Sapa Jiwa CM Edisi 15 September 2026

🩷 Sapa Jiwa CM 🩷
Selasa Biasa XXIV, 15 September 2026
Pw. SP. Maria Berdukacita
1Kor.12:12-14.27-31a; Luk.7:11-17

Lukas 7:11-17
Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” […]

Rombongan Kehidupan

Hari ini penginjil Lukas mengisahkan peristiwa kehidupan. Ada dua rombongan yang saling berpapasan di gerbang kota Nain. Rombongan pertama adalah Yesus, para murid, dan kerumunan orang yang menyertai-Nya. Mereka kita sebut saja rombongan pembawa kehidupan. Rombongan kedua adalah rombongan kematian, yaitu iringan-iringan jenazah seorang muda yang terdiri dari seorang janda ibu dari pemuda yang meninggal itu disertai orang banyak yang melayat. Rombongan ini dilingkupi kesedihan dan kematian.

Dikisahkan bahwa Yesus tergerak hati-Nya ketika melihat janda yang menangis sedih karena kehilangan anak tunggalnya. Ia menghampiri janda itu menghibur dan meyakinkannya, serta membangkitkan anak muda yang mati itu.

Perjumpaan dua rombongan itu menjadi tantangan reflektif bagi kita saat ini. Dalam keseharian, kita sering dihadapkan pada pilihan: mau menjadi bagian dari rombongan yang mana? Apakah kita menjadi bagian rombongan pembawa “kematian”, yang bentuknya bisa menyebarkan gosip, keputusasaan, kemarahan, iri-dengki, benci dan dendam? Atau, kita mengikuti Yesus menjadi bagian rombongan pembawa “kehidupan”, yang membawa pengharapan, penghiburan, penguatan, pencerahan, damai dan sukacita?

Semangat pagi. Tuhan memberkati!**NW

Scroll to Top