Senin Paskah III, 20 April 2026
Kis.6:8-15; Yoh.6:22-29
Yohanes 6:22-27
Pada keesokan harinya […] Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” […]
Mencari Yesus, Sungguhkah!?
Mengikuti Yesus itu tidak sekedar ubyang-ubyung, ikut-ikutan, mencari dan datang kepada-Nya hanya saat butuh saja. Mengikuti Yesus adalah menjalin relasi kasih dengan-Nya.
Mengikuti Yesus bukan untuk mencari keajaiban dan sekedar kepuasan rasa bahkan batin. Mengikuti Yesus adalah pilihan dan keputusan untuk menjalin kasih yang bertanggung jawab dengan-Nya.
Kalau mengikuti Yesus dan datang kepada-Nya saat butuh saja, itu sama saja hanya berpusat pada diri sendiri. Itu egois dan egosentris namanya. Sehingga, kalau tidak sesuai dengan kehendak diri, akan dengan gampang mengatakan, “Tuhan tidak sayang sama aku. Tuhan tidak mengabulkan permohonanku. Tuhan malah bikin aku tambah capek … dsb.”
Seperti layaknya sepasang kekasih atau sepasang suami-istri, mereka saling datang bukan sekedar butuh tetapi karena relasi kasih yang dijalin. Relasi kasih itu kalau hanya didasarkan pada rasa butuh saja, rasa senang atau suka tidak suka saja, maka akan rapuh dan gampang goyah lalu putus. Demikian juga dengan Yesus, ini adalah jalinan kasih.
Jalinan kasih didasarkan pada rasa dan sikap percaya, seperti dikatakan Yesus pada akhir bacaan Injil hari ini, “Inilah yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia (Yesus) yang diutus Allah.”
Percaya berarti menaruh pusat hidup bukan pada diri sendiri atau ego diri, tetapi kepada Yesus Tuhan. Percaya berarti menyerahkan diri kepada Yesus untuk mau dibentuk dan diubah sesuai nilai-nilai Kristus. Buahnya adalah damai dan bahagia sejati yang memenuhi hidup.
Semangat pagi. Tuhan memberkati!**NW



