🕊 Sapa Jiwa CM 🕊
Senin Pekan Biasa XXV, 21 Sep 2026
Pesta St. Matius, Rasul & Penulis Injil
Efesus 4:1-7.11-13 | Matius 9:9-13
…Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera: Satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu; satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, yang di atas semua, menyertai semua dan menjiwai semua…
Dipanggil untuk Bertumbuh dan Membangun Tubuh Kristus
Bacaan pertama dalam liturgi hari ini mengajak kita kembali merenungkan setiap orang memiliki panggilan yang berbeda. Panggilan itu bermacam-macam. Ada yang menghayati panggilan sesuai profesi yang dijalani saat ini namun juga ada yang menghayati panggilan atas keputusan yang dibuat dengan sadar yang memiliki tujuan membawa kebaikan bagi sekitar. Panggilan hidup yang kita jalani ini juga merupakan sebuah panggilan untuk senantiasa mencerminkan kasih Kristus di tengah pergulatan hidup sehari-hari.
Dalam surat kepada umat di Efesus, Santo Paulus menekankan pentingnya kejujuran, kelembutan & kerendahan hati, kesabaran, dan kasih dalam menjalankan panggilan kita. Kita semua adalah bagian dari satu tubuh dan dipersatukan oleh satu Tuhan, satu iman, dan satu baptisan. Oleh karena itu, “karunia” yang berbeda-beda tidak seharusnya menjadi alasan enggan untuk bekerja sama, melainkan kesempatan untuk saling belajar dan melengkapi.
Kita juga bisa belajar dari Santo Matius yang dipestakan oleh Gereja Semesta hari ini. Matius bukanlah pribadi yang sejak awal tampak sempurna atau punya banyak kemampuan. Ia adalah seorang pemungut cukai yang hidupnya bahkan dukucilkan, dicap orang berdosa, dipandang negatif oleh masyarakat Yahudi saat itu. Namun, ketika Yesus memanggil Matius untuk mengikuti-Nya, ia berani meninggalkan kehidupan lamanya dan mengikuti Yesus. Dari seorang yang mungkin dianggap tidak layak di mata banyak orang, Matius kemudian menjadi rasul dan pewarta Injil bagi banyak orang. Maka semoga kita semakin sadar bahwa karunia yang kita miliki bukan semata-mata untuk kebanggaan pribadi. Allah memberikannya supaya kita dapat melayani dan membantu sesama bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih.
Bahan refleksi: “Apa karunia yang Tuhan percayakan dalam hidupku? Dan apakah karunia yang kumiliki saat ini sudah menjadi berkat bagi orang lain? Semoga kita semakin dewasa dalam iman dan bersama-sama bertumbuh menuju kepenuhan Kristus.🌿 Selamat beraktivitas ✨ Tuhan mengasihi 😇 [CA]

