manusia menentukan seluruh nilai diri dan arah hidup kita.
Memiliki hati yang berakar semakin dalam pada kasih Yesus adalah utama dari segala sesuatu. Ketika membiarkan Tuhan bertahta dalam hati kita, maka kita tidak mudah kehilangan arah hanya karena tidak mendapat pujian atau persetujuan. Karena ada kasih dalam hati, kita dapat menerima koreksi dengan rendah hati, membela kebenaran tanpa kebencian, dan tetap melakukan kebaikan meskipun tidak dihargai. Kebebasan Kristiani bertumbuh ketika kita tidak lagi hidup demi terlihat baik, tetapi berani menjadi pribadi yang berakar dalam kasih Kristus.
Bahan refleksi hari ini: Seberapa besar penilaian orang lain mempengaruhi ketenangan dan keputusan saya? Ketika dikritik, apakah saya lebih sibuk membela diri atau bersedia memeriksa hati? Bagaimana saya dapat tetap teguh dalam kasih Kristus tanpa bergantung pada pujian manusia?
🌿Selamat beraktivitas✨Tuhan mengasihi😇 [CA]

Scroll to Top