Misa Awal Tahun Akademik 2026/2027: Diperbarui dalam Kristus, Bertumbuh dalam Kasih

Mengawali langkah dan semangat di tahun akademik 2026/2027, Universitas Atma Jaya Yogyakarta menyelenggarakan Perayaan Ekaristi yang dilaksanakan pada Senin, 7 September 2026, bertempat di Hall Student Center, Gedung Slamet Rijadi, Kampus 2. Kesempatan ini menjadi kesempatan penuh rahmat bagi seluruh sivitas akademika Universitas Atma Jaya Yogyakarta untuk bersyukur dan memohon penyertaan Tuhan memulai berbagai dinamika serta aktivitas akademik di tahun akademik yang baru. Perayaan Ekaristi ini dihadiri oleh jajaran rektorat, para dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa. Misa dipimpin oleh Rm. Markus Nur Widipranoto, Pr didampingi  oleh Rm. Kamilius Demo Bakang, SVD sebagai konselebran.

Dalam bacaan Injil pada perayaan Ekaristi ini mengisahkan peristiwa Yesus masuk ke rumah ibadat pada hari Sabat dan mengajar di sana. Pada saat itu ada seorang yang mati tangan kanannya. Kehadiran Yesus diamati oleh para Ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang mencari-cari alasan untuk menyalahkan Yesus. Mengetahui pikiran picik mereka, Yesus tegas bertanya kepada banyak orang mengenai apa yang diperbolehkan pada hari Sabat: berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa atau membinasakannya. Tanpa ragu, Yesus menyuruh orang sakit itu mengulurkan tangannya yang menyembuhkan dia. Tindakan Yesus  itu memicu amarah dari orang-orang Farisi.

Bertolak dari bacaan Injil tersebut, Romo Markus Nur Widipranoto Pr dalam homilinya mengaitkannya dengan realitas kehidupan kampus yang sangat relevan. Tangan kanan disimbolkan sebagai representasi kekuatan, otoritas, serta harapan. Berangkat dari pemaknaan ini, seluruh sivitas akademika Universitas Atma Jaya Yogyakarta  diharapkan mampu menjadi ruang perjumpaan dimana tangan kanan yang dipulihkan guna membangun masa depan. Dalam misinya memastikan agar tidak ada tangan kanan yang dibiarkan lumpuh, para dosen diajak untuk tidak sekadar menjalankan rutinitas mentransfer ilmu pengetahuan. Para pendidik justru dipanggil untuk menjadi perpanjangan tangan Yesus. Mereka didorong untuk senantiasa mengulurkan tangan dan memastikan tidak ada satupun mahasiswa yang merasa tertinggal atau lumpuh dalam perjalanan akademiknya.

Proses pemulihan ini juga tidak lepas dari komitmen bersama dalam membangun kemanusiaan dan peradaban kasih, seluruh sivitas akademika diundang terus terbuka untuk diperbaharui dalam Kristus melalui peristiwa harian dalam perjuangan menjamin mutu pendidikan yang unggul, namun tuntutan tersebut tidak boleh sampai menanggalkan kepekaan humanitas. Oleh karenanya, para dosen ditantang memandang serta menemani mahasiswa secara utuh sebagai seorang pribadi. Pesan senada juga ditujukan bagi para mahasiswa. Masa perkuliahan hendaknya tidak hanya dihabiskan untuk sekadar mengejar angka Indeks Prestasi Kumulatif yang tinggi. Mahasiswa diajak untuk terus mengasah nurani, membentuk karakter, dan menjadi pribadi yang siap melayani sesama dalam terang kebenaran.

Pada akhirnya, seluruh dinamika pembelajaran, pengajaran, dan pelayanan di kampus harus bermuara pada panggilan untuk memiliki integritas yang kokoh. Berkaca pada keteguhan hati dan keberanian Yesus yang tetap memilih berbuat baik meski diintai kesalahan oleh kaum Farisi, seluruh elemen kampus dipanggil untuk berani bersikap serupa, yaitu memilih tindakan yang jujur, berpijak teguh pada kebenaran, dan berani mengambil keputusan yang mampu menyelamatkan kemanusiaan di atas kepentingan apa pun.

Menutup renungannya yang menggugah hati umat, Romo Markus Nur Widipranoto Pr. memberikan pesan perutusan yang sangat relevan. “Mari saling mengulurkan tangan, dan mampu bersinergi, memasuki tahun ajaran baru dengan semangat pelayanan yang menyembuhkan dan menghidupkan”. Melalui Ekaristi ini, Universitas Atma Jaya Yogyakarta kembali memantapkan langkahnya sebagai institusi yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan integritas.

Dengan semangat “saling mengulurkan tangan”, seluruh civitas akademika Universitas Atma Jaya Yogyakarta diajak memasuki tahun akademik baru dengan hati yang terbuka dan komitmen untuk terus bertumbuh bersama. Ekaristi menjadi momentum untuk meneguhkan kembali panggilan universitas dalam menghadirkan pendidikan yang unggul sekaligus berakar pada kemanusiaan, pelayanan, dan integritas. Dari ruang perjumpaan inilah, perjalanan akademik yang baru dimulai bukan hanya untuk mencapai keberhasilan, tetapi juga untuk menjadi pribadi yang mampu menghadirkan kehidupan dan kebaikan bagi sesama.

Scroll to Top